
"mas!" panggil yasmin setelah keluar dari kamar mandi
Yasmin tersenyum pada sosok lelaki yang sibuk dengan ponselnya dimana pun berada
"sudah siap?" tanya barra penuh tanda tanya dengan tatapan yang sulit diartikan
"apanya mas?" tentu saja yasmin bingung
"sini!" ajak barra menepuk tempat sebelahnya agar yasmin duduk menemaninya, "jangan terlalu banyak senyum! Gula bisa jadi hambar kalau melihat senyummu!" ucap barra
yasmin duduk disamping barra dan menacungkan jempolnya
"luar biasa! baru tahu aku kalau pak barra yang selama ini so cool dan tak banyak bicara.
Ternyata tukang gombal!" meski dengan pipi merahnya yasmin tetap mengomentari rayuan sang suami
"pantes aja banyak yang suka caper!" yasmin menyungutkan bibirnya
barra mendekatkan tubuhnya dan merangkul tubuh yasmin
dibawanya kepala yasmin menyandar pada pundaknya
"percaya atau tidak, mas hanya melakukan hal aneh ini padamu!!" barra mengecup kening yasmin
"mana ada maling ngaku mas, pasti dulunya juga sering goda-godain cewek-cewek kan?" yasmin memandang wajah barra yang tegas dan teduh
"mas! Apa menurutmu maura serius atau hanya mendengar ucapan mama dan papa saja!" yasmin sedikit terganggu dengan permintaan maura
Bukan tak mau atau tak suka, yasmin ingin semua mengalir saja
Bukan terburu-buru
"sayang! Kita jalani semuanya berdua. Hanya kita yang tahu bagaimana yang terbaik untuk anak-anak kita nanti!
Mas tidak akan memaksa harus secepatnya atau menunda.
Semua atas keputusan berdua, jadi jangan pikirkan hal yang membuatmu tak nyaman, paham!" barra dengan sabar menenangkan hati yasmin yang galau
"mas ngga apa-apa kalau aku belum ingin secepatnya!" tanya yasmin penasaran
"tidak.masalah! Karena anak bukan hanya jumlah dan juga lama atau cepatnya
Semua itu titipan yang harus kita rawat, didik dan jaga dengan baik.
mas menikahimu karena ingin menghabiskan sisa umur ini bersamamu!
Anak nantinya akan pergi bersama keluarga barunya.
Tetap bersamaku dan jalani hari kita sampai menua bersama!" barra bak seorang puitis
Mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya
Ia sudah sangat bersyukur mendapatkan yasmin baginya itu sudah lebih dari cukup
"tapi ingat!" ucap barra menggatung
"apa mas? Aku lupa sesuatu?" yasmin penasaran
Barra mengangkat tubuh yasmin dan memindahkannya ke ranjang milik keduanya,
"buat anaknya ga boleh ditunda!"
__ADS_1
Tanpa babibu
Barra melepaskan kaos tipis yang menepel dibajunya. Dibuang kesegala arah
Setelah meletakan yasmin dengan nyaman dan pasrah
Selain tak mungkin melawan tenaga barra, yasmin juga mulai ketagihan dengan rasa yang hemmm
Sulit dijelaskan dengan kata-kata
Baju yang dikenakan yasmin pun melayang meninggalkan tubuh indah sang empunya
Malam semakin larut suasana sepi menyapa
Dua insan yang dimabuk cinta tengah beradu dalam manisnya penyatuan jiwa
Lenguhan suara yasmin menyeruak di dalam kamar yang luas,
Barra masih terus membuat yasmin terbang melayang
Tak hanya sekali, pasangan baru menikah beberapa hari ini terus menuntaskan hasratnya
Dengan saling memuji satu sama lainya
Hingga keduanya tergulai lemas tak bertenaga, soal umur barra memang jauh dari umur yasmin
Tapi soal menyenangkan istri tak diragukan lagi,
"mas, sudah mas! Aku lelah , ngantuk!" yasmin menyerah pada sang petarung tangguh
Melihat jam di dinding menyadarkan barra sudah dua jam lebih ia menggempur istrinya hingga bendera putih berkibar
"maaf sayang! Kamu sih bikin enak" masih sempatnya barra menggoda yasmin yang hanya untuk bernafas saja sudah sengal
Bertukarnya slavi keduanya
Lalu memeluk yasmin dan ikut bersama mimpinya
****
"mama! Maura kesiangan mau sekolah! Huuuuu huuuu!" maura menangis di depan pintu kamar papa dan mamanya yang masih nyaman di alam mimpinya
Sekolah maura yang jauh dari rumah barunya membuatnya harus berangkat lebih awal
Sedangkan ia tak mau hanya diantar supir dan pengasuhnya.
"bu, pak! Non maura mau sekolah, minta diantarkan!" ucap mbak mia yang bingung maura tak mau sekolah
"hemmm, siapa?" yasmin yang sulit membuka matanya
Mulai mengerjapkannya mendengar suara ribut diluar kamarnya
"mama! Ma maura mau sekolah!" maura berteriak
Tapi bukannya bangun yasmin malah menganggap panggilan anaknya sebagai mimpi
Dan melanjutkan dengan indahnya
di luar kamar
tama datang untuk menjemput barra, hari ini adalah hari pertamanya masuk kerja kembali setelah cuti istrinya melahirkan
"om, mama sama papa ngga bangun! Maura telat sekolahnya om!" maura memeluk kaki tama
Tama layaknya papa kedua bagi maura yang sering ikut kerja barra terlebih jika diluar kota
__ADS_1
"tenang sayang,
Tunggu sebentar ya!" tama mencoba menggedor pintu bukan lagi di ketuk
Ia tahu kamar bosnya pasti telah dipasangi peredam suara
"ada yang tahu pasword pintu kamar ini?" tanya tama pada pengasuh dan supir barra
Keduanya menggeleng kepalanya,
begitu juga dengan maura yang tak tahu apa pasword pintu kamar papanya.
Tentunya untuk menjaga privasi
"maura berangkat sama om aja ya, om juga buru-buru ngga bisa tungguin papa bangun!" ucap tama
"iya om, pasti ini papa yang bikin mama ngga bangun!" kesal maura
Ia meminta tasnya pada pengasuhnya dan dengan terpaksa berangkat bersama tama
Dengan wajah ditekuk
"maura katanya mau punya adik, bener ngga?" tanya tama saat perjalanan ke sekolah maura
"iya om, tapi mama ngga kasih!" ucap maura makin sedih
"belum sayang, kan adik itu buatnya lama. Terus nanti diperut juga lama baru lahir jadi adik maura.
Kalau maura mau cepet, om punya dede bayi maura bisa anggap adik maura!" ucap tama
Yang kini menjadi seorang ayah dan paham dengan apa yang barra lakukan untuk anaknya
"boleh om, maura mau om!" maura kembali ceria dan saatnya turun dari mobil sudah sampai disekolahnya
Lalu tama putar balik dengan kecepatan ekstra untuk mengebom bosnya yang tak tahu aturan
***
"sudah bangun belum mba?" tanya tama dengan wajah resehnya
" belum pak!" mba mia membereskan mainan maura
dan membiarkan barra ke kamar bosnya karena tahu tama adalah orang kepercayaan barra.
Tama memencet asal pada pintu barra
tentu saja suaranya terdengar dari dalam
barra merasa terganggu dan membuka pintu dengan wajah kusut, rambut berantakan dan juga tanpa baju
Barra hanya mengenakan celana boxer untuk menutupi bagian intinya
"brisik!"
"bagus ya bos!" tama yang lebih galak kali ini
"ngapain pagi-pagi datang kesini! Ganguu orang saja. Udah sana urus popok anakmu!" barra mau menutup pintunya lagi
"ini sudah jam tujuh! Mau bangun atau mau lanjut tuh berantakin kamar! Anak bukam diurus sibuk bikin anak.baru!" kesal tama
Harusnya ada meeting pagi ini dan semua batal
"maura! Sayang bangun maura berangkat sekolah!" barra membangunkan yasmin tak lupa mentup pintu dengan kencang
Karena terkejut mengetahui jam saat ini
__ADS_1