
Sementara itu tepat menjelang magrib tiba, ketika matahari perlahan mulai terbenam sepenggal demi sepenggal. Dan kemilau senja membuat semua orang di sebuah desa menutup pintu mereka dengan rapat.
Di sebuah sendang, terdengar suara-suara yang begitu memilukan hati. Beberapa warga desa mengira kalau suara-suara itu adalah suara-suara berbagai kumbang atau binatang kecil yang hidup di sendang tersebut.
Namun bagi yang mempunyai pendengaran yang lebih tajam, atau bagi beberapa orang yang punya kelebihan lain. Mereka bisa merasakan kalau suara-suara itu bukan suara-suara binatang, serangga atau semacamnya.
Itu adalah suara rintihan pilu, suara rintihan yang entah dari mana sumbernya. Namun suara itu akan terus terdengar ketika menjelang magrib, serta lepas tengah malam dan berhenti ketika subuh hampir tiba.
Tak ada memang orang yang akan melewati sendang itu ketika lepas ashar. Meskipun sendang itu adalah sumber mata air utama di desa tersebut.
Tak ada yang tahu, kalau di dalam sendang tersebut merupakan sebuah tempat di mana sebuah koloni yang besar tinggal. Bukan semut atau serangga lain, tapi sekelompok pasukan gelap yang sudah bertahun-tahun di siapkan oleh seseorang yang inginkan kehidupan abadi.
"Cambuk lagi...!"
Pekik salah seorang makhluk dengan mata hitam dan wajah merah.
Dan seketika itu juga makhluk dengan wajah transparan dan jubah hitam langsung melakukan apa yang di perintah oleh makhluk wajah merah tadi.
"Agkhhh....!"
Pekik kesakitan makhluk berbaju putih compang-camping dan berambut hitam panjang.
Dia tangannya di ikat dengan sesuatu seperti sulut yang warnanya seperti lumut. Cambuk yang dipakai untuk mencambuk tubuh makhluk berbaju putih itu juga bukan baju biasa. Melainkan cambuk yang terdapat api menyala di sepanjang tali cambuk tersebut.
Bukan hanya satu, dua atau tiga makhluk yang di cambuk. Tapi ada lima makhluk, sebelumnya bahkan lebih banyak. Tapi beberapa dari mereka menyerah karena tak sanggup menahan sakit dan menjual jiwanya pada Mak Kondang.
Benar, itu adalah markas Mak Kondang. Anggap saja makhluk berwajah merah itu adalah ajudan Mak Kondang. Dan yang berjubah hitam dengan wajah transparan adalah pelayannya.
Sementara para makhluk dengan baju putih itu adalah arwah yang meninggal bunuh diri. Dan menjadi arwah gentayangan. Memang tak semua arwah gentayangan mau menjadi anak buah Mak Kondang. Karena tak semua arwah gentayangan yang belum bisa masuk pintu gerbang seharusnya mereka berada itu mau berurusan lagi dengan kehidupan di dunia.
Mereka sudah senang bisa lepas dari segala macam hal tentang dunia yang membuat mereka lelah dan akhirnya bunuh diri. Mereka tidak mau kembali lagi ke dunia yang seperti itu.
Tapi Mak Kondang memaksa bahkan menyiksa mereka yang tidak mau menjadi pasukannya. Sekutunya.
Mak Kondang menyiksa mereka yang tak mau menghasut manusia melalui pikiran dan hatinya. Dan itulah yang para arwah gentayangan itu dapatkan ketika berhasil di tangkap oleh ajudan Mak Kondang dan di bawa ke markas mereka. Mereka akan terus di siksa sampai mau menjadi budak Mak Kondang.
__ADS_1
Beberapa yang sudah menyerah pun hanya bisa memandang sedih dan kasihan pada para arwah gentayangan yang lain yang tak mau menyerah.
Teriakan minta ampun mereka sama sekal tidak di dengar oleh Mak Kondang. Makhluk hitam itu malah tertawa melengking membuat gendang telinga siapapun yang mendengarnya serasa mau pecah. Di begitu bahagia melihat semua mahkluk itu menderita.
"Hihihihihi... hihihi!"
***
Selepas magrib, Pelita terbangun. Dia membuka matanya perlahan, namun saat dia terbangun yang dia lihat bukan sebuah dinding dari sebuah kamar atau sebuah ruangan. Saat ini pelita berusaha untuk mengedipkan matanya beberapa kali. Berharap apa yang ada di hadapannya itu tidak nyata.
Pelita bahkan bangun, dan ketika dia memegang tempat tidurnya. Dia seperti memegang air.
Pelita kaget bukan main, tangannya basah. Dan setelah tangannya basah dia baru merasakan bagian bawahnya basah.
Dia tadi seperti terbaring di tempat yang kering, tapi setelah terbangun dia merasa semua tubuhnya dari pinggang sampai ke bawah kakinya basah. Ketika Pelita sadar kakinya tak menapak, dia langsung panik dan berusaha untuk berenang karena badannya ikut tenggelam.
Pelita tak sempat melihat dimana dia berada saat ini. Karena dia sibuk berenang untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi sepertinya air dan dia berenang ini tak ada tepiannya.
Sudah sangat lelah tangan dan kaki Pelita rasanya. Tapi tak kunjung mencapai tepian.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, suara pria. Yang terdengar begitu keras dan lantang.
Tanpa pikir panjang lagi, Pelita langsung mengucapkan apa yang di perintahkan oleh suara tersebut.
"Allahuakbar!"
"Allahuakbar!"
"Allahuakbar!"
Tak hanya sekali, Pelita bahkan mengucapkan kalimat itu tiga kali. Dan mendadak kaki Pelita seperti menapak pada sesuatu.
Sesuatu yang keras yang dapat dia pijak dengan kedua kakinya. Pelita mulai bisa menenangkan dirinya, dia perlahan terus menapaki pijakan tersebut. Hingga badannya muncul ke permukaan. Bahkan semakin lama, tubuh Pelita berhasil keluar sepenuhnya dari dalam air.
"Alhamdulillah!" ucap Pelita ketika dia berada di luar air.
__ADS_1
Pelita menoleh ke arah belakang, dan air itu menghilang begitu saja berubah menjadi sebuah lantai putih dan seluruh ruangan yang tadinya nampak seperti sebuah goa berubah menjadi dinding putih. Atapnya juga sama, berwarna putih bersih sangat menyilaukan.
Dari salah satu dinding muncul sebua lingkaran. Yang semakin lama, lingkaran itu semakin melebar dan semakin melebar hingga membentuk sebuah pintu.
Dan dari pintu tersebut keluarlah sesosok pria dengan jubah putih, sorban putih dan jenggot putih. Di tangannya memegang sebuah tasbih yang berwarna putih.
"Pelita!"
Panggil pria tua itu yang membuat Pelita sampai tertegun. Pelita berpikir, bagaimana pria tua itu tahu namanya.
"Pergilah ke desa Umbul Petang. Selamatkan seseorang di sana. Kamu akan mendapatkan cermin kejujuran itu!"
"Pelita!"
"Pelita!"
"Hah...!"
Pelita bangun dengan posisi langsung terduduk ketika mendengar suara pria tua itu memanggil namanya. Tapi anehnya suara perlahan berubah seperti suara mamanya.
"Mama!" ucap Pelita ketika melihat sang mama memegang bahu Pelita.
"Alhamdulillah!" kata Anisa yang langsung memeluk Pelita sambil menangis.
"Kenapa ma?" tanya Pelita bingung kenapa namanya seperti sangat ketakutan sampai memeluknya erat sambil menangis.
"Hiks... Pelita. Kamu tadi berteriak-teriak. Tangan kamu ke atas dan kamu sulit bernafas seperti orang mau tenggelam. Mama takut nak, abang kamu sedang berlari keluar mencari batuan!" jelas Anisa.
"Pelita gak papa kok ma!" kata Pelita membuat Anisa lantas melepaskan pelukannya dari Anisa.
"Ma, kita bawa ke rumah sakit aja ya ma, ini Panji sudah panggil kang Ujang, dia bawa mobil!" kata Panji yang mengajak salah satu tetangganya.
***
Bersambung...
__ADS_1