
"maura, ini pengasuh barumu sayang?" ucap seorang wanita sok akrab pada maura
"dia mamaku, jangan ganggu kami!" maura marah melihat mamanya berjalan bersama anak kecil yang usianya tak jauh beda dengan maura
"aku mamamu sayang, pasti wanita ini pengasumu kan? Papa dimana nak?" olif berusaha mendekati maura agar papanya pun luluh kembali
"maura, sama orang tua harus sopan.
Dia juga mamamu! Jadi jangan kasar ya" nasehat yasmin dengan lembut
"heh! Ga usah ikut campur urusan saya dengan keluarga, pergi sana biar maura sama saya!" usir olif
"ayo ma kita pergi!" tmaura menarik tangan yasmin menjauh dari mama yang sudah maura benci
"maura, sayang! Ini mamamu nak!" teriak olif namun tak dihiraukan
"maaf ya kak, semua karena maura!" maura merasa bersalah pada yasmin
"maura tidak salah. Sudah ya kita kan mau seneng-seneng jadi jangan sedih!"
******
"bagaimana syutingnya, saya mau selesai sore ini juga!" perintah barra yang ditemani tama dan juga pak herman
"siang ini selesai pak, dan untuk editing bisa kita lakukan di kantor pusat saja. Akan segera saya selesaikan!"
Jawaban paling barra sukai
Tidak bertele-tele.
"ada apa sih buru-buru, maura masih ngambek?" tanya tama
"mau tahu aja urusan orang, beresin hari ini. Sore nanti kita harus pulang!" perintah barra
"siap bos, saya juga udah kangen istri!" ledek tama
"pak herman mari kita istirahat sejenak. Kita percayakan pada team saja
Mereka sudah pengalaman!" ajak barra
Pak herman mengkuti barra dan keduanya saling menikmati secangkir kopi dengan obrolan santai
"istri anda pasti bangga pak barra, sukses diusia muda!" pak herman mengulik masalah pribadi barra
"semoga saja pak!" jawab barra yang tak biasa memberikan privasi pada orang yang belum lama dikenalnya
"andai masih single saya kenalka. Pada anak gadis saya.
Saya berharap bisa punya menantu seperti anda!" puji pak herman pada barra
"bapak bisa saja! Yang lebih sukses dari saya tentu saja banyak pak!" barra merendah
"ini yang membuat saya suka, anda rendah hati.!"
Obrolan semakin panjang tentang hobi dan lain hal.
Hingga suara tepuk tangan tanda proses syuting telah selesai dengan baik
Barra melihat jam tangannya menunjukan pukul tiga sore.
"pak herman mau bareng dengan saya?" tawar barra yang bersiap ingin pulang
__ADS_1
Kurang lebih tiga hari ia pergi meninggalkan anaknya
Hal yang paling tak sabar ia tunggu ialah besok sesuai janji yasmin akan memberikan jawaban
"terima kasih pak, saya ingin menemui sahabat lama saya dulu. Kita bertemu lagi lain waktu!" ucap pak herman
Lalu meninggalkan lokasi
"biar supir aja yang bawa tam, kita dua hari ini kurang tidur . bahaya dijalan!" ucap barra
"siap, saya siapkan mobil dulu!"
*******
"maura ayo tidur. Besok pagi kan papa sudah pulang, nanti bangunnya kesiangan!" ucap yasmin
"iya mam yasmin, maura mau tidur dipeluk seperti kemarin!" pinta maura
"boleh!"
Yasmin langsung memposisikan tidur menyamping memeluk maura.
Hal tak pernah yasmin bayangkan sebelumnya. Mencintai pria yang telah memilik anak.
Namun kadang masih membuat yasmin ragu, benarkah barra mencintainya
Atau hanya karena maura
Keduanya terlelap dan terbawa ke alam mimpi yang indah
**
"ngga bisa besok emang? Tengah malem kelayapan!" ucap tama
barra tak menjawab hatinya sedang gelisah saat ini.
Barra turun di sebuah toko kue dan membeli sebuah kue cantik dan dihiasi kotak berisikan sebuah cincin
Dengan penuh semangat barra berjalan menuju kamar milik yasmin ditengah malam
"tok...tok...tokk!"
Barra terpaksa mengetuk pintu karena tak hapal pin pintu yasmin
Sebelumnya barra meminta ditemani sekurity agar tak mendapat masalah nantinya
yasmin yang memang terbiasa bangun tengah malam, mendengar suara ketukan pintu.
Karena penasaran yasmin mendekati pintu dan melihat dari lubang kecil.
Ada satpam dan seorang laki-laki mirip barra
Mungkin mau menjemput maura
"iya sebentar!" yasmin dengan baju seadanya dan rambut sedikit berantakan namun tetap cantik
ceklek
Suara pintu dibuka
"pak barra, kenapa ngga besok pagi aja jemput maura! Ayo masuk!
__ADS_1
Terima kasih pak sudah diantarkan.!" ucap yasmin
"sama-sama bu!" satpam pum pergi
Yasmin hendak menyalakan lampu
"happy birth day to yasmin!"
Ucap barra mengeluarkan kue dari kotaknya
Dan mendekatkan pada yasmin yang masih remang-remang antara sadar dan tidak
"bapak tahu dari mana ulang tahun saya!" yasmin masih tak percaya
"ngga perlu tahu, yang harus kamu tahu
Aku sangat merindukanmu!" barra meletakan kuenya dan memeluk yasmin yang tak siap
"sebentar saja, janji hanya sebentar!" sesuai ucapannya barra melepaskan pelukannya
Dan menarik yasmin agar duduk dan memakan kue yang dibawanya
"enak?" tanya barra
"heeemmm, mau coba?" yasmin menyuapi barra
"manis sepertimu!" goda barra
"dasar buaya, ngegombal terus aja!"
"lalu?" barra menunjuk cincin diatas kue
"kenapa?"
"kau lupa janjimu, sudah seminggu ini aku tersiksa. Apakah jawabanmu!" tanya barra serius
"maaf pak, tapi aku!.... Aku maunya dipakein cincinnya
senyum manis yasmin dengan pakaian sederhana,
Membuat barra makin gelisah
"jadi kamu mau jadi ibunya maura? Mau menerimaku jadi suamimu?" barra bahkan tak begitu yakin awalnya
Yasmin terliat begitu cuek dan dingin padanya
"kamu maunya jadi apa?" yasmin menodongkan tangannya agar barra menyelipkan cincin dijari manisnya
"terima kasih yasmin, terima kasih!" ucap barra sangat bahagia
"jangan senang dulu pernikahan kita belum mendapat restu orang tuaku dan ayah kandungku!" ucap yasmin
Padahal hanya tinggal meminta restu papanya saja.
Pak wisnu dan bu ratih sudah sejak.awal menerima dan setuju saja. Jika itu pilihan dan jodoh anaknya
"tidak masalah! Aku akan berjuang!" barra yang berniat memberikan kejutab tapi dia yang terkejut dengan jawaban yasmin
__ADS_1