Pelita

Pelita
Bab 43


__ADS_3

Dasimah benar-benar tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Begitu dia memejamkan matanya, bayangan yang lewat ke sana kemari justru membuatnya bertambah gelisah dan ketakutan. Merasa sangat tidak tenang, Dasimah pun akhirnya memilih untuk pindah ke kamar anak-anaknya.


Dia cemas kalau ini adalah suatu pertanda buruk. Dia mengkhawatirkan anak-anaknya. Sebelum pindah ke kamar anak-anaknya, Dasimah juga mencari ponselnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menemukannya meski sudah mencari di sekitar kamarnya. Keringat Dasimah bercucuran, dia mencari ponselnya dengan terburu-buru. Membuatnya jadi tambah ketakutan dan panik sendiri.


Sementara di atas genting, Umbok terlihat jengah melihat apa yang dilakukan Dasimah.


"Dasar manusia, kita sudah tidak mengganggu nya lagi loh. Tapi dia malah begitu takut dan panik sendiri. Kalau begini, manusia yang satu itu tak akan bisa tidur!" ucap Serena yang juga keheranan melihat tingkah Dasimah yang malah masih ketakutan dan berpikiran yang aneh-aneh padahal sejak tadi Umbok dan Serena sudah tidak mengganggunya lagi.


Kalau sebelumnya, memang Serena yang membuka pintu dan mengosongkan air di gentong, lalu membuat teko air yang di pegang Dasimah itu terjatuh. Tapi sejak itu, dia tidak lagi mengganggu Dasimah.


Namun perasaan, naluri manusia sendirilah yang membuat Dasimah masih merasa takut. Secara naluri manusia memang mudah cemas, mudah panik dan mudah takut. Ketika dia sudah mengalami sesuatu hal yang menakutkan dan tak masuk nalar pikiran nya. Maka secara otomatis beberapa orang yang tidak punya kemampuan menenangkan diri mereka sendiri akan secara otomatis mengalami traumatik.


Seperti halnya Dasimah, sebenarnya saat dia memejamkan mata itu sama sekali tidak ada bayangan yang lewat atau apapun itu. Karena bahkan Serena dan Umbok sudah tak lagi mengganggunya. Namun pikiran Dasimah sendiri yang menciptakan bayangan tersebut, apa yang Dasimah pikirkan dan yakini maka hal itu yang akan terjadi di pikiran Dasimah. Dan ketika Dasimah memejamkan matanya maka, hal itu akan terealisasikan dalam pikirannya.


Dasimah sudah ada di kamar anak-anaknya, di tidak perduli lagi dimana ponselnya. Sebab dia sudah merasa sangat panik saat ini. Benar-benar sangat gelisah, sampai dia merasa seolah-olah hal buruk sedang mengincarnya.


Meskipun hal itu benar, namun kegelisahan Dasimah tersebut sampai membuatnya yang bisanya tahu apa yang harus di lakukan saat panik. Jadi lupa semuanya. Seharusnya dia berdoa, berserah diri pada uang maha kuasa. Namun karena panik, dia jadi melupakan semua hal itu.


Dasimah duduk di sebuah kursi yang biasanya di pakai untuk anak sulungnya belajar. Dia melihat ke arah kedua anaknya yang terlihat sudah tertidur sangat pulas. Saat dia melihat ke arah jam di dinding, jam di dinding itu juga sudah menunjukkan pukul 11.45 malam.


Dasimah lantas berusaha untuk menenangkan dirinya dan mengusap perutnya yang mulai terasa sakit karena sejak tadi dia panik dan terus bergerak. Padahal seharusnya ibu hamil itu jam segitu sudah harus istirahat. Ibu hamil memang tidak boleh banyak pikiran dan harus banyak istirahat. Tapi Dasimah malah sangat panik dan t.tudak bisa tidur, jadi Dasimah merasakan perutnya mulai sakit.


"Sebentar lagi!" kata Umbok membuat Serena bersiap untuk segera mengambil janin yang ada di dalam perut Dasimah.


Sementara di jalan, Pelita sudah bisa merasakan perasaannya yang bertambah tidak karuan. Dadanya juga sesak, persis seperti saat Tia tidak bisa di selamatkan.


Pelita sama sekali tidak ingin hal itu terjadi, Pelita tidak ingin kalau sampai istrinya mang Untung mengalami nasib sama seperti Tia.

__ADS_1


Pelita lantas berdoa dalam hatinya, dia bahkan berusaha memanggil leluhurnya empu Yasa.


'Kakek, kalau kakek mendengar ku. Tolong aku kek, tolong beritahu apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyelamatkan istrinya mang Untung kek?' batin Pelita.


Pelita memejamkan matanya ketika merasa matanya begitu berat dan ingin menutup.


"Di depan sana ada sebuah masjid, di depan masjid itu ada tiga buah batu. Lemparkan tiga buah batu itu ke atap rumah dengan membaca kalimat takbir"


Pelita langsung membuka matanya kembali. Tak jauh dari sana, Pelita bisa melihat tiang Alif sebuah masjid. Tepatnya ada di sebelah kanan jalan.


Pelita pun langsung menepuk bahu Panji.


"Bang, kita berhenti di masjid itu sebentar!" kata Pelita.


Panji pun mengangguk, dia lalu memberikan isyarat pada Devano yang ada di belakangnya kalau mereka akan berhenti di depan.


Devano menghampiri Panji, sambil melepaskan helmnya dia bertanya pada Panji.


"Pelita ngapain?" tanya Devano.


Panji pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak tahu, tapi pasti itu akan berguna!" jawab Panji yang selalu percaya pada apapun yang dilakukan oleh Pelita.


Setelah mencari dengan sangat teliti dan hati-hati. Akhirnya Pelita menemukan tiga buah batu yang warnanya berbeda dengan batu yang lain tersebut. Dengan segera Pelita meraih batu itu dengan tangan kanannya.


"Bismillahirrahmanirrahim!" ucapnya sebelum meraih ketiga batu itu bersamaan.

__ADS_1


Setelah mendapatkan batu itu, Pelita pun lanjut menghampiri Panji dan Devano.


"Ayo, kita harus cepat. Ini sudah tengah malam!" kata Pelita.


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah mang Untung.


Sementara itu, Dasimah yang sudah mulai mengantuk pun mulai memejamkan matanya. Namun baru dia akan memejamkan matanya, dia merasakan perutnya terasa sangat amat sakit.


Dasimah lalu memekik dan memegangi perutnya yang benar-benar terasa sangat sakit. Benar-benar sakit.


"Ibu... ibu kenapa?" tanya anak sulung Dasimah yang terbangun karena suara Dasimah.


"Aduh, sakit... aduh... tolong!" pekik Dasimah yang sudah berderaian air mata.


Dasimah sampai jatuh ke lantai karena merasakan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya. Rasanya seperti ada yang memutar perutnya, benar-benar sangat sakit.


"Ibu... ibu..!" anak bungsu Dasimah juga ikut menangis melihat ibunya seperti itu.


Kedua anak Dasimah menangis dan memegangi tangan dan kaki Dasimah.


"Sakit... tolong!" kata Dasimah.


Hanya itu yang bisa dia ucapkan, rasa sakitnya tak bisa lagi membuatnya berpikir untuk mengucapkan doa atau semacamnya. Kedua anak Dasimah yang panik dan ketakutan juga sama, mereka hanya menangis dan terus memanggil ibu dan ibu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2