
Makhluk hitam itu terbang di iringi dengan tawa yang begitu melengking dan memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Tawanya yang khas itu membuat siapapun yang mendengarnya pasti merinding seketika.
"Hi... hihi... hi... hihihi.... hihihihihi!"
Termasuk makhluk penunggu sungai yang sejak tadi memang sudah mewaspadai keberadaan dari makhluk hitam tersebut.
"Hihihihihi.... !"
Namun makhluk hitam itu langsung terbang begitu saja meninggalkan sungai. Makhluk penunggu sungai yang tadinya sudah mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi pun. Tampak begitu lega. Karena sungguh makhluk penunggu sungai itu bukanlah tandingan makhluk hitam terbang itu.
***
Di dalam kamarnya, Pelita masih melihat ke seluruh ruangan kamarnya.
"Kemana mereka? biasanya mereka sebentar-sebentar muncul, ini kenapa gak kelihatan?" tanya Pelita yang tanpa dia sadari dia mulai terbiasa dengan kehadiran Jem, Carolina dan Shaka.
Karena Pelita merasa kalau ketiga pelindungnya itu tidak akan datang, maka Pelita pun memutuskan untuk tidur.
Pelita membaca doa tidur, dia berbaring sambil menengadahkan kedua tangannya.
"Bismika Allahuma ahya wa Bismika amut, Amin!" ucap Pelita.
Setelah itu dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang tadi menengadah. Pelita mulai memejamkan matanya.
Namun baru memejamkan mata dan yang ada di penglihatannya itu hanya ada kegelapan. Ketika semuanya gelap, tiba-tiba tampak sebuah celah bercahaya terlihat seperti sebuah pintu yang terbuka.
Pelita pun merasa dia bisa melangkah, dan mendekati celah bercahaya itu. Tapi celahnya sangat sedikit. Pelita masih terus berusaha namun langkahnya semakin terasa berat dan sulit saja.
Hingga dia mendengar suara teriakan dari arah yang berlawanan. Ketika Pelita berbalik, seorang wanita yang tergantung dengan tali yang cukup tebal dengan lidah menjulur keluar dan mata mendelik ke arah atas. Nyaris hanya terlihat putihnya saja, tidak ada pupil hitam yang terlihat.
Pelita sampai terduduk lemas ketika melihat penampakan yang terlihat di depannya setelah dia berbalik itu. Apalagi wajah wanita itu seperti pernah dia lihat. Sepertinya itu adalah wajah ibu dari salah satu teman sekelasnya.
"Allahuakbar!" pekik Pelita yang tiba-tiba saja sudah berada di kamarnya dengan posisi duduk saat dia berteriak Allahuakbar.
Pelita langsung melihat ke sekeliling ruangan.
"Astaghfirullahaladzim, aku bermimpi. Tapi itu sangat mengerikan!" gumam Pelita sambil mengusap wajahnya karena merasa shock.
Ceklek
__ADS_1
Mata Pelita langsung menoleh ke arah pintu, dari sana terlihat Panji, kakak Pelita datang dengan terburu-buru dan menghampiri Pelita.
"Ada apa dek?"
Panji bertanya sambil duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusap kening Pelita yang banyak mengeluarkan keringat padahal kamar Pelita memakai pendingin udara.
"Aku bermimpi bang, sangat mengerikan. Ibu teman sekelas ku, Arman. Ibunya gantung diri!" kata Pelita.
Pelita masih sangat gelagapan, suaranya masih gemetaran saat dia mengatakan apa yang dia lihat dalam mimpinya pada sang kakak.
Panji pun terlihat sangat terkejut. Bagaimana bisa adiknya tiba-tiba memimpikan hal seperti itu.
"Apa kamu tadi siang bertemu ibunya Arman itu?"
Panji bertanya pada Pelita karena mungkin saja karena Pelita bertemu ibunya Arman tadi siang makanya dia sampai terbawa mimpi.
Namun setelah mendengar pertanyaan Panji, Pelita menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kamu nonton film horor di hape?" tanya Panji lagi.
Dan Pelita menggelengkan kepalanya lagi.
"Kalau begitu pasti itu hanya bunga tidur saja dek, jangan di pikirkan. Pasti itu hanya bunga tidur. Katanya kan mimpi itu akan jadi kejadian sebaliknya, semoga ibunya Arman baik-baik saja!" kata Panji panjang lebar.
Namun tetap saja meski mendengar kalimat itu dari Panji. Pelita masih merasa tidak tenang.
"Sudah ya, sekarang kamu tidur lagi. Abang temenin sampai kamu tertidur!" kata Panji yang menuntun Pelita agar kembali berbaring.
Panji mengusap kening Pelita agar adiknya itu cepat terlelap.
"Baca doa dulu dek!" kata Panji.
Pelita pun lantas membaca doa lagi. Dan tak lama kemudian Pelita kembali tertidur karena merasa aman dan tenang ada sang kakak di sampingnya. Setelah Pelita tertidur, Panji pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya...
Pelita dan Panji berangkat ke sekolah seperti biasanya. Namun begitu tiba di sekolah, Pelita terkejut karena teman-temannya sudah berkumpul di luar kelas.
"Assalamualaikum, selamat pagi!" sapa Pelita pada teman-temannya yang berkumpul di depan kelas.
__ADS_1
"Waalaikumsalam!" sahut teman-teman Pelita.
Riri langsung mendekati Pelita.
"Pelita, ibunya Arman meninggal!"
"Innalilahi wa innailaihi raji'un!" ucap Pelita spontan.
Pelita langsung memegang dadanya yang terasa begitu sakit karena sempat terkejut begitu hebat. Bagaimana tidak. Semalam dia memimpikan ibunya Arman itu gantung diri. Dan pagi ini, dia mendengar sendiri kalau ibunya Arman itu meninggal.
Erna, yang terkenal paling rumpi di antara teman sekolahnya juga menghampiri Pelita dan Riri.
"Ih ngeri deh, masak kata si Rika tuh kelas 11, tetangganya Arman. Ibunya meninggal gara-gara gantung diri, serem deh! matanya tuh mau lepas, lidahnya tuh gini nih...!"
Erna memeragakan lidah yang terjulur ke samping seperti yang dia dengar dari Rika, siswi kelas 11 yang juga tetangga Arman.
Mata Pelita pun kembali melebar, seluruh bulu kuduknya berdiri. Pelita benar-benar ingin pingsan rasanya mendengar penjelasan Erna barusan.
Riri yang berada di samping Pelita menyadari tangan Pelita yang tak sengaja tersentuh olehnya mendadak menjadi dingin. Dan ketika Riri melihat ke arah wajah Pelita, wajah sahabatnya itu juga pucat.
Riri yang mengira itu karena apa yang di ceritakan Erna langsung memukul lengan Erna pelan.
Plakk
"Erna udah gak usah cerita yang serem-serem. Gak tahu juga ceritanya Rika itu benar atau tidak, dia kan juga tukang gosip kayak kamu!"
"Ih, gak percaya sudah!"
Lalu Surya sang ketua kelas pun mengajak semuanya untuk diam. Dia pun menjelaskan kalau mereka akan pergi ke rumah Arman untuk mengucapkan bela sungkawa.
Langkah Pelita menjadi begitu lemah ketika mengikuti rombongan kelas 10A yang akan pergi melayat ke rumah Arman. Masalahnya dia sudah dapatkan penglihatan itu, Pelita bahkan berpikir apakah kalau tadi malam dia pergi ke rumah Arman ibunya masih sempat di selamatkan. Pikiran Pelita terus kemana-mana tak tentu arah.
Sampai saat di dekat parkiran mobil, Panji berlari menghampiri Pelita.
"Dek...dek!"
Pelita berhenti dan menoleh. Dari wajah adiknya itu, Panji tahu kalau Pelita sangat shock pastinya. Kerena semalam dia bahkan bermimpi tentang kematian ibunya Arman.
***
__ADS_1
Bersambung...