
Tuan Bowo memberikan sebuah cermin berukuran sedang, hanya sekitar 11 × 13 cm saja ukurannya. Dengan ukiran aksara jawa kuno, yang Pelita sendiri tidak mampu membaca aksara jawa tersebut.
"Hanya ini yang kamu perlukan nak Pelita?" tanya tuan Bowo.
Pelita pun mengangguk cepat.
"Iya tuan, terimakasih banyak!" kata Pelita yang merasa sangat bersyukur dia mendapat apa yang dia butuhkan.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu nak Pelita. Kamu membawa anakku dan Asmarani kembali, meskipun Attar... !" tuan Bowo terdiam sejenak.
Kehilangan Attar masih sangat melukai perasaannya.
"Tapi ini semua memang salahku, seandainya aku lebih mempercayai Asmarani dulu. Semua tidak akan begini. Semua tidak akan begini!" sesal tuan Bowo.
Namun mau bagaimana pun, penyesalan tuan Bowo tak akan membawa Attar kembali. Pelita juga tidak mau banyak bicara, karena dia juga merasa dirinya belum pantas melakukan semua itu. Memberi nasehat kepada orang yang lebih tua.
Hari sudah menjelang dini hari, tuan Bowo menawarkan Pelita dan Panji untuk tinggal dan istirahat. Namun Panji dan Pelita menolak. Karena Carolina mengatakan kepada Pelita untuk segera pergi dari sana. Akan ada bahaya yang datang kalau Pelita tetap di sana hingga waktu subuh.
Carolina berkata lewat batin pada Pelita, kalau mereka harus pergi dari desa itu sebelum subuh. Dan saat subuh mereka sudah harus keluar dari sana. Atau bahaya itu akan menemukan Pelita dan Panji.
Setelah urusan mereka selesai, Panji dan Pelita pun pergi dari sana. Pelita meminta Panji agar cepat memacu kendaraannya agar mereka keluar dari desa itu sebelum subuh.
Panji pun mengikuti instruksi sang adik. Karena dia yakin apa yang di katakan Pelita, demi keselamatan mereka juga.
Hingga subuh menjelang, akhirnya Pelita dan Panji sudah berada cukup jauh dari desa Umbul Petang. Pelita ingin menoleh ke arah belakang, namun buru-buru dia mendengar suara Carolina.
'Jangan, menoleh ke belakang Pelita. Jangan!'
__ADS_1
Mendengar suara Carolina itu, Pelita pun urung menoleh ke arah belakang. Dia memejamkan matanya dan menyebutkan kalimat istighfar dalam hatinya sambil memeluk pinggang Panji dengan erat.
Sementara itu di lokasi gubuk tua yang sudah hangus menjadi abu.
Brakkkkk
Sebuah pohon beringin besar dekat gubuk tua itu hancur dan pecahan kayunya terbang ke segala arah.
"Siapa yang berani mengacaukan semua rencanaku?" pekik sebuah suara yang begitu berat dan melengking.
Dua makhluk berjubah merah hanya mampu diam dan menunduk. Pohon beringin besar itu tingginya sampai sepuluh meter lebih dan diameternya saja setara dengan di peluk oleh sepuluh orang dewasa. Dan pohon itu hancur begitu saja hanya dengan satu gerakan tangan makhluk hitam di depan mereka. Tentu keduanya sangat ketakutan.
"Bagaimana bisa mahkluk api yang sudah ratusan tahun di kalah kan. Bahkan Mbah Jito saja bertekuk lutut, siapa manusia yang sudah mengalahkan nya?" seru mahkluk hitam itu seperti menjerit melengking dan memekakkan telinga semua orang yang mendengarnya.
"Agkhhh!" pekik mahkluk hitam yang ternyata adalah Mak Kondang.
Ketika salah satu anak buahnya terbang melewati rumah tuan Bowo, dia melihat arwah baru di atas sebuah pohon nangka sedang menangis dengan leher yang nyaris putus. Arwah itu memakai pakaian putih dengan noda hitam hampir di seluruh pakaiannya. Dan kepalanya miring ke kiri karena mang nyaris putus.
Makhluk merah anak buah Mak Kondang lantas menghampiri mahkluk tersebut untuk di jadikan sekutunya.
"Hei, daripada menangis di sini. Ikut saja dengan ku, kita buat manusia-manusia yang sudah menyakiti mu menderita!" seru mahkluk merah itu.
"Huhu... huhu... aku tidak mau, tidak ada yang membuatku menderita. Aku mau di sini. Aku mau menunggu anakku menjemput ku... huhu... huhu... Attar anakku... jemput ibu nak... huhuhu...!"
Arwah wanita itu terus menangis. Dan terus memanggil nama anaknya untuk menjemputnya. Makhluk merah itu pun lantas menggelengkan kepalanya. Dia memilih pergi saja, karena hantu yang tidak punya dendam dan hanya putus asa seperti itu juga tidak akan banyak berguna untuk di jadikan sekutu. Mereka tidak akan menghasut manusia untuk berbuat jahat.
Sementara hantu wanita yang kepalanya nyaris putus itu terus menangis. Hingga suara ayam berkokok datang. Setelah itu dia menghilang begitu saja dari pohon nangka di samping rumah tuan Bowo.
__ADS_1
Arwah itu adalah arwah Santi, hantu yang tak bisa naik ke alam atas karena dia bunuh diri. Sementara Attar, dia bahkan dengan mudahnya langsung naik ke alam atas. Arwah Santi tetap menunggu di sana, di sebuah pohon yang masih kosong tak berpenghuni, untuk menunggu Attar menjemputnya. Padahal itu sama sekali tidak akan pernah terjadi.
Sementara itu, Pelita dan Panji bersyukur hari sudah pagi. Dan mereka pun mampir ke sebuah kedai bubur ayam yang sebenarnya tak jauh dari kota tempat tinggal mereka.
Panji sangat lapar, karena kemarin mereka bahkan hanya makan roti saja. Dia juga agak mengantuk, karena mereka memang belum istirahat sama sekali sejak kemarin.
Jadi untuk menghindari hal-hal buruk yang bisa terjadi akibat perut lapar dan mata mengantuk. Panji mengajak Pelita untuk sarapan bubur ayam dulu. Lagipula, mereka sudah sangat jauh dari desa Umbul Petang. Sudah hampir satu jam perjalanan.
Panji memesan dua mangkuk bubur ayam dan dua teh manis hangat. Mereka berdua benar-benar membutuhkan itu. Setelah pesanan mereka jadi, mereka pun membaca doa dan makan bubur tersebut.
Namun ketika mereka sedang makan, Pelita tak sengaja melihat seorang wanita muda sambil menggandeng anaknya yang sedang mengantri membeli bubur ayam di tempat itu, memiliki aura yang sama seperti yang pernah dia lihat pada ketiga orang siswa yang pertama kali menjadi kasusnya sejak mata batinnya terbuka.
Tangan kanan Pelita langsung menggenggam erat pergelangan tangan Panji. Membuat Panji yang sedang serius makan langsung menoleh ke arah adiknya itu.
Melihat wajah pelita yang pucat dan melihat ke satu arah.
Panji pun langsung mengikuti arah pandangan Pelita. Panji melihat seorang wanita muda yang menggandeng anak kecil tersebut. Tapi menurut Panji tidak ada yang aneh dengan wanita itu.
"Ada apa?" tanah Panji penasaran.
"Bang, auranya sama seperti ketiga siswa yang waktu itu. Bang, kita ikuti mereka ya?" tanya Pelita pada Panji.
Meskipun sebenarnya Panji lelah, tapi dia juga merasa kalau bisa menyelamatkan wanita itu maka itu adalah hal baik. Panji lantas langsung membayar makanan mereka. Lalu bersama Pelita menunggu di dekat sepeda motornya, menunggu wanita itu selesai mendapatkan pesanan buburnya.
***
Bersambung...
__ADS_1