Pelita

Pelita
Bab 49


__ADS_3

Mak Kondang sudah merasakan kehadiran tiga pusaka yang mengancam dirinya tersebut. Mak Kondang juga sudah mempersiapkan semua pasukan kegelapan yang selama ini dia kumpulkan dari para arwah penasaran, arwah penuh dendam dan arwah yang tak di terima alam atas karena mengakhiri hidup mereka sendiri.


Sementara itu Pelita dan kiyai Mansyur, ustadz Usman, Devano dan ketiga makhluk berjiwa putih juga sudah tiba di hutan larangan, dimana sendang kali Carang berada.


Pelita dan rombongan di sambut oleh api yang terbakar mengelilingi hutan, tentu saja Pelita dan Devano panik. Mereka belum menyadari semua itu hanya ilusi.


"Allahuakbar" seru ustadz Usman.


Dan semua api itu langsung menghilang dalam sekejap. Kiyai Mansyur mengatakan pada Pelita dan Devano kalau semua yang mereka lihat belum tentu nyata, gunakan mata batin mereka untuk memastikan semuanya nyata atau tidak. Seperti itulah kaya kiyai Mansyur.


Satu demi satu sambutan Mak Kondang berhasil di lenyapkan oleh Pelita dan rombongan.


Dari mulai tsunami serangga, datangnya makhluk yang menyerupai zombie, bahkan makhluk yang tak memakai busana. Semuanya di kalahkan dengan pertolongan Allah SWT.


Sampai Umbok datang membawa Devi yang dia ikat dengan rantai di leher, kedua tangan dan kakinya.


Devano yang melihat adiknya di perlakukan seperti itu muncul dendam dan amarah, namun kiyai Mansyur lagi-lagi memperingati Devano kalau semua itu hanya ilusi.


Umbok di kalahkan oleh Carolina dengan cambuk pengikat Sukma. Musnahnya Umbok, membuat Mak Kondang menampakan wujudnya pada Pelita dan semua orang.


Wajah yang begitu mengerikan, suara melengking yang begitu memekakkan telinga. Dan kekuatan yang mampu membuat Pelita dan yang lain tak bisa bernafas dan ambruk seketika.


Kiyai Mansyur menggunakan semua kekuatannya untuk menghancurkan semua pasukan hitam Mak Kondang. Dia menyerahkan tugas membinasakan Mak Kondang pada Pelita dan ketiga jiwa putih. Sementara ustadz Usman dan Devano mencari keberadaan Devi di dalam sendang kali Carang.


Pelita di tuntun untuk membaca ayat kursi, dan tiga kul yang maha dahsyat kekuatannya terus menerus tanpa henti. Mak Kondang sudah mulai berubah menjadi raksasa yang begitu besar. Saat itulah Shaka menggunakan cermin kejujuran untuk mengembalikan wujud Mak Kondang seperti semula. Lalu dengan cepat Carolina merubah cambuk pengikat Sukma menjadi tapi tambang yang begitu besar dan kuat. Tali itu membelit Mak Kondang hingga tak mampu lagi bergerak.

__ADS_1


Semua pasukan juga sudah habis oleh kiyai Mansyur, namun kiyai Mansyur juga nampak sangat lelah dan lemah. Dia bahkan sudah terduduk di tanah.


Namun kiyai Mansyur berkali-kali berseru pada Pelita dan ketiga jiwa agar jangan pernah mengalihkan fokus mereka apapun yang terjadi.


Pelita terus membaca doa, sampai Jem memberikan pemantik api itu pada Pelita. Pelita kemudian menyalakan pemantik api tersebut. Setelah tujuh kali ayat kursi terbaca dan kalimat surat Al Baqarah awal, tengah dan akhir Pelita baca dengan lantang.


Blarrrr


Api itu menyala membakar seluruh tubuh Mak Kondang. Seiring teriakan Mak Kondang, runtuhlah juga sendang kali Carang. Beruntung Devano sudah menemukan adiknya dan berhasil keluar dari sendang Kali Carang bersama ustadz Usman.


"Allahuakbar!" ucap semua orang.


"Kalian tidak akan bisa mengakhiri aku dengan mudah! aku tidak akan pernah binasa selama dalam hati manusia masih ada nafsu dan serakah. Aku tidak akan binasa!"


Teriakan Mak Kondang mengakhiri hilangnya wujud sejatinya. Hangus menjadi abu, dan abu lalu tak berwujud lagi.


Sampai akhirnya dia melihat tiga jiwa putih menghampirinya, dan....


Brukkkk


"Pelita... pelita... Alhamdulillah kamu sudah sadar nak!" kata Anisa yang terlihat sangat lesu dan pucat.


"Dek, Alhamdulillah kamu sudah sadar!" kata Panji.


Pelita membuka matanya dan melihat ke sekitarnya.

__ADS_1


"Ini dimana?" tanya Pelita.


"Kamu di rumah sakit nak, sudah satu minggu kamu koma. Setelah kecelakaan di lampu merah!" kata Panji.


"Iya nak, Alhamdulillah kamu sadar!" kata ayah Pelita, Tommy dengan tongkat yang dia pakai untuk berdiri menopang kakinya yang masih memakai gips.


"Papa, itu kaki papa? kiyai Mansyur, tiga jiwa putih?" tanya Pelita bingung.


Mendengar Pelita bicara seperti itu, Tommy, Anisa dan Panji terlihat bingung.


"Kamu ngomong apa, kiyai Mansyur siapa?" tanya Tommy cemas.


"Aghkkkk!" Pelita memegang kepalanya yang terasa sakit.


Seiring hal itu, terdengar suara tertawa yang sangat melengking dan mengerikan membuat Pelita bertambah kesakitan.


"Aghkkkk!" Pelita berteriak kesakitan karena suara melengking yang terus terdengar di telinga nya.


"Pelita, Pelita!" panggil Anisa panik.


"Panji cepat panggil dokter!" kata Tommy panik juga.


"Hihihi... hihihi... sudah ku katakan, aku tak akan binasa semudah itu. Hihihi... hihihi... tunggu aku kembali!"


***

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2