Pelita

Pelita
Bab 17


__ADS_3

Sementara di rumah sakit, pihak kepolisian dan juga keluarga Boy tampak cemas menunggu hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit.


Keadaan Boy benar-benar kritis dan sangat mengkhawatirkan. Luka di kepala, pendarahan di bagian dalam tubuhnya akibat hantaman bertubi-tubi dari para anak motor itu membuat harapan hidupnya nyaris hanya tinggal tiga puluh persen lagi. Mendengar hal itu pihak keluarga Boy sangat panik.


Ibunya bahkan terus menangis dan menjerit-jerit histeris. Sungguh begitu memilukan. Karena Boy juga adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang usianya jelas terlihat dari warna rambut mereka yang sudah mulai banyak yang memutih.


"Pa, Boy pa. Ya Tuhan, sudah berkali-kali mama larang dia ikut balapan, mama sudah berkali-kali minta dia jangan ikut-ikutan geng motor yang gak karuan itu. Anak kita satu-satunya, bagaimana ini pa?" tanya ibunya Boy yang terus menangis tersedu-sedu sambil di rangkul oleh suaminya.


Suami ibu itu, ayahnya Boy. Hanya bisa diam sambil mengatakan sabar dan tenang pada sang istri. Hatinya juga sama terpukul, panik dan sedih melihat kondisi anaknya saat di bawa ke rumah sakit tadi. Boy bahkan seperti sudah tak sanggup membuka matanya lagi. Benar-benar sudah tak berdaya karena kehilangan banyak darah. Dan terluka akibat di hajar tanpa ampun, di pukul, di tendang, di injak-injak, di sabet menggunakan tali pinggang besi. Benar-benar mengerikan.


Para petugas polisi juga masih menunggu Boy siuman untuk mendapatkan keterangan darinya. Dia adalah saksi kunci, saksi satu-satunya yang bisa menyebutkan siapa saja orang-orang yang memukulinya hingga seperti itu dan juga menganiaya Tia hingga tewas.


***


Di rumah duka...


Malam itu juga setelah jenazah Tia selesai di autopsi. Ibunya meminta para warga dan rukun kematian di daerah itu untuk segera memakamkan Tia malam itu juga.


Di pemakaman, Ibunya Tia terus menangis. Dia memeluk pusara sang anak dengan air mata yang tak henti mengalir. Sementara sosok yang tadi menangis di depan pintu, yang merupakan arwah Tia pun ikut menangis di atas pusaranya.


Sambil terus memandang ke arah sang ibu, hanya bisa memandang saja karena memang tak bisa menyentuh ataupun bicara pada sang ibu.


"Ibu, maafkan aku hiks... hiks...!"


Hanya itu kalimat yang bisa arwah Tia terus ucapkan ketika melihat betapa ibunya merasa sangat kehilangan dirinya. Namun sayangnya seperti apapun penyesalan Tia. Semuanya tak akan berubah. Dia tetap meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan membawa dendam yang tak berkesudahan akibat rasa sakit yang dia rasakan saat nyawanya mendekati melayang lalu hilang.


"Kalian... para pembunuh itu harus mendapatkan akibat yang setimpal!" geram Tia dengan air mata yang berubah menjadi warna merah.


Dendam arwah Tia membuat sekelebat bayangan datang menghampirinya.


"Hihihi... hihihi... hihihihihi!"

__ADS_1


Tia langsung merasakan aura yang begitu menekannya. Hingga rasanya arwahnya pun rasanya mau punah saat mendengar tawa mengerikan itu.


"Siapa kamu? hentikan!" pekik Tia yang merasa dirinya tak sanggup menahan tekanan dari sosok yang baru terdengar suaranya itu saja sudah membuatnya lemah tak berdaya.


Syaaattt


Sosok hitam itu berada di hadapannya. Dengan mata merah menyala seperti bara yang masih terbakar api.


"Aku yang akan mengabulkan keinginan mu untuk balas dendam. Hanya aku yang bisa melakukannya, hihihi... hihihi...!"


Arwah Tia langsung bergidik ngeri. Bagaimana kalau arwah saja yang biasa membuat orang merinding, dia malah merinding melihat sosok menakutkan di depannya.


"Siapa kamu...!"


Mata sosok hitam itu langung berkilat, dari yang semula warnanya merah menyala. Kini berubah menjadi kehitaman dengan corak bulan sabit berwarna merah.


"Kamu memang harus membalas semua yang orang-orang itu lakukan hingga membuatmu meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan. Balas mereka, aku akan memberimu kekuatan itu, hihihihihi... hihihi...!"


Arwah Tia sangat tergiur dengan tawaran sosok hitam menakutkan itu.


"A...apa? tapi aku bahkan tidak memilikinya lagi?" tanya arwah Tia bingung.


"Hihihi... hihihi... berikan jiwa putihmu padaku. Dan selamanya hingga akhir dunia jadilah pengikut ku. Hihihi... hihihi!"


Arwah Tia yang memang di penuhi dendam akhirnya memilih untuk mengikuti apa yang di inginkan oleh sosok hitam yang menakutkan itu, yang tak lain adalah Mak Kondang. Kuntilan4k hitam yang memang sedang mengumpulkan pengikut, bukan hanya untuk merusak kebaikan di seluruh dunia, namun dia menyiapkan pasukan untuk melawan sosok ke 99 yang terpilih untuk bisa memusnahkannya dari muka bumi ini.


***


Di rumah Pelita.


Ketika dia sudah tertidur, tiba-tiba saja dia merasa bingung. Karena saat dia membuka matanya, dia tidak berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Pelita berada di sebuah tempat, dimana semua dindingnya berwarna putih. Bahkan lantai yang dia injak juga adalah ubin berwarna putih bersih.


"Dimana aku?" tanya Pelita menatap bingung ke arah sekelilingnya.


Wush


Namun tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian perawat melewati Pelita begitu saja.


"Hoh... apa itu tadi. Kenapa tubuhku bisa di tembus? aku belum mati kan?" tanya Pelita yang sudah mulai panik.


Dan tak lama setelah itu, lewat lagi beberapa orang. Salah satunya dengan pakaian snelli putih yang jelas menunjukkan kalau dia adalah seorang dokter.


Juga beberapa wanita berpakaian perawat. Dan satu orang lagi seorang pria dengan kemeja lengan pendek dan celana dasar yang tampak begitu panik.


Mereka semua berlari menembus Pelita dan masuk ke dalam sebuah kamar. Pelita yang penasaran, meski masih terkejut kenapa meski dirinya bisa menginjak lantai dan merasakan dinginnya lantai. Tapi malah bisa tertembus oleh semua orang yang lewat itu. Pelita pun mengikuti orang-orang tadi masuk ke dalam kamar itu.


Pelita melihat pintu terbuka, dan dia pun ikut masuk. Mata Pelita terkejut melihat seorang pemuda yang matanya mendelik ke atas sambil terus berusaha memegang lehernya dengan kedua tangannya. Seperti tercekik.


Mulutnya juga sudah mulai terbuka dari yang awalnya terbuka kecil, makin melebar dan terus melebar. Hingga lidahnya pun ikut terjulur keluar.


"Astaghfirullah!" gumam Pelita.


Para dokter dah pria paruh baya itu berusaha untuk memanggil nama Boy. Yah, pemuda itu adalah Boy. Kekasih Tia yang sedang kritis saat ini.


Para perawat bahkan berusaha untuk melepaskan tangan Boy yang malah terlihat seperti sedang mencekik dirinya sendiri.


"Boy... nak sadar nak. Kamu mencekik dirimu sendiri!" teriak seorang wanita yang berderaian air mata.


Pelita kemudian melihat ke arah atas, dimana mata Boy melihat ke arah itu.


Mata Pelita terbelalak lebar, ketika melihat arwah Tia yang seperti menggerakkan tangannya. Dan dari apa yang Pelita lihat, tangan arwah Tia itu yang menggerakkan tangan Boy untuk mencekik dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2