
Yasmin yang tak bisa tidur sejak semalam barra datang memberikan kejutan
"kakak kenapa?" maura bangun dan mengusap-usap matanya
Melihat yasmin dengan mata panda terus memandangi jari manisnya
Yang sudah melingkar sebuah cincin
"hmm,, iya sayang! Maura sudah bangun? Maaf kakak ngga tahu!" ucap yasmin yang kebingungan harus menjawab apa
"kakak sakit ya? Kita kerumah sakit gimana?" maura sangat perhatian dan sayang begitu tulus pada yasmin
"ya ampun kakak senang sekali punya anak imut dan baik sepertimu!"
Upss yasmin keceplosan tak mampu menahan rasa bahagianya lagi
"anak? Jadi kak yasmin mau jadi mama maura?" tanya maura dengan penasaran
Yasmin mengangguk dengan tersipu dan menunjukan cincin di jari tanggannya
"cincin? Papa disini? dimana papa kak?" maura tak sabar mencari papanya
"tenang sayang! Papa semalam mau menjemputmu tapi sudah tertidur.
Jadi papa pulang lagi, kita siap-siap biar papa datang kita sudah siap" ajak yasmin
Yang juga tak sabar ingin bertemu sosok yang membuatnya tak bisa tidur hingga pagi menjelang
"iya mama!" maura dengan wajah yang tak kalah bahagia menyambut sang papa
Dan mulai memanggil yasmin dengan sebutan mama tanpa izin
Yang sudah ia lakukan beberapa kali sebelumnya
***
"haii anak cantiknya papa!"
Yasmin membukakan pintu untuk barra yang datang bertepatan dengan yasmin dan maura yang sedang sarapan setelah bersiap
Yasmin masih terdiam rasanya jantungnya bukan hanya berdetak saat ini tapi juga sedang ngedance dengan sangat cepatnya
"papa!" maura memeluk papanya dan meminta gendong
Setelah beberapa hari tak bertemu maura menjadi sangat manja
Karena merindukan sosok yang biasanya tak pernah absen dari hari-harinya
"iya sayang!" barra memeluk anaknya dan tangan satunya meraih tangan yasmin yang masih terdiam melihat pelesan rindu anak dan ayahnya
barra mengajaknya duduk dan maura masih berada dalam pelukannya sambil berceloteh
Menceritakan semua hal yang dialami tanpa papanya
__ADS_1
"pa! papa dengerin maura ngga sih!" tanya maura melepasakan pelukannya
yasmin mencoba melepaskan tangan barra namun malah ditahan dengan kuat agar tak terlepas
"iya sayang! Papa dengerin maura.
Papa bawa banyak hadiah dirumah oma! Kita pulang ya dan mama sama papa ada keperluan
Oke sayang!" ucap barra dengan lembut pada anaknya
Membuat yasmin semakin yakin dengan ketulusan dan kelembutan hati sang calon suami
"emm ngga mau, baru dateng papa udah mau pergi lagi!" maura melipatkan tangannya didada tanda ia sedang marah
Barra melirik yasmin agar merayunya
"kalau maura mau ikut kakak sama papa boleh kok!" yasmin bukannya membujuk malah menyetujui permintaan maura
"hore...hore!" ucap maura kegirangan
Sedangkan barra meminta penjelasan dengan yasmin yang terlihat santai saja
"kita kan harus menemui orang tuamu dulu, itu sangat jauh sayang. Maura harus sekolah!" ucap barra
Yasmin merasa ada benarnya juga ucapan barra
Akhirnya yasmin memberi penjelasan pada maura
"sayang, maura mau kak yasmin jadi mama maura kan?" yasmin bertanya dengan lembut pada maura
"mau dong ma!" maura mengangguk
Yasmin kan anak pintar. Lain kali kita main bertiga oke!" yasmin menuturkan kata demi kata
Dan membuat maura mengerti
"oke! Tapi jangan lama-lama mama harus segera tinggal dengan maura!" pinta maura dengan memberikan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian yang biasa dilakukan
Yasmin menautkan jari kelingkingnya. Barra hanya menjadi penonton dan melihat layaknya seorang ibu dan anak kandungnya
Yang membuat barra sedikit terharu
"anak baio dan pinter, muaachhh.... Muachh!" barra mengecup kedua pipi maura
Namun satu maura besar dan satu pipi maura kecil
"papa!"
Pak barra!"
Keduanya maura protes pada barra
"hahahaha.... Maaf papa salah pipi!" padahal maura dan yasmin tak terlalu dekat
"ayo berangkat!" ajak barra
__ADS_1
*********
"pa, ma ini maura yasmin calon istri yang barra ceritakan!" barra mengenalkan yasmin pada orang tuanya
"heii maura!" sapa brian yang melihat yasmin datang namun ia belum terbiasa menyebut namanya menjadi yasmin
"brian!!" tegur barra tak terima
"iya kak, selamat pagi kak yasmin!" brian mengingat yasmin tak mau lagi dipanggil maura dan duduk bersama orang tuanya
Sedangkan maura sibuk dengan membuka hadiahnya ditemani dengan asisten rumah tangganya
"kami selalu mendukung, yang terpenting kalian semua bahagia selalu!" ucap bu sarah padahal belum ada permintaan restu
"kalau bisa disegerakan saja nak, oma dan opa sudah tua kasian melihat maura diurus bapaknya sendiri!" sahut pak dirman
Yasmin merasa langkahnya sudah semakin dekat menjadi istri barra
"gimana sayang?" tanya barra dengan entengnya
"emm terima kasih pak, bu. Maaf kedatangan saya mendadak dan membuat suasana menjadi seperti ini!" jawab yasmin yang gugup
"kami sudah lama menunggumu! Barra hanya bisa mencritakan saja tanpa membawamu kesini!" bu sarah antusias
"terima kasih juga sudah menerima saya bu,! Ucap yasmin lagi
"harusnya kami yang berterima kasih, ya sudah kata barra kalian harus ke rumah orang tuamu kan! Berangkatlah sekarang biar tidak kemalaman
Kami bahagia dan semoga kalian mendapatkan jalan yanh mudah!" ucap bu sarah
Barra telah meminta izin pada orang tuanya untuk meminta restu pada orang tua yasmin sebelum menjemput maura pagi hari
"iya ma, pa kami pamit dulu ya. Nitip maura!" ucap barra
Yasmin juga berpamitan dan mengikuti barra menuju mobilnya
"kita kemana dulu sayang!" tanya barra sembari menjalankan mobilnya
"pak jangan panggil gitu dong! Aku malu!" ucap yasmim yang sebenarnya senang namun semuanya serba dadakan menurutnya
usia keduanya yang terpaut sepuluh tahun membuat pemikiran jelas berbeda
Terlebih lagi barra sudah pernah berumah tangga sebelumnnya
"yang mana?" barra menggoda yasmin
"ya panggilan itu!"
"iya yang mana, dan kenapa harus malu!" bantah barra
"sayang!" ucap yasmin
"hemm iya sayang!" jawab barra lagi
"maksudnya jangan pakai panggilan itu pak!" yasmin mendengus kesal
__ADS_1
Iya tahu barra sedang mengerjainya. Jadi yasmin juga pura-pura ngambek
Sepanjang jalan barra terus membuat yasmin tertawa dan kesal agar tak membuat perjalanan canggung dan terasa lama