
Di sebuah rumah sederhana, bahkan sangat sederhana, sebab pintunya juga hanya bisa terbuka jika di ganjal dengan sebuah batu yang ukurannya lumayan besar. Jika tidak pintu itu akan tertutup kembali.
Jendelanya di tutup dengan kardus, sepertinya bekas kardus minuman ringan seribuan. Mungkin itu juga dapat minta sama tetangga.
Pelita duduk di samping anak Murni yang bernama Akbar itu. Yang sedang menyantap bubur ayam dengan kakak dan adiknya.
Setelah peristiwa hampir tertabrak kereta, Pelita dan Panji mengantar Murni dan anaknya pulang. Lalu Panji membelikan tiga bungkus bubur ayam untuk mereka.
"Terimakasih banyak dek, kamu sudah menolong saya. Kamu juga sudah memberi kami makanan..!"
Ucap Murni dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya tampak sudah tidak pucat lagi. Ternyata benar, tadi wajah Murni tampak pucat karena dia kelaparan. Dia tidak bilang, tapi sangat terlihat. Setelah makan, wajahnya tidak pucat lagi.
Sebelum Murni selesai bicara, Pelita mengusap lengan Murni dengan lembut.
"Iya mba, di lanjutkan makannya!" kata Pelita.
Tak lama setelah itu datanglah seorang pria yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.
"Astaghfirullah, Murni... Akbar kalian gak kenapa-napa?" tanya pria itu langsung menggendong Akbar dan memeriksa anaknya.
Pelita tersenyum melihat betapa kasih seorang ayah pada anaknya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dari pemandangan ini saja, Pelita bisa melihat kalau keluarga ini meskipun sangat sederhana sekali. Tapi tak kehilangan rasa kasih sayang satu dan yang lain. Dari mulai sang ibu yang memilih menuruti keinginan anaknya sampai menahan lapar, dari mulai sang adik yang juga rela menunggu sampai di rumah untuk bisa makan bersama kakaknya dan sekarang sang ayah yang begitu panik mendengar hal buruk terjadi pada anak dan istrinya.
Murni kemudian menceritakan semuanya pada suaminya. Suami Murni yang bernama Markum itu sangat berterima kasih pada Pelita dan Panji.
"Saya ya begini, baru bisa ngojek dari jam 10 malam sampai pagi begini. Kalau tidak ya, tidak ada yang pakai jasa ojek saya. Sekarang semua sudah pakai ojek online!" keluh Markum pada Panji saat ditanya kenapa dia memilih mengojek di malam hari.
"Kenapa bang Markum tidak daftar ojek online juga?" tanya Panji.
"Saya gak punya hape dek, jangankan hape. Bisa beli beras setiap hari saja sudah Alhamdulillah!" jawabnya sambil tersenyum.
Tapi Panji bisa melihat dari senyum Markum itu ada rasa lirih di dalam hatinya. Pelita lantas mendekati Panji dan berbisik pada Panji. Setelah itu Panji terlihat mengangguk pada Pelita. Lalu Panji beralih pada Markum dan berkata.
"Bang, papa kami punya sebuah pabrik. Bagaimana kalau bang Markum jadi security di sana. Kebetulan pabrik sedang butuh security?" tanya Panji.
__ADS_1
Wajah Markum langsung menjadi berbinar, matanya berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, iya dek Panji saya mau. Selama ini saya sulit cari kerja karena saya cuma lulusan SMP. Terimakasih dek Panji, Alhamdulillah ya Allah!"
Markum bahkan sampai sujud syukur, begitu pula dengan Murni.
Setelah itu Panji dan Pelita pun pergi dari sana setelah memberi alamat pabrik milik ayah Panji pada Markum.
Pelita dan Panji langsung menuju ke tempat motor mereka di parkir untuk pulang.
Setelah sampai di rumah, Anisa tampak sangat lega melihat dua anaknya pulang.
"Alhamdulillah, kalian gak kenapa-napa. Mama panik sekali. Kalian ini, kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?" tanya Anisa yang langsung bertubi-tubi sangking cemasnya pada Panji dan Pelita.
"Maaf ma, tapi di sana gak ada signal, pas kami sampai ke kota. Ponselnya mati, baterai nya habis." jelas Panji pada Anisa.
Wajah Anisa masih nampak khawatir.
Setelah di dalam, Pelita dan Panji menceritakan semuanya pada Anisa. Anisa terlihat sangat sedih juga sangat takut ketika mendengar cerita tentang apa yang terjadi pada keluarga tuan Bowo.
"Hais, masih ada aja orang kayak Santi itu. Lihat kan sekarang anaknya yang jadi korban!" keluh Anisa yang greget pada sosok Santi yang begitu culas pada sahabatnya sendiri.
"Ya sudah, kalian sekarang istirahat saja. Mama sudah ijin ke pihak sekolah. Nanti mama bangunkan saat makan siang. Mandi dulu kalian ya, bersih-bersih sebelum istirahat!" seru Anisa yang di balas anggukan kepala dari Panji dan Pelita bersamaan.
Sampai di lantai dua, Panji masuk ke dalam kamarnya karena memang dia sangat lelah. Dan Pelita juga masuk ke dalam kamarnya. Tapi baru Pelita menutup pintu, sosok hitam separuh putih sudah berdiri tepat di depannya ketika dia berbalik.
"Astaghfirullah, Shaka!" pekik Pelita terkejut sambil memegang dadanya.
"Kenapa sih kalau kaget yang di pegang dada? aku kan salah fokus jadinya?" tanya Shaka dengan wajah datar.
Pelita langsung nge-blush, biar Shaka itu makhluk dunia lain, tapi dia kan juga berjenis pria. Jadi Pelita malah canggung sendiri jadinya.
Pelita lantas menyingkirkan tangannya dari dadanya dan menjauh dari Shaka.
__ADS_1
"Kamu juga ngapain kalau nongol selalu ngagetin. Mana Carolina dan Jem?" tanya Pelita.
"Lagi di rumah, lagi berantem sama Serena!" jawab Shaka.
Pelita yang duduk di tepi tempat tidurnya lantas mengernyitkan dahinya.
"Serena? kayaknya aku pernah denger nama itu deh dari Carolina. Dia siapa?" tanya Pelita penasaran.
"Tadinya dia teman kami, tapi dia tukar jiwa putihnya pada Umbok, sekarang dia jadi jin super ngeselin. Jem sama Carolina terpancing, akhirnya mereka berantem!" jelas Shaka dengan ekspresi datar.
Pelita jadi ingin melihat seperti apa Serena itu, dan seperti apa kalau Jem, Carolina dan Serena berantem. Gak mungkin di tendang juga Serena nya, kan Carolina gak punya kaki. Kalau jambak-jambakan sih masih mungkin, soalnya rambut Jem kan panjang sampai kaki. Itulah yang sedang di pikirkan Pelita.
Namun Shaka langsung berkata.
"Tidak seperti itu, berantem mereka itu adu kekuatan. Sudahlah.. mana cerminnya?" tanya Shaka.
Pelita tercengang sebentar mendengar ucapan Shaka. Dia sempat lupa kalau Shaka bisa mendengar isi hatinya.
Pelita langsung mengeluarkan kotak dari tuan Bowo yang berisi cermin dengan bentuk oval berukuran 11×13 cm itu lalu memberikannya pada Shaka.
"Aku simpan ya Pelita, akan aman kalau aku yang simpan!"
Pelita pun mengangguk setuju mendengar ucapan Shaka. Dia juga merasa seperti itu, akan lebih aman kalau Shaka yang menyimpan.
"Hari ini kamu juga sudah menyelamatkan satu orang bukan, selamat ya. Sekarang kamu sudah punya kekuatan baru, kamu bisa gunakan itu untuk membantu orang lain. Meski terbatas hanya bisa di gunakan satu kali seminggu, tapi itu sangat berguna. Aku pergi dulu, kamu beristirahatlah!"
Ucap Shaka yang langsung menghilang begitu saja. Meninggalkan Pelita yang masih kebingungan tentang apa yang di katakan Shaka tadi.
"Kekuatan baru, aku? kekuatan apa?" gumam Pelita bingung.
***
Bersambung...
__ADS_1