
Ustadz Komar sudah berada di puskesmas dengan Panji dan juga Devano. Akhirnya setelah kedatangan ustadz Komar, dan setelah di beri minuman yang sudah di bacakan doa lalu di minum kan pada Dasimah, akhirnya posisi janin yang ada di dalam perut Dasimah sudah kembali ke posisi semula.
Semua orang terlihat lega. Malam itu Panji kembali ke rumah Dasimah. Dan Devano tetap menunggu di rumah sakit, karena kata dokter Dasimah harus di rawat inap dulu agar kondisinya stabil.
Begitu tiba di rumah Dasimah, dan setelah Panji menceritakan tentang kondisi Dasimah yang sudah membaik. Kedua anak Dasimah terlihat senang.
Sementara itu Umbok dan Serena benar-benar dalam masalah. Malam itu mereka di hentikan oleh Carolina, Jem dan juga Shaka sebelum tiba di sendang Kali Carang.
Alhasil, pertarungan pun tak dapat di elakkan.
"Kalian mulai berulah ya bocah-bocah kemarin sore!" pekik Umbok.
Shaka lalu mengeluarkan cermin pusaka yang di dapatkan oleh Pelita.
"Kenapa kami tidak berani? dengan ini kami pasti bisa mengalahkan mu!"
Setelah berseru seperti itu, Shaka langsung menyerang Umbok menggunakan cermin itu. Mereka beberapa waktu ini sudah belajar menggabungkan kekuatan mereka dengan cermin pusaka tersebut.
Serena yang yakin tidak akan bisa melawan mereka pun memilih untuk melarikan diri dengan sisa tenaga yang dia miliki. Sayangnya apa yang ingin dilakukan oleh Serena itu terbaca oleh Carolina. Secepatnya Carolina langsung menghadang jalan Serena lalu menggunakan kekuatannya untuk menarik Serena dan melemparkannya ke arah cermin.
"Shaka!" terisak Carolina.
Shaka langsung mengarahkan cermin itu ke arah Serena. Dan Jem langsung mengalihkan perhatian Umbok.
"Tidakkk...!"
Dengan kekuatan cermin dan Shaka, Serena benar-benar sudah mengepul menjadi abu, dari asap tebal berbau busuk berwarna hijau sampai habis tak bersisa.
Mata Umbok melotot melihat apa yang ketiga pelindung Pelita itu lakukan.
"Apa yang kalian lakukan pada pengikut ku, musnahlah kalian!" pekik Umbok begitu kesal.
Seiring teriakan itu Umbok pun berubah menjadi makhluk hitam raksasa yang bersiap menginjak Carolina, Jem dan Shaka. Namun ketiganya langsung melesat menghindar. Sampai injakan kaki makhluk hasil perubahan Umbok itu mengepulkan asap hitam dan debu yang berterbangan kemana-mana.
__ADS_1
Shaka yakin kalau saat ini meskipun dengan bantuan cermin pusaka pun. Mereka tidak akan mampu melawan makhluk jelmaan Umbok tersebut.
"Carolina, Jem, kita harus pergi. Kita masih butuh cambuk itu untuk mengalahkannya!" kata Shaka yang di angguki oleh Carolina dan Jem.
Mereka bertiga pun lantas menghilang dari tempat itu. Membuat makhluk jelmaan Umbok mengerang keras karena amarahnya.
Di sendang kali Carang yang memang letaknya sudah tak jauh lagi dari tempat itu. Mak Kondang bisa mendengar raungan Umbok. Mata Mak Kondang memerah dia juga langsung berteriak karena kesal ada yang menghabisi pengikut setianya seperti Serena.
Para mahkluk yang tinggal di dekat sendang kali Carang pun terbang menyelamatkan diri mereka dari efek teriakan Mak Kondang yang bisa menghanguskan para makhluk berintensitas lemah di tempat itu.
Mereka semua langsung hancur seperti terkena efek radiasi nuklir. Begitu kuatnya teriakan Mak Kondang itu.
Sampai seorang pria berjanggut putih, dengan sorban warna senada di kepalanya membuka matanya dari semedinya yang sudah dia lakukan selama tiga tahun lebih atau lebih tepatnya selama 1000 hari di sebuah gubuk tua di tengah hutan.
Gubuk itu tak akan terlihat, bagi siapapun yang tidak di kehendaki oleh si penunggunya.
"Dia sudah di temukan!" gumam pria berjanggut panjang itu.
Pria berjanggut panjang itu lantas keluar dari gubuknya. Di depan gubuk ternyata sudah ada dua orang pria yang menunggunya. Satu lagi putranya, Arifin. Dan satu lagi adalah muridnya Usman.
"Waalaikumsalam!" jawab kedua pria itu dengan senang.
"Usman, jauh-jauh kamu sampai kemari. Ada apa?" tanya pria berjanggut panjang itu.
"Terimakasih guru telah bertanya pada ku, maksud kedatangan ku kemari untuk bertanya tentang keponakan ku, Pelita... !"
Begitu Usman mengatakan nama Pelita, mata pria berjanggut itu berkilat.
"Rupanya sudah waktunya aku melepaskan cambuk itu pada yang berhak memilikinya!" kata pria berjanggut putih tersebut.
"Ayah, maksud ayah bagaimana?" tanya Arifin, anak pria berjanggut panjang tersebut.
"Pelita... anak itu yang akan memusnahkan kekuatan jahat yang selama ini mengancam keselamatan banyak orang!"
__ADS_1
Usman langsung terkesiap, dia tidak menyangka ternyata keponakannya itu punya kekuatan seperti itu.
"Jadi maksud guru, mata batin Pelita di buka oleh...!"
"Empu Yasa, leluhur kalian. Dengan mengirimkan tiga makhluk berjiwa putih, untuk melindunginya!" kata pria berjanggut panjang tersebut.
"Sudah dekat waktunya kita berperang dengan para makhluk penguasa kegelapan itu. Sebaiknya kita cepat ke rumah Pelita. Selain cambuk yang ada padaku, dia masih butuh cermin pusaka, dan pemantik api. Yang bahkan aku sendiri tidak tahu dimana keberadaan pusaka itu!" jelas pria berjanggut panjang tersebut.
Usman semakin tercengang mendengar semua penjelasan yang di sampaikan oleh gurunya. Dia tidak menyangka jika keponakannya Pelita akan mengemban tugas seberat itu. Padahal usianya baru lima belas tahun. Rasa cemas dan khawatir pun tak mampu Usman sembunyikan. Apalagi gurunya sering bercerita tentang perang besar itu, dirinya tak bisa membayangkan keponakan kesayangannya itu ikut dalam usaha mereka memberantas makhluk kegelapan itu.
***
Sementara Usman bersama dengan gurunya juga Arifin menuju ke Surabaya. Pelita, Panji dan Devano masih berada di desa Curigan.
Pagi-pagi sekali mang Untung sudah datang ke rumahnya karena mendapatkan kabar dari anak sulungnya yang menghubunginya.
Dasimah juga sudah di bawa pulang ke rumah. Anak sulung Dasimah menceritakan semuanya pada sang ayah, Dasimah juga menceritakan apa yang dia alami.
Mang Untung lantas berterima kasih pada Pelita. Namun ada pertanyaan yang membuat Pelita tak bisa menjawabnya.
"Tapi bagaimana neng dan aden tahu, kalau istri mamang dalam bahaya?" tanya mang Untung membuat Pelita bingung menjawabnya.
"Oh, itu karena kami kebetulan lewat. Terus kamu mendengar suara adik ini menangis...!"
Devano berusaha menjelaskan versi yang bisa di pikir oleh akal sehat manusia. Namun mang Untung malah menyela Devano.
"Tidak seperti itu den, kemarin kan neng sama adennya beli pangsit kan? itu yang di komplek yang biasanya mamang lewat sana kalau dagang. Neng tanya desa mamang kan, bukannya gara-gara itu?" tanya mang Untung.
Orang yang tinggal di kampung biasanya memang lebih sens1tif pada hal-hal yang berbau mistis. Jadi mang Untung mengaitkan pertanyaan Pelita kemarin dengan kejadian yang menimpa istrinya.
"Tidak begitu mang, kemarin kan saya sudah jelaskan!" sahut Panji.
"Mas, wes toh. Alhamdulillah ada neng Pelita sama yang lain. Harusnya mas Untung berterima kasih. Jangan mikir atau tanya yang tidak-tidak!" kata Dasimah pada sang suami yang di angguki oleh untung.
__ADS_1
***
Bersambung...