
malam hari yasmin selesai dengan ritual mandinya sebelum tidur
"mau kemana ma?" tanya barra melihat yasmin membelokan langkahnya menuju pintu keluar
"mau temani maura main" ucap yasmin datar
"yasmin, sayang!!" barra dengan cepat menghalangi yasmin yang sudah didepan pintu
"kenapa mas?" yasmin masih tak mau menatap barra
"sini kita bicara dulu, mas mau kasih tahu sesuatu" ucap barra membawa yasmin kembali ke ranjang
"nanti saja mas, keburu maura tidur" yasmin ketakutan jika barra mengajakanya melakukan yang iya-iya karena ia sedang marah tentu saja tak mau
"hayo mikir apa? hemmm sini mas cuma mau bicara aja! janji ngga ngapa-ngapain, kalau ngga kepepet" ucap barra yang masih dengan becanda
barra tetap memegang tangan yasmin agar tak pergi dan memperlihatkan dompetnya
"ini yang membuatmu marah?" tanya barra menunjukan sebuah foto maura dan juga mama kandungnya saat maura masih kecil
"siapa yang marah, kan emang dia mamanya maura" ucap yasmin menahan kesalnya dan airmatanya
dia sosok yang tegar tapi entah kenapa saat berhadapan dengan barra yasmin menjadi gadis manja
"iya sayang, tapi ini satu-satunya foto maura yang ada saat kecil. pada saat itu mas terlalu sibuk dengan merintis pekerjaan hingga melupakan maura dan mamanya" barra menceritakan sedikit masalalunya
"ini maura yang menaruhnya disini dan dia bilang. foto ini akan tetap disini sampai maura sendiri yang memngambilnya kembali. sejak orang tuanya berpisah hanya itu permintaan maura" ucap barra lagi
"dan bahkan mas lupa jika foto ini berada disini, maafkan mas ya sayang. mas ganti dompet saja biarkan ini dipegang maura sendiri! bolehkah mas lakukan itu atau mas harus membuangnya sekarang" tanya barra menatap yasmin yang bercucuran air mata
kekesalannya berubah menjadi kesedihan untuk maura kecil yang sangat menyayangi orang tua, tak jauh beda dengan yasmin yang orang tuanya juga berpisah
"sayang,, yasmin!" panggil barra
yasmin tak bicara apapun ia tertunduk dan merasa sangat bersalah pada maura, mengapa ia egois
__ADS_1
barra memeluk yasmin dan mengusap punggungnya.
"maaf mas,maafin aku yang masih kekanak-kanakan" ucap yasmin yang terlontar saat tangisnya mulai reda
"heii sayang, lihat mas! kamu tidak salah, maafkan mas yang ceroboh harusnya lebih tahu perasaanmu" ucap barra pun merasa bersalah
"engga mas, harusnya aku bertanya bukannya mendiamkanmu" yasmin pun akhirnya mengaku
"jadi istri mas yang paling cantik ini cemburu ya?" goda barra agar yasmin tak terus menangis
"sembarangan!! aku kesel sama mas, bukan cemburu" yasmin mengelak dan memukul dada barra
barra justru bahagia artinya yasmin sudah kembali seperti biasanya
"kenapa dipukul malah ketawa!" yasmin protes
"karena kamu terlalu manis, apakah mas rela jika membalas memukulmu!" jawab barra mulai menggombal
"dasar kang gombal!" ucap yasmin
barra mengabsen semua bagian wajah yasmin dengan kecupan kilas
"ini balasannya karena sudah mukul mas, mulai sekarang jika ada apapun yang menggajal di hatimu. bilang saja pada mas
jangan malah ngambek lagi, mas ngga mau didiemin tanpa tahu alasannya, paham sayang!" barra mengusap rambut yasmin yang lembut
"iya mas, tapi kamu juga jangan bikin aku cem,,, kesal" ucap yasmin hampir keceplosan
"cemburu boleh, mas malah senang! tapi liat dulu dong kan memang yang suka sama suamimu ini banyak!" ucap barra dengan sombongnya
"ehh,jangan sayang" barra menahhan lemparan bantal dari yasmin
"narsis banget jadi cowok" yasmin tak terima
"ya sudah maafin mas ya sayang, mas akan belajar jadi lelaki yang lebih mengerti istrinya. dan mas harap kamu tidak akan pernah meninggalkan mas sampai kapan pun" ucap barra memeluk yasmin kembali
__ADS_1
"mama!!!! ma, mama" maura menggedor pintu kamar
"maaf mas, aku udah janji mau temani maura tidur" yasmin melepaskan pelukannya tapai tidak bisa dengan tubuhnya
barra tak mau melepaskannya
"mas, kasihan maura" ucap yasmin
"cium dulu, itupun hanya izin untuk temani sampai tidur bukan tidur disana oke!" ucap barra
"mas!!!"
"iya sayang!!"
"mas buruan lepasin" yasmin memberontak
barra menyodorkan bibirnya. yasmin yang tak tahan mendengar maura teriak dan menggedor pintu
pun melakukan permintaan barra
Muaaaacchhh
dan tak smeudah itu saja barra justru menarik tengkuk yamsin dan memperdalam ci*umannya hingga keduanya terlena dan melupakan jeritan anaknya dari luar
"emmm",
"auuuu"
yasmin menggigit bibir barra agar menyudahi pergulatan bibirnya
"mas tunggu, atau mas gendong seperti semalam" barra mengedipkan sebelah matanya menggoda yasmin
yasmin membuka pintu dan melihat para pembantu kesusahan meredakan tangis maura, yasmin menggendong maura dan membawa masuk ke kamar anaknya
sedangkan barra tersenyum mengingat apa yang ia lakukan, umurnya tak lagi muda tapi cintanya kita membuatnya merasakan cinta manis
__ADS_1
setelahnya barra mengingat ada pekerjaan yang dikirimkan oleh tama untuk segera dikerjakan