Pemikat Hati Pak Duda

Pemikat Hati Pak Duda
kesedihan maura


__ADS_3

perjalanan panjang selama di pesawat memakan waktu beberapa jam, membuat maura kecil mengantuk dan tertidur


sedangkan maura besar sedang menikmati pemandangan yang baru kali pertama ia lihat, wanita berusia dua puluh lima tahun itu nampak cantik natural tanpa make up tebal


diusianya harusnya gadis lain sudah lulus kuliah dan akan menikah, namun maura tak langsung melanjutkan pendidikannya akibat perpisahan orang tuanya saat dia lulus SMP dan menyebabkan dua tahun dia harus berhenti sekolah karena keterbatasan biaya


hingga ibunya mulai pulih dan menikah lagi dengan pak wisnu barulah maura kembali dapat bersekolah.


pak wisnu juga seorang duda karena istri dan anaknya meninggal dalam  kecelakan mobil.


"maura, kira-kira kita di suruh ngapain ya disana? aku takut deh!" ucap riska teman magang maura


"aku juga ngga tahu, anggap aja liburan gratis. iya kan?" maura tak mau ambil pusing mungkin usianya juga sudah cukup dewasa dibandingkan teman magang lainya


dan juga maura yakin barra bukan orang jahat. nyatanya ia membawa anaknya ikut pergi bersama


tak terasa sepuluh orang rombongan berserta tama, barra dan juga maura turun dari mobil yang menjemput ke bandara menuju hotel


"pembagian kamar sudah diberitahukan sejak awal, dan ini kuncinya masing-masing kamar" ucap tama menyerahkan kunci


"pa, maura ikut kakak ya pa please!" maura mengatupkan tangannya memohon pada barra


"oke tapi jangan kemana-mana sendirian, dan tidur tetap bersama papa" tegas barra


"siap pa! kakak tunggu" maura menghampiri maura yang mendengar panggilan nama kembarnya


"hei.... mama kamu ngga ikut? kenapa selalu sama papamu?" tanya maura sembari berjalan menuju kamar hotel

__ADS_1


pegawai lainya sudah terlebih dulu masuk kedalam kamar masing-masing dan anehnya maura hanya kebagian satu kamar satu orang, karena jumlahnya ganjil


"mamaku sedang liburan" jawab maura berbohong karena tak mau dikasihani orang lain


"oke, kalau begitu kamu juga liburan bersama kakak disini. kakak lapar bagaimana kalau kita beli es krim dulu" ajak maura


"oke kak"


setelah meletakan tas dan barang-barang karena belum ada informasi pekerjaan maura kuadrat berjalan-jalan dan memakan es krim


brukk


"maaf bu? ehh tante maaf ya ngga sengaja!" maura menabrak wanita cantik nan seksi


"bu loe bilang? tante? loe pikir gue tante loe. jalan pakai mata dong!" wanita itu memarahi maura dan membuat maura kecil menangis ketakutan


"mama, mama ini maura ma!" maura kecil menarik tangan olif


"siapa kamu? kenapa panggil gue mama, gue ngga punya anak kaya loe ngerti" olif menghidar dan pergi meninggalkan anak kecil yang sedang menangis


"tunggu!" barra menghentikan olif


"kenapa? ada masalah!" olif seolah tak mengenal mantan suaminya


"olif tunggu tolong jangan berbuat kasar pada maura, kali ini aja!" barra mendapatkan senyuman sinis dari olif


"sorry gue ngga ada waktu buat kalian! dari dulu ngga berubah kasih jajan anak yang mahalan dikit dong kasihan kurang gizi. jajan makanan pinggir jalan" ucap olif lalu meninggalkan barra dan maura yang masih dalam pelukan maura besar

__ADS_1


maura mengerti sekarang, kenapa anak kecil yang dipeluknya selalu mengikuti ayahnya pergi. dulu ia juga pernah merasakan apa yang anak kecil itu rasakan..


perpisahan orang tua


"terima ksih sudah menjaga maura, sayang kita kekamar ya?" ajak barra mengambil maura namun tak mau


"papa jahat! maura mau sama kakak aja" ucap anak kecil itu


"biar dia tenang dulu pak, nanti saya antar ke kamar bapak" ucap maura besar dan berjalan meninggkalkan barra sendirian


barra pun menurut. ia tak menyangka rencananya sudah gagal bahkan belum dimulai. barra berjalan menyusuri pantai sambil menyesap sebatang ro*kok untuk menghilangkan kekacauan yang terjadi


"sendiri aja loe giliran lihat cewek seksi" tama datang dan menepuk pundak barra


"lagian loe aneh-aneh aja deh, tapi gue bersyukur loe lihat langsung semoga loe sadar dan segera move on" tama melanjutkan ucapannya dan mengambil sebatang ro*kok juga miliknya menemani barra yang tak berbicara sepatah kata pun


jika sebelum punya anak dulu barra adalah orang yang mudah emosi, sekarang ia lebih bijak dan juga santai


"loe bener, yang belum move on gue bukan anak gue! harusnya maura tak perlu merasakan ini semua" barra mulai membuka suara


"yang terjadi biarkan saja, toh mungkin maura juga harus tahu agar kelak bisa mengetahui betapa sayangnya bapaknya,


ini acara tetap mau lanjut atau batal aja" tanya tama


"lanjut! gue ngga mau karyawan gue jadi pengangguran gara-gara masalah pribadi. besok pagi kita mulai biar yang pada istirahat dulu hari ini"


 barra meninggalkan tama dan menuju kamarnya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran

__ADS_1


"jangan lupa nanti malam bertemu dengan model iklan untuk promo produk besok!" ucap tama mengingatkan


barra hanya mengacungkan jempolnya


__ADS_2