
Berdasarkan keterangan yang di sampaikan oleh Martin. Akhirnya pihak sekolah di bantu para warga melakukan pencarian di sekitar sungai tersebut. Karena mereka khawatir kalau Edo dan Tosa sebenarnya juga tenggelam di dalam sungai tersebut.
Apalagi, ketika pihak sekolah menghubungi keluarga Edo dan juga Tosa. Pihak keluarga dari dua orang siswa tersebut mengatakan kalau Edo dan Tosa tadi pagi berangkat ke sekolah bersama dengan Martin.
Pihak keluarga juga sedang menyusul ke tempat kejadian tersebut, Martin yang di bawa oleh kepala sekolah, guru BK, dan guru agamanya sangat syok ketika berada di tempat di mana dia ditemukan itu.
Martin masih tidak mempercayai perkataan warga dan para gurunya. Kalau memang dia ditemukan hampir tenggelam di sungai tersebut. Martin, siswa kelas 11 itu masih yakin dengan apa yang dia pikirkan, dia yakin kalau dirinya tidak pernah berada di tempat itu sebelumnya.
Sampai sekarang warga, menyerahkan sebuah rekaman ketika para warga menyelamatkan Martin. Ternyata pada saat Martin diselamatkan yang hampir tenggelam itu ada seorang warga yang merekamnya di ponsel pintarnya.
Setelah melihat rekaman tersebut, Martin baru percaya kalau memang dirinya ditemukan hampir tenggelam di sungai tersebut.
"Jadi Edo dan Tosa juga...!"
Ucapan Martin terhenti, tenggorokannya terasa tercekat bak tak bisa mengeluarkan suara apapun lagi, dirinya begitu terpukul, begitu terkejut dengan kejadian yang menimpanya dan kedua orang temannya tersebut.
Panji yang baru pulang sekolah juga mendapatkan kabar kalau ada tiga orang siswa yang berasal dari sekolah yang sama dengannya mengalami kejadian yang tidak baik di sungai dekat sekolah mereka.
Panji yang penasaran pun, mengajak Pelita untuk melihat ke tempat itu dulu, sebenarnya arah jalan pulang ke rumah mereka akan lebih jauh jika melewati jembatan karena jalannya akan memutar. Tapi karena Panji merasa penasaran dia pun mengajak adiknya lewat di sana, dan karena memang Pelita ingin melihat sebenarnya apa yang terjadi di tempat itu ia pun setuju dengan kakaknya.
Begitu sepeda motor yang dikendarai Panji berhenti tepat di atas jembatan. Mereka berdua bisa melihat banyaknya orang yang berkumpul, dari mulai para warga biasa, dan juga orang-orang yang kelihatannya berasal dari tim SAR setempat.
Panji mematikan mesin motornya dan mengambil stop kontak kunci motornya lalu dimasukkan ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Dek, Abang lihat-lihat bentar ya. Penasaran. Itu ada bapak kepala sekolah, Abang tanya-tanya di sana ya. Kamu di sini aja, oke!" kata Panji.
Panji berani meninggalkan adiknya di dekat motor, karena memang di sekitar tempat motornya di parkir dan juga tempat Pelita berdiri, ada banyak warga dari mulai ibu-ibu dan anak-anak.
Pelita pun mengangguk, dia juga menghampiri seorang ibu yang sedang melihat para petugas tim SAR yang sedang menaiki rakit menyusuri sekitar sungai tersebut.
Arah pandangan Pelita, rasanya tertarik ke suatu arah. Pelita pun sedikit memicingkan matanya ke arah tersebut yang merupakan sebuah tepi sungai yang di atasnya terdapat semak belukar yang sangat tebal.
Mata pelita lantas terbelalak lebar, Pelita juga mundur beberapa langkah. Percaya atau tidak yang disaksikan Pelita itu adalah pemandangan sesosok makhluk berwarna hitam yang sangat besar, mungkin tingginya seperti rumah dua lantai dan terlihat dua orang berpakaian seragam siswa SMA tempatnya bersekolah sedang berdiri di depan sosok besar itu.
Kepala mereka berdua jika oleh tangan mengerikan dari makhluk besar tersebut. Makhluk itu memegang kepala kedua siswa tersebut seperti ingin merem4s kepala keduanya.
Wajah dua orang siswa tersebut terlihat sangat pucat. Dengan mata yang tampak putih semua. Dan tangan juga kali yang terkulai.
Keringat dingin langsung membasahi punggung Pelita.
Pelita terus menggumamkan istighfar dalam hatinya. Pemandangan yang dia lihat itu begitu mengerikan. Tapi yang lebih membuatnya takut adalah, dia sadar kalau hanya dirinya yang bisa melihat hal itu.
Pelita yang sudah mendengar dari ketiga makhluk penjaganya, kalau memang kedua orang siswa itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tapi sialnya, ketika Pelita melihat ke arah lain. Dia bahkan merasakan aura yang sama, aura seperti ketika tadi pagi dia melihat ketiga orang tersebut berjalan dengan aura gelap dan menunduk.
Arah pandangan Pelita kini tertuju pada seorang wanita berpakaian minim bahan yang juga berada di sana, ikut menyaksikan para tim SAR yang sedang mencari para korban.
Baru Pelita akan memperhatikan wanita tersebut. Suara teriakan dan tangis histeris membuatnya menoleh ke arah dimana kepala sekolah berada.
__ADS_1
Pelita langsung melihat ke arah, dimana kakaknya Panji juga sedang berada. Seorang nenek tengah berteriak-teriak histeris memanggil nama salah satu siswa.
Pelita bahkan hampir ikut menangis melihat bagaimana nenek tua itu terlihat sangat takut, sedih dan shock karena mengetahui cucunya tenggelam dan belum di temukan.
Malam harinya...
Di rumah Pelita, setelah selesai makan malam keempat orang anggota keluarga itu berkumpul di ruang televisi.
Panji yang baru datang dengan camilan di tangannya pun memulai pembahasan tentang apa yang dia dengar dari kepala sekolah tadi sore.
Panji menceritakan panjang lebar, tentang kejadian aneh yang di alami Martin dan kedua temannya.
"Sampai sekarang kabarnya mayat kedua temannya belum di temukan pa!" kata Panji pada sang ayah.
"Astaghfirullah, makanya itu. Gak ada yang tahu apa yang terjadi pada kita, dimana dan kapan. Kalian berdua jangan lupa berdoa kalau keluar dari rumah. Dan jangan main-main ke tempat-tempat yang berbahaya!" kata Tommy.
"Padahal sungai dekat sekolah itu kan gak dalam pa, cetek!" kata Panji lagi.
"Kan gak ada yang tahu nak, kelihatannya aja dangkal padahal dalam sekali. Pokoknya kalian gak usah main-main dekat sana ya. Pulang sekolah, kalau tidak ada ekskul atau kegiatan yang lain lebih baik langsung pulang ke rumah!" tambah Anisa.
Pelita hanya fokus melihat ke arah televisi, tapi sebenarnya dia tidak sedang serius menonton acara yang sedang berlangsung di layar berukuran 59" itu. Pelita sebenarnya sedang memikirkan apa yang dia lihat di atas jembatan tadi. Aura yang sama gelapnya dari seorang wanita yang dia lihat di sana. Aura yang sama persis seperti ketiga siswa itu sebelum hal buruk terjadi pada mereka.
Sementara di atas jembatan, di atas pagar besi pembatas jembatan, ketika angin berhembus dengan sangat kencang. Terlihat sosok hitam yang nyaris menyatu dengan tempatnya berada, sangking pekatnya sosok tersebut. Namun yang membuatnya berbeda adalah kilatan dua cahaya merah, persis seperti bara api yang tengah terbakar yang melihat dengan sangat tajam ke arah semak dimana makhluk penunggu sungai itu berada.
__ADS_1
***
Bersambung...