
Swing
Pelita kembali merasakan tarikan yang amat kuat dari arah belakangnya. Hingga dia berada di suatu malam yang gelap, dimana dia bisa melihat seseorang yang mirip sekali dengan tuan Bowo namun terlihat sangat muda duduk bersama seorang wanita cantik, yang kalau di lihat-lihat lagi mirip dengan wanita yang masuk ke gubuk tua bersama seorang bayi itu.
"Aku akan katakan pada kedua orang tuaku, kita akan menikah. Dan aku akan bertanggung jawab pada anak kita yang sedang kamu kandung itu, Asmarani!" kata pria itu pada wanita yang ada di sampingnya.
Pelita sampai menutup mulutnya tak percaya.
Swing
Pelita kembali tertarik ke arah belakang. Kali ini dia berada di suatu sore, dimana dia berada di sebuah rumah yang tengah di hiasi dengan hiasan-hiasan pernikahan jaman dulu. Banyak janur kuning dimana-mana. Dengan beragam bentuk dan suara musik gamelan juga nyanyian seorang sinden yang begitu merdu dan membahana.
Pelita kembali bisa melihat dari tempatnya berdiri, seorang wanita yang tengah menggendong bayi sedang menangis terisak melihat ke arah pelaminan. Lagi-lagi mata Pelita di kejutkan dengan apa yang dia lihat.
Di atas pelaminan itu, tuan Bowo muda sedang bersanding dengan seorang wanita yang sepertinya adalah Santi. Ibunya Attar. .
Swing
Saat Pelita membuka matanya, dia masih berada di ruang kamar Attar. Dengan tangan memegang lengan Attar yang tertutup kaos lengan panjang itu.
Pelita langsung menarik tangannya dari lengan Attar dan menetralkan pernafasannya.
Sampai di sini sepertinya Pelita sudah mengerti. Nenek di gubuk tua itu, banyak bunga dan asap kemeny4n di tempat itu. Tapi sepertinya semuanya bukan ulah dari nenek itu atau wanita yang bernama Asmarani itu.
"Pelita...!"
"Pelita...!"
Pelita langsung tersadar dari lamunannya ketika dia mendengar suara yang begitu familiar memanggil namanya.
__ADS_1
"Carolina!" gumam Pelita.
"Iya, ini aku. Kamu tidak bisa masuk ke sana. Kami sudah berusaha. Hanya makhluk astral yang punya niat jahat yang bisa masuk. Absoluut ja, kalau aku mengajak Shaka dengan mode jahatnya akan ada malapetaka di sana!"
"Tidak apa-apa, tapi apa kamu lihat apa yang aku lihat tadi?" gumam Pelita tetap mencoba untuk berkomunikasi dengan Carolina.
"Iya, kami lihat. Dan analisa kamu benar, bukan dukun tua itu atau wanita bernama Asmarani, ini adalah perbuatan Raka, anak dari Asmarani dan tuan Bowo. Kami sudah mencari tahu. Satu tahun lalu, wanita bernama Asmarani itu meninggal dan Raka datang ke rumah besar itu untuk menyampaikan pesan terakhir ibunya, wanita bernama Asmarani itu hanya ingin tuan Bowo satu kali saja ziarah ke kuburnya. Namun ketika Raka ke sana, dia malah di usir dan di siksa habis-habisan oleh anak buah dan para pengawal atas perintah Santi. Sejak itu Raka pergi ke gubuk tua itu, mempelajari apa yang di miliki oleh nenek tua itu, semua ilmunya. Dan akhirnya dia menggunakan darahnya untuk memenjarakan separuh jiwa Attar. 100 hari separuh jiwanya tidak kembali, maka Attar akan mati!" jelas Carolina.
"Sudah dulu ya Pelita, tenaga ku melemah. Aku mau charge dulu ya, Tot snel!"
Pelita pun akhirnya memahami semuanya. Sejak awal dia memang sangat tidak menyukai aura yang di keluarkan oleh wanita bernama Santi itu. Tidak terlalu kentara, namun sangat berbau busuk. Itu adalah bau, dimana hari seseorang yang dipenuhi dengan kerakusan, keserakahan, iri, dengki dan tak perduli pada orang lain.
Pelita pun berdiri, dengan langkah perlahan dia berjalan menuju pintu kamar tersebut. Pelita membuka pintu dengan wajah pucat dan tangan gemetar.
"Bagaimana nak? apa Attar bisa di sembuhkan?" tanya tuan Bowo antusias.
Namun Pelita tak langsung menjawab pertanyaan tuan Bowo dan malah melihat ke arah Santi.
"Kenapa menatapku begitu? bisa tidak kamu menyembuhkan anakku, hah?" tanya Santi dengan galak.
"Attar sembuh atau tidak itu tergantung anda nyonya!" seru Pelita dengan tatapan mata tegas dan serius.
Panji yang melihat adiknya itu sampai tidak percaya kalau yang ada di depannya itu adalah Pelita. Gadis di depannya itu seperti tak kenal takut, dan benar-benar serius dengan apa yang dia katakan.
"Apa anda mengenal Asmarani?" tanya Pelita.
Semua orang tampak bingung, tapi tidak dengan Santi dan tuan Bowo tentunya.
"Asmarani?" tanya tuan Bowo takjub.
__ADS_1
Bahkan di rumah ini benar-benar hanya ada dia dan Santi saja yang mengetahui nama tersebut. Dan selama 20 tahun, mereka tak pernah lagi menyebut nama itu di rumah ini. Bagaimana Pelita bisa tahu, itulah yang ada di pikiran Santi dan tuan Bowo.
"Iya nyonya Santi, Asmarani. Wanita yang katanya sudah meninggal saat melahirkan. Itu yang anda katakan pada tuan Bowo kan? padahal kenyataannya tidak sama sekali!" kata Pelita yang terus menatap tajam ke arah Santi.
Panji makin cemas, sebab suara adiknya berubah. Tidak lagi cempreng khas suara Pelita. Melainkan suaranya lebih berat, nyaris seperti suara ibu-ibu.
"Wanita yang menjadi sahabatmu selama belasan tahun, wanita yang menceritakan semua hal tentang Bowo padamu. Kamu menusuknya dari belakang, kamu katakan pada orang tua Bowo anak yang dia kandung bukan anaknya Bowo. Kamu katakan itu anak orang lain, kamu menjebaknya. Kamu merebut Bowo darinya. Tapi dia ikhlas menerima semua hal itu, dia pergi membawa anaknya dengan Bowo sangat jauh!" ujar pelita dengan mata yang sedari tadi belum berkedip.
Panji dan Devano mendekati Pelita, karena sudah sangat merasa aneh dengan apa yang pelita katakan dan cara pelita bicara. Dia tak lagi memanggil tuan Bowo dengan sebutan tuan. Malah hanya memanggil Bowo saja.
"Keinginan terakhir nya hanya ingin Bowo datang ke makamnya, menaburkan bunga dan doa satu kali saja. Namun malah kau pukuli anaknya sampai pingsan!" kali ini Pelita bicara dengan memekik.
Tuan Bowo yang merasa seperti mengenal suara dan karakter Pelita itu langsung mendekati Pelita.
"Rani?" ucap Tuan Bowo dengan mata berkaca-kaca.
Pelita langsung mengalihkan pandangannya dari Santi ke arah tuan Bowo meskipun tanpa berkedip.
"Raka, anakmu Bowo. Dia sakit hati, kamu punya dua anak laki-laki. Bukan satu, bukan hanya Attar. Tapi anakmu itu sudah terlanjur sakit hati, maafkan aku. Tapi Attar tidak akan selamat!"
Pelita berkedip dan akhirnya dia jatuh pingsan. Devano dan Panji yang memang ada di belakang Pelita langsung menangkap tubuh Pelita sebelum jatuh ke lantai.
Tuan Bowo juga ikut terduduk lemas di lantai. Santi yang masih tercengang tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.
"Attar!" teriak Santi yang langsung berlari ke kamar anaknya.
Devano langsung melihat ke arah belakang tuan Bowo. Dia melihat seorang wanita dengan kepang dua mengangguk lalu hilang.
'Maaf Pelita, lebih mudah menjelaskannya kepada tuan Bowo dan yang lain dengan cara seperti ini!' batin Devano yang memang adalah yang membuka celah agar Roh Asmarani bisa masuk ke dalam tubuh Pelita.
__ADS_1
***
Bersambung...