Penantian Kinanti

Penantian Kinanti
Bab 41


__ADS_3

Didalam pesawat Kinanti duduk disebelah Dimas didekat jendela, sedangkan Danu dan Julio duduk dibelakang bangku nereka. Jujur ini adalah pengalaman pertama aku naik pesawat terbang jadi aku agak bingung juga.


Pramugari sudah mulai mempraktekkan tata cara memakai seatbelt atau sabuk pengaman, masker oksigen, baju pelampung, juga memberitahukan pintu dan jendela darurat.


"Kenapa seatbelt nya belum dipasang?" tanya Dimas yang ternyata dia melihat kebingunganku.


"Maaf pak, oh iya sabuknya pak."kata Kinanti tersenyum kepada Dimas tapi tak juga memasangnya, akhirnya Dimas mendekatkan tubuhnya ke arah Kinanti tuk mengambil tali yang ada disisi kanan kinanti, sehingga tubuh mereka sangat dekat sekali. Kinanti yang kaget dengan apa yang dilakukan Dimas berkata, ". bapak mau apa, tolong bapak mundur lagi".


" Selesai." kata Dimas.


" Selesai.... apaan pak?" tanya Kinanti heran


"Selesai memasangkan seatbelt kamu lah, emangnya apaan. " kata Dimas.


" Ohh kirain apa." kata Kinanti.

__ADS_1


"Jangan ngeres deh, kamu pikir saya mau aneh-aneh, saya masih waras ini di pesawat, kalau mau aneh-aneh ntar di hotel saja. Kinanti langsung mendelikkan matanya kepada Dimas, dan Dimas yang menyadari hal itu langsung tertawa terbahak-bahak sambil berkata" Tenang Kinan saya cuma bercanda kok, tumben hari ini kamu ngga bisa diajak bercanda, lagian kamu diam aja ngga segera memasang seatbeltnya bagaimana kalau pesawat tau-tau terbang, kamu bisa-bisa tersungkur jatuh." jelas Dimas dengan intonasi tinggi.


" Lagian bapak juga tumben ngajak bercanda, tapi jujur ya pak cara bapak bercanda dan ngga sama aja Lo keliatannya, datar gitu ekspresi bapak, kecuali saat bapak ketawa baru deh beda." celetuk Kinanti.


" Jujur pak ini pengalaman pertama saya naik pesawat." gumam Kinanti sangat pelan.


" Whaaat.... Appaa....ngga salah kamu." Dimas merasa kaget mendengar apa yang dibilang Kinanti terus dia terawa.


" Cihh memang salah ya pak kalau saya baru kali ini naik pesawat, kenapa ekspresi bapak sampai segitunya, biasa aja kali pak." protes kinanti sambil mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah manyun, Dimas pun menyadari kata-kata dan sikapnya yang sudah menyinggung perasaan Kinanti.


"Saya bukan berasal dari keluarga mampu pak, kami ngga pernah pelesiran jauh-jauh." ujar Kinanti.


" Kami paling juga pergi ke pantai, kebun binatang, atau tempat pariwisata yang bisa dijangkau dengan mobil dan juga tidak mahal, saya bisa kuliah saja sudah syukur Alhamdulillah pak, hidup kami sangat sederhana, bapak cuma pegawai negeri, ibu cuma ibu rumah tangga biasa, jadi kami jarang jalan-jalan pak." cerita Kinanti.


" Duh maaf pak kok saya malah curhat ngga jelas ya." kata Kinanti.

__ADS_1


" Saya yang harusnya minta maaf Kinan... gara-gara saya kamu jadii....."


"Ngga apa-apa pak, biasa aja." potong Kinanti yang lalu menatap awan dari kaca jendela.


Tiba-tiba Kinanti memegang erat tangan Dimas sambil memejamkan matanya saat pesawat terasa berjalan diatas bebatuan.


" Tenang Kinan, ngga apa-apa kok, seperti kita naik mobil saat melewati bebatuan pasti jalannya ngga mulus begitu pula dengan pesawat saat melewati awan hitam akan sama." jelas Dimas sambil mengelus-elus tangan Kinanti memberi ketenangan.


Setelah pesawat berjalan mulus Kinanti membuka matanya dan dia merasa kaget karena tanpa disadari dia memegang erat tangan Dimas.


"Maaf ya pak saya ngga tau kenapa tangan saya bisa megang tangan bapak." kata kinanti malu.


" Maaf ya pak, saya ngga sengaja loh." kata Kinanti lagi. Dimas pun menganggukkan kepalanya.


Diam-diam Dimas memandangi Kinanti yang sedang memandang keluar jendela pesawat dia ngga malu-malu menceritakan keadaan keluarganya, batin Dimas.

__ADS_1


Terdengar pemberitahuan kalau pesawat sebentar lagi akan sampai di kota BB.


__ADS_2