
Pelita masih tidak mengerti apa yang ada di hadapannya. Dia melihat di depannya itu, yang mengelilingi rumah Devano itu semacam aurora yang pernah dia lihat di media sosial, tapi melingkar ke segala arah menyelimuti rumah dan pekarangan Devano.
Bahkan ketika Panji membuka gerbang rumah Devano, sesuatu yang terlihat seperti tameng transparan itu tidak terbuka sedikitpun.
Pelita baru kali ini melihat hal yang seperti itu. Sampai-sampai dia di buat tercengang dan mematung di tempatnya sambil melihat semua cahaya yang terpancar di depannya itu.
"Pelita!"
Panggilan Panji akhirnya menyadarkan Pelita dari lamunannya.
"Iya bang!" sahut Pelita yang langsung menghampiri Panji.
Dia sedikit ragu awalnya saat akan melewati batas transparan yang berwarna kebiruan dan keunguan itu. Namun karena Panji sudah berjalan semakin jauh, Pelita pun memutuskan untuk lanjut melangkah.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Ucap Pelita sebelum melangkah melewati batas transparan itu.
Dan Pelita cukup terkejut, karena begitu dia melewati pembatas yang transparan itu, seperti ada angin yang cukup kencang menerpa tubuh Pelita.
Karena terkejut, Pelita sempat menghentikan langkahnya. Dia memeriksa kondisi tubuhnya, tapi tidak terjadi apapun padanya.
Pelita pun langsung berlari menghampiri sang kakak yang sudah bertemu dengan seseorang yang membuka pintu.
"Silahkan masuk, Devano lagi siap-siap!" kata seorang wanita paruh baya yang sepertinya ibu Devano.
"Ini, siapa?" tanya ibunya Devano yang belum pernah bertemu dengan Pelita sebelumnya.
"Adik saya Tante, namanya Pelita!" kata Panji mengenalkan Pelita pada ibunya Devano.
"Mari masuk!" ajak ibunya Devano.
Dan begitu Pelita masuk ke dalam rumah Devano tersebut. Pelita kembali di kejutkan dengan furniture di dalam ruang tamu. Dimana terdapat banyak sekali patung dan benda kuno seperti guci antik, lukisan yang terlihat sangat kuno dengan bingkai kayu berukir terlihat kalau harga lukisan itu tidak main-main.
"Duduk dulu ya! mau minum apa?" tanya ibunya Devano.
Panji langsung menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Tante, tidak usah. Begitu Devano selesai bersiap-siap. Kami akan segera berangkat!" kata Panji.
__ADS_1
"Oh begitu ya!" kata ibunya Devano yang malah ikut duduk di salah satu kursi yang kosong.
Sementara Pelita masih tak bisa melepaskan pandangan matanya dari sebuah patung harimau yang ada di depannya. Bentuknya seperti harimau, benar-benar persis seperti harimau. Bahkan dengan ukuran yang sama, tapi yang membuat Pelita sangat memperhatikan patung itu dan tak melepaskan pandangan dari patung harimau itu adalah matanya.
Mata patung itu seolah hidup, seperti bukan mata patung. Awalnya Pelita benar-benar kagum pada siapapun yang membuat patung tersebut. Karena bisa membuat, melukis mata pada patung se-real itu. Namun semakin lama di perhatikan, manik mata patung itu yang awalnya tidak melihat ke arah Pelita.
Semakin lama dan semakin lama, malah seperti melihat ke arah Pelita. Dan hal itu begitu membuat Pelita penasaran.
"Nak Pelita juga suka patung ya?" tanya ibunya Devano yang bicara pada Pelita.
Pelita langsung terkesiap dan menoleh ke arah ibunya Devano.
"Oh, iya Tante. Patungnya bagus, begitu nyata... seperti...!"
"Pagi bro!"
Belum selesai Pelita ingin bicara, Devano yang sudah siap pun menyapa Panji. Devano langsung menghampiri Panji dan menjabat tangannya. Lalu mereka saling adu lengan, sejenis tos ala anak muda.
Pelita juga bangun berdiri karena sang Abang berdiri.
"Bu, Devan berangkat ya!" kata Devano.
Panji dan Pelita juga ikut berpamitan dengan ibunya Devano. Panji memang sudah lama kenal dengan ibunya Devano. Karena memang Panji dan Devano sudah berteman sejak mereka kelas 10. Dan Panji juga sering datang ke rumah Devano untuk mengerjakan tugas. Begitu pula Devano juga sering ke rumah Panji untuk mengerjakan tugas juga.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju desa Umbul Petang. Devano dengan motornya sendirian. Dan Panji berboncengan dengan Pelita.
Setelah hampir satu jam, mereka istirahat sebentar di salah satu SPBU untuk mengisi bahan bakar motor mereka. Panji lantas masuk ke sebuah minimarket yang ada di SPBU itu. Sedangkan Devano ke toilet.
Di saat Pelita juga menuju ke toilet wanita yang ada di SPBU itu. Pelita di kejutkan Carolina saat membuka pintu.
"Carolina!"
Ucap Pelita setelah melihat Carolina hanya melayang dan menatapnya datar ketika berada di depan pintu yang dibuka oleh Pelita.
"Pelita, jangan ceritakan apapun pada teman kakakmu itu ya!" kata Carolina.
Pelita pun mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Pelita bingung.
__ADS_1
"Kami tahu kamu ke desa Umbul Petang untuk menemukan pusaka itu kan, salah satu pusaka untuk menangkap Mak Kondang. Tapi jangan ceritakan apapun pada pemuda yang bernama Devano itu ya!"
Pelita masih diam. Sebenarnya dia juga merasa ada yang aneh dengan keluarga Devano. Meski Pelita belum tahu apa itu.
"Keluarga Devano juga mengincar pusaka-pusaka itu. Tapi tujuan mereka untuk hal lain, jika pusaka itu jatuh ke tangan mereka. Kita tidak bisa memusnahkan Mak Kondang. De...!"
Belum selesai Carolina berkata, dia pun tiba-tiba lenyap begitu saja.
Tok tok tok
"Dek, sudah belum?"
Suara Panji terdengar memanggil Pelita.
'Pantas Carolina hilang!' batin Pelita.
"Sebentar lagi bang!" kata Pelita yang memang belum menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya pergi ke toilet.
Begitu keluar dari toilet, Pelita melihat kakaknya sedang mengobrol seru dengan Devano.
Pelita pun memperhatikan Devano. Tapi tidak ada yang aneh dengan pemuda itu. Tapi Pelita juga sangat percaya pada Carolina. Hingga dia pun memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada Devano.
Tapi baru, melangkah beberapa langkah. Pelita menghentikan langkahnya karena ingat sesuatu.
'Aih, tapi bagaimana kalau bang Panji sudah mengatakannya pada temannya itu?' tanya Pelita dalam hati.
Untuk mengetahui hal tersebut, Pelita lantas memanggil kakaknya.
"Bang, sebentar!" panggil Pelita.
Panji pun segera menghampiri Pelita. Ketika Panji sudah berada dekat dengan Pelita. Panji bertanya.
"Bang, Abang tidak bilang pada teman Abang kan, tujuan kita datang ke desa itu?" tanya Pelita khawatir.
Panji yang mendapatkan pertanyaan itu dari sang adik langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aduh, gimana ya? Abang kasih tahu dia kalau kita mau ke sana karena mau nolongin orang. Pelita, memangnya kenapa kalau Devano tahu? dia orang baik kok!" kata Panji yang memang sudah mengenal lama Devano.
***
__ADS_1
Bersambung...