Pelita

Pelita
Bab 26


__ADS_3

Ketiganya kini telah sampai di sebuah gapura yang terlihat tua dan tidak terurus. Terlihat dari warna cat yang sudah memudar dan juga nama desa yang tertulis di gapura kayu bahkan sudah nyaris tidak terbaca.


Namun dari petunjuk pemilik warung yang mereka tanyai di pinggir jalan, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gapura tersebut memang tempat itulah yang dikenal dengan desa Umbul Petang.


Panji dan Devano menghentikan motor yang mereka kendarai tepat di pinggir salah satu gapura.


"Kayaknya ini deh desanya, yuk masuk!" ajak Devano yang terkesan sangat bersemangat sekali untuk masuk ke desa itu secepatnya mungkin.


Pelita yang sebelumnya sudah mendapatkan peringatan dari Carolina pun memandang Devano dengan tatapan penuh selidik.


'Aih, Kenapa jadi dia yang semangat banget masuk ke desa ini. Apa benar kata Carolina, kalau memang sudah tahu kalau di desa ini ada pusaka tersembunyi. Huh.. Kenapa juga kapan aja kepikiran buat ngajak ini orang sih?' batin Pelita yang merasa kebetulan ini sangat tidak membuatnya tenang.


Setelah mendengar ajakan Devano, Panji lantas menoleh ke belakang di mana adiknya tengah tertangkap basah olehnya sedang memperhatikan Devano.


"Hayo, dek! Kenapa kamu ngeliatin Devano kayak gitu banget? suka ya?" tanya Panji dengan suara pelan pada Pelita.


Hingga apa yang dikatakan Panji itu hanya dapat didengar oleh Pelita dan Panji sendiri.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang Abang Pelita pun langsung memanyunkan bibirnya.


"Ck.. Abang apaan sih. Abang inget gak kata Mama sama papa kita ini masih kecil, kalau masih sekolah dan masih minta uang sama mama sama papa itu artinya kita masih kecil dan kita nggak boleh suka-sukaan sama orang!" sahut Pelita ya malah terkesan seperti sedang menasehati sang kakak.


"Iya iya, tapi kamu kenapa merhatiin dia kayak gitu kan Abang sudah bilang, Devano itu orangnya baik. Kalaupun kita cerita sama dia tentang apa yang terjadi sebenarnya sama kamu, Abang yakin kok dia bisa menjaga rahasia ini!" tutur Panji Yang sepertinya sangat mempercayai temannya tersebut.


"Bang, bagaimanapun juga baiknya seseorang yang baru kita kenal, kita nggak boleh percaya 100%. Kenapa? karena wajah dan sikap seseorang itu bisa menipu. Ingat kata mama dan papa gak?" kata Pelita lagi yang membuat wajah Panji sedikit bingung.


"Kamu kok makin tua sih kayaknya...!"


Plakkk


Belum selesai Panji mengatakan tentang kata-kata yang menyindir adiknya, lengannya sudah jadi sasaran empuk tangan Pelita yang merasa panas mendengar kata tua yang diucapkan oleh Panji untuknya.

__ADS_1


"Abang!"


Pekik Pelita kesal. Tapi Panji malah tertawa. Di tempatnya, Devano hanya bisa menghela nafasnya melihat Panji dan Pelita yang malah sibuk bercanda padahal dia sudah mengajaknya masuk ke desa itu sejak tadi.


Namun Devano juga tak mau mengganggu keasyikan kakak beradik di sampingnya itu. Jadi dia memilih diam dan menunggu saja kapan bercanda mereka selesai lalu mereka bisa masuk ke desa tersebut.


Setelah masuk desa, tempat pertama yang dituju oleh Pelita, Panji, dan Devano adalah rumah ketua RT. Namun mereka harus kembali terkejut, karena saat mereka menghampiri salah satu rumah yang terlihat lebih bagus daripada rumah yang lainnya, dan bertanya apakah rumah itu adalah rumah ketua RT. Hal yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya mereka dengar dari seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu rumah tersebut.


"Di sini gak ada ketua RT. Semua aturan di buat Tuan Bowo. Kalian siapa? darimana? dan mau apa ke desa ini?" tanya wanita paruh baya itu yang sepertinya menaruh kecurigaan terhadap Pelita, Panji dan juga Devano.


"Maaf Bu, kami sebenarnya ingin ke rumah nenek di desa Umbul Jeru. Tapi kami malah tersasar sampai di sini. Maksud kami ingin bertanya pada ketua RT, jalan yang bisa kami lewati untuk ke desa tersebut lewat mana. Dan sebenarnya kami juga sudah melalui perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Maksud kami ingin beristirahat sebentar di desa ini!"


Pelita dan Panji sampai melongok mendengar apa yang Devano katakan kepada wanita paruh baya tersebut. Panji yang memang mengetahui kalau Devano itu pandai bela diri dan pandai dalam ilmu akademi, mengenal temannya tersebut sebagai orang yang sedikit pendiam. Tapi pagi sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa selancar itu mengutarakan alasan yang sebenarnya hanya dibuat-buat saja oleh Devano.


Dan wanita paruh baya yang tadi mendengarkan alasan Devano pun seperti sedang mencari tahu apakah Devano berkata jujur atau tidak.


Setelah dia memperhatikan raut wajah Devano yang tidak berubah sejak tadi, wanita paruh baya itu pun keluar dari rumahnya kemudian menuju ke salah satu arah.


Panji dan Pelita pun langsung melihat ke arah Devano.


"Hei, bagaimana bisa kamu memikirkan alasan seperti itu?" tanya Panji pada Devano.


Devano malah hanya mengangkat bahunya sekilas.


"Aku hanya mengatakan apa yang saat itu aku pikirkan saja, tidak kurang tidak lebih!" kata Devano yang membuat Pelita semakin merasa kalau teman dari abangnya tersebut memang sepertinya menyembunyikan sebuah rahasia.


Mereka lalu kembali mengendarai kendaraan mereka, untung saja sebelum mendekati tempat ini mereka sudah mengisi full bahan bakar kendaraan mereka. Jadi mereka tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan bakar.


Setelah tiba di ujung jalan, seperti petunjuk dari wanita paruh baya di rumah sebelumnya tadi. Devano dan juga pak haji menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah besar. Dari semua rumah yang mereka lewati memang rumah itu yang paling besar.


Tapi di depan rumah itu banyak sekali orang yang sedang berkumpul. Banyak kendaraan dan terlihat beberapa orang yang bahkan terlihat seperti mengantri sesuatu.

__ADS_1


Devano dan Panji memarkirkan kendaraan mereka tidak jauh dari rumah tersebut. Setelah memastikan kendaraan mereka akan aman di tempat tersebut. Pelita, Panji dan Devano pun segera berjalan menuju rumah tersebut, yang katanya itu adalah milik seorang Tuan bernama Bowo.


Saat mendekati rumah tuan Bowo, Devano menghentikan seorang pria yang pakaiannya seperti pakaian adat jawa orang dulu. Dia bahkan memakai blangkon di kepalanya.


"Maaf pak, boleh saya bertanya?" tanya Devano pelan dan sangat sopan pada pria tua itu.


Pria tua itu juga langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar Devano bicara padanya.


"Iya!"


"Maaf pak, di rumah tuan Bowo ini ada apa ya? kenapa banyak sekali orang?" tanya Devano.


Pria tua yang memakai baju lurik dan blangkon itu pun mengernyitkan keningnya menatap Devano, kemudian pandangan yang beralih kepada Pelita dan Panji.


"Kalian dari mana?" tanya nya.


"Kami dari kota pak, kami mau ke desa Umbul Jeru, tapi kami kelelahan. Maksud kami ingin meminta izin untuk bisa beristirahat di desa ini sementara waktu!" jelas Devano dengan sangat sopan.


Panji dan Pelita sampai begitu terkesan pada ekspresi wajah Devano yang memang nyaris seperti orang yang sedang bicara dengan sangat jujur itu.


"Oh, iya benar. Tuan Bowo adalah orang yang paling disegani di desa ini. Bisa dibilang juga beliau adalah kepala desa di sini. Sudah berpuluh-puluh tahun seperti itu. Kalian memang harusnya minta izin kepada tuan Bowo. Tapi, sekarang tuan bawa sepertinya sedang sibuk. Anaknya sedang sakit, anak laki-laki satu-satunya lagi. Anak tuan Bowo ada delapan, tapi yang tujuh perempuan. Makanya tuan Bowo sampai mendatangkan orang pintar dokter dari desa sebelah bahkan dari kota untuk menyembuhkan anaknya tersebut, tapi anaknya itu tidak sembuh-sembuh juga. Ck... kasihan!" terang pak tua itu panjang lebar menceritakan tentang apa yang terjadi pada keluarga Tuan Bowo.


"Anak tuan Bowo sakit apa pak?" tanya Devano.


"Tidak tahu, tapi tidak bangun-bangun sudah 98 hari. Kadang malah suka kejang-kejang katanya. Padahal tuan Bowo berjanji, akan memberikan apapun pada siapa pun yang bisa menyembuhkan anaknya itu!" lanjut penjelasan pak tua tersebut.


"Apapun?" tanya Devano yang membuat Pelita melirik tajam ke arahnya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2