Penantian Kinanti

Penantian Kinanti
Bab 11


__ADS_3

Finally selesai juga buat laporan yang disuruh bos jutek itu, batin Kinanti, lalu dia berjalan ke arah ruangan bos juteknya itu.


Tok tok tok


"Masuk", perintah Dimas.


"Maaf pak ini laporan yang bapak minta", kata Kinanti sambil menyerahkan laporan tersebut. Dimas membaca kertas itu lalu menaruhnya diatas meja kerjanya.


"Bagaimana pak, apa ada yang harus saya perbaiki". Dimas cuma menggeleng kepalanya.


"Apa sekarang saya sudah boleh pulang", tanya Kinanti lagi.


"Ya sudah kamu boleh pulang sekarang",kata Dimas, akhirnya ada suaranya juga tuh bos, batin Kinanti.


"Oke pak bos, makasi ya, saya pamit pulang dulu", kata Kinanti sambil berjalan ke arah pintu. Baru beberapa langkah kinanti berjalan, dia merasa kepalanya sakit sekali sehingga dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, langkahnya oleng, untung saja Danu melihatnya, dengan sigap dia langsung menangkap tubuh kinanti hingga kinanti tidak sampai terjatuh.


"Bu kinanti kenapa", tanya Danu, sambil membawa Kinanti ke sofa tuk duduk.


"Hei kamu kenapa, kalau jalan hati-hati, itulah kalau bawaannya pengen buru-buru pulang mulu", bukannya khawatir bos jutek malah ceramah.


"Saya ngga apa-apa, cuma kepala saya berat sekali, boleh ngga saya rebahan sebentar di sofa pak, saya ingin memejamkan mata saya sebentar", kata Kinanti.


Hmmmm.... cuma itu yang terdengar oleh kinanti, selanjutnya Kinanti sudah memejamkan matanya dan tertidur. Entah berapa lama Kinanti tertidur, dia terbangun saat mendengar suara Dimas menelpon seseorang. Dilihatnya jam yang ada di dinding ruangan ini sudah menunjukkan jam 18.45, waktu maghrib sudah lewat.


"Pak ...makasi ya saya sudah diijinkan tiduran di sofa, sekarang saya mau pulang, sudah malam", kata Kinanti sambil bangkit dari duduknya dan berdiri, tapi ternyata dia masih merasa pusing sekali hingga akhirnya dia duduk kembali sambil memijat keningnya.

__ADS_1


Dimas yang melihat kejadian itu lalu berkata, "Danu....kita antar dia pulang, dari pada ntar dia kenapa-kenapa di tengah jalan".


"Baik bos", kata Danu.


"Ngga usah pak terimakasih, saya naik ojek online aja", tolak Kinanti.


"Kamu membantah perintah saya, kamu aja masih jetlag gitu, masa saya tega sama pegawai saya", kata Dimas panjang lebar.


Tanpa menunggu persetujuan Kinanti Danu menuntunnya berjalan ke arah lift diikuti oleh Dimas, lalu mereka pun naik mobil yang sudah menunggu di depan lobby.


Kinanti memejamkan matanya selama di dalam mobil, dia membuka natanya saat mobil berhenti dan melihat keluar, ternyata mobil berhenti di parkiran rumah sakit.


"Kenapa kita berhenti disini pak, bapak mau jenguk ya atau mau berobat",tanya Kinanti.


"Danu....kamu sudah daftar kan", tanya Dimas.


Lalu mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah dalam rumah sakit, lalu mereka berhenti di poli umum, dan duduk di bangku tunggu.


Seorang suster keluar dari arah dalam poli, lalu memanggil nama "ibu Kinanti", katanya. Aku bingung lalu menatap Dimas dan Danu bergantian.


"iya kamu, hayuk masuk", kata Dimas berjalan masuk ke ruangan itu. Sampai di dalam Kinanti di tensi darahnya, dan tampak di dalam ruangan itu juga duduk seorang dokter muda, tampan, dikyrai kerjanya, duhh ni mata masih bisa juga liat yang bagus-bagus, batin Kinanti.


"Malam dok", kata Dimas ramah.


"ehh pak Dimas, malam pak, siapa yang sakit, bapak?, tanya dokter itu.

__ADS_1


"Bukan dok tapi dia, sambil menunjuk ke arahku.


"Mari Bu berbaring, saya periksa dulu", kata dokter tampan itu. Setelah diperiksa Kinanti dan Dimas duduk di depan meja dokter.


"Tensi darah ibu rendah, itu ya g menyebabkan ibu sakit kepala, asam lambung ibu juga saat ini tinggi, ini saya kasih resep ya Bu, jangan lupa diminum obatnya", dokter itu menjelaskan.


"Untuk sementara hindari makanan yang pedas-pedas ya", kata dokter itu lagi.


"Makasi dok" kata Dimas sambil menyerahkan resep kepada Danu.


Kami pun berjalan keluar ruangan menuju apotik tuk menebus obat.


"Makasi pak sudah membawa saya berobat", kataku pelan. Hmmm...cuma itu yang kudengar dari mulut Dimas.


Setelah obat diterima kami pun langsung bergegas untuk segera pulang.


"Sekali lagi makasi ya pak Dimas dan pak Danu atas bantuannya, sekarang saya mau lanjut naik taksi saja", kata Kinanti.


"Ngga, kami akan antar kamu sampai ke rumahmu", kata Dimas. Akhirnya mobil melaju ke arah kosanku.


/////////////-//////////-/////////////-////////////-////////////////


Hai readers makasi ya sudah mampir ke cerita saya, jangan lupa tuk kasih like, tip, vote dan komen karena saya butuh saran dari kalian sebagai penulis baru.


Jangan lupa tuk mampir juga ke cerita saya yang berjudul Seputih cinta Karina.

__ADS_1


Thanks readers....love u ♥️♥️


__ADS_2