Pelita

Pelita
Bab 19


__ADS_3

Pelita sudah membaik sepertinya, dia sudah mau mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke sekolah.


Awalnya Anisa mengatakan kalau sebaiknya Pelita di rumah saja dulu. Tapi karena Pelita merasa sudah baik-baik saja. Maka Anisa mengijinkan Pelita untuk pergi ke sekolah.


Selesai sarapan, Pelita naik lagi ke lantai dua untuk mengambil tas sekolah di kamarnya.


Panji yang masih bersama dengan Anisa di meja makan pun menggeser kursinya ke dekat Anisa.


"Ada apa bang?" tanya Anisa.


"Ma, tadi polisi menelepon Panji. Katanya Panji di suruh datang ke kantor polisi karena kasus yang kemarin itu, kasusnya Tia akan di tutup karena saksi kunci sudah meninggal!" kata Panji.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un!"


Sahut Anisa, namun Panji langsung kembali berkata.


"Yang Panji heran dan bingung bukan itu ma, tapi apa yang di katakan oleh petugas polisi itu sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Pelita. Boy meninggal jam 01.15 sini hari!" jelas Panji.


Anisa juga langsung terkejut, reaksi yang sama seperti saat Panji mendengar sendiri dari polisi tentang waktu kematian Boy.


Anisa langsung terdiam.


"Astaghfirullah! kasihan sekali Pelita. Ini pasti jadi beban yang berat baginya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Pelita?" tanya Anisa yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Ma, Pelita berangkat ya. Ayo bang!" ajak Pelita yang sudah menuruni anak tangga terakhir.


Panji pun langsung berdiri dan meraih tasnya.


"Ma, Panji berangkat ya. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Assalamualaikum ma!" kata Pelita sambil melambaikan tangannya pada Anisa.


"Waalaikumsalam nak!"


Anisa melambaikan tangan nya pada Pelita namun dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Allah, lindungi kedua anakku. Amin!"


***


Beberapa jam perjalanan kemudian, Tommy pun sampai di depan rumah sepupunya ustadz Usman.


Tommy tahu sebenarnya ini masih sangat pagi untuk bertamu. Ini masih sekitar jam 7 pagi. Namun kecemasan nya terhadap Pelita, membuat Tommy merasa lebih cepat mengetahui apa yang terjadi pada anaknya itu maka akan lebih baik.

__ADS_1


Tommy cepat-cepat turun dari dalam mobil. Lalu berjalan dengan cepat menuju ke sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas itu.


"Assalamualaikum!"


Seru Tommy sambil mengetuk perlahan pintu rumah Ustadz Usman yang masih tertutup.


"Waalaikumsalam!"


Terdengar sahutan dari dalam.


Ceklek


"Paman Tommy!" kata Angga, anak sulung ustadz Usman.


Angga langsung menyalami pamannya itu, dan mencium punggung tangan Tommy.


"Silahkan masuk paman!" kata Angga yang juga memakai seragam sekolah.


"Terimakasih, ayahmu ada di dalam?" tanya Tommy sambil mengikuti Angga masuk ke dalam rumah ustadz Usman.


"Ada paman, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu paman!" kata Angga dengan sangat sopan.


"Assalamualaikum!" sapa Salamah, istri ustadz Usman.


"Waalaikumsalam, kak Salamah!" sahut Tommy yang kemudian berdiri.


"Alhamdulillah kak, semua sehat!"


"Alhamdulillah!"


"Tommy!"


Tommy kembali berdiri lalu menyalami sepupunya yang lebih tua darinya itu.


"Ayo duduk, bagaimana kabarmu. Sudah sarapan belum?" tanya ustadz Usman.


Tommy pun jadi tidak enak, karena memang dia datang terlalu pagi.


"Alhamdulillah belum mas, aku juga minta maaf ini mas Usman, kak Salamah. Datang pagi-pagi begini. Tapi ini benar-benar mendesak!" kata Tommy dengan raut wajah serius.


Ustadz Usman pun mengangguk paham.


"Ada apa?" tanya ustadz Usman.


"Ini tentang Pelita mas!"

__ADS_1


"Pelita kenapa? bukannya dia sudah sehat kata Anisa. Pelita tidak apa-apa kan?" tanya Salamah yang terlihat panik begitu Tommy menyebutkan nama Pelita.


"Sebenarnya fisiknya sudah pulih dan sehat kak, mas. Tapi akhir-akhir ini Pelita sering.. bagaimana ya menjelaskannya. Pelita itu sering mendapatkan mimpi yang aneh, dia terkadang terlihat sangat sedih, sangat takut. Seperti mendapat vision!" jelas Tommy yang membuat Usman dan Salamah saling pandang.


"Dan maksud kedatangan ku kesini mas, kak. Aku mau minta tolong mas Usman!" kata Tommy yang sudah di mengerti oleh Usman dan Salamah.


Usman mengangguk paham.


"Baiklah, kita berangkat dari sini jam 9 nanti ya. Sekarang sebaiknya kamu sarapan dulu. Ayo!" kata Usman.


Tommy pun mengangguk setuju, dia dan Usman pun pergi ke ruang makan untuk sarapan.


***


Sementara itu, Panji sudah berada di kantor polisi. Dia tadi meminta ijin pada wali kelasnya untuk pergi ke kantor polisi sebentar. Panji menunjukkan nomer polisi yang tadi menghubungi nya. Dan setelah wali kelasnya bicara dengan polisi tersebut. Wali kelas Panji akhirnya mengijinkan Panji ke kantor polisi dan meninggalkan kelas untuk sementara.


Setelah menandatangani sebuah dokumen, Panji pun di persilahkan pulang oleh petugas polisi. Namun kakinya berhenti begitu akan meninggalkan ruangan petugas itu setelah dia mendengar beberapa orang polisi sedang bersiap-siap untuk ke tempat kejadian perkara sebuah kejadian yang aneh kata mereka.


"Iya, semuanya meninggal seperti tercekik. Matanya mendelik ke atas, dengan lidah terjulur. Mereka mabuk, tapi sepertinya bukan over dosis. Ini benar-benar aneh!" kata polisi yang sedang merapikan meja kerjanya dan memakai jaket.


"Dan katanya juga mereka itu anak motor, salah satunya di ketahui adalah teman anak motor yang meninggal semalam, yang kasusnya di tutup itu!" sahut temannya yang sedang merapikan persenjataannya.


"Jangan-jangan mereka pelaku penganiayaan gadis malang itu?" tanya petugas yang sudah Makai jaketnya dengan rapi.


"Ini aneh, tapi kalau benar. Artinya mereka dapat karma instan! dan hukumannya nyawa di balas nyawa. Terdengar mengerikan!"


Panji langsung melangkah perlahan meninggal kantor polisi. Entah kenapa dia kembali ingat apa yang Pelita katakan padanya semalam.


Boy meninggal di cekik arwah Tia. Dan baru saja dia mendengar, beberapa anak motor yang mabuk meninggal juga seperti tercekik.


Panji langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


'Apa yang aku pikirkan, bagaimana mungkin arwah bisa mencekik seseorang. Ini tidak mungkin!'


Panji langsung melangkah cepat meninggalkan kantor polisi setelah merasa apa yang dia pikirkan itu memang tidak masuk akal.


Panji menghidupkan mesin motornya, tapi kemudian dia melihat para petugas tadi yang akan ke tempat kejadian perkara juga pergi dengan motor mereka. Karena penasaran, Panji pun mengikuti mereka.


Tak jauh dari jembatan, tempat dimana mayat Tia di temukan adalah tempat kedua polisi itu menuju. Panji melihat sudah banyak orang berkumpul disana, para warga yang menyaksikan para polisi mengevakuasi beberapa orang yang meninggal dengan cara yang aneh itu.


Panji ikut turun dari motornya dan ikut melihat dari dekat.


Panji langsung terkejut melihat beberapa jaket yang dia rasa sangat familiar.


'Ini tidak mungkin, mereka ini memang anak-anak motor yang balapan di depan sekolah waktu itu. Astaga, apa mungkin yang dikatakan Pelita itu benar. Arwah Tia yang sudah menghabisi mereka semua?' batin Panji yang merasa bulu kuduknya berdiri semua.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2