
"Panjang umur tuh orang", gumamku pelan kepada Ratih.
"Kenapa", tanya Ratih, lalu mataku memberi kode tuk melihat kearah depan, tampak Dimas, Danu dan entah siapa lagi yang sedang berjalan ke arah pintu keluar. Dimas terlihat gagah dengan jas warna navy dan kemeja warna biru muda dipadu dengan dasi warna senada, Danu pun tak kalah tampan dengan jas warna coklat susu dan kemeja warna krem.
"Siang pak", kataku, Ratih dan Ryan berbarengan.
Kulihat Dimas menganggukkan kepalanya dengan wajah Tanpa ekspresi sedangkan Danu menggangguk sambil tersenyum.
"Tuh kan liat dia mahh bos jutek, salam kita aja ngga dijawab, ngga ada senyuman pula diwajahnya, masih mending pak Danu ngasih senyuman", kataku sebal.
"Mungkin begitulah para petinggi Kin", kata Ratih.
"Ya sudah biarkan saja ya, yang penting saya ngga kan", kata Ryan mencoba melucu. Aku dan Ratih pun tertawa.
"Iya pokonya bapak mahh keren deh, baik hati dan tidak sombong", kata Ratih memuji Ryan.
"Ahh kamu Tih bisa aja, lagian jabatan saya dengan kalian sama, beda jauhlah dengan pak Dimas", kata Ryan lagi.
"Dih pak Ryan mahh suka gitu, merendah, ya jelas tinggian bapak lah posisi ya dengan kita di kantor ini, kita mah cuma ecek-ecek, bapak direktur keuangan", lanjut Ratih. Tapi memang Ryan itu orangnya ngga sombong, makan siang dengan kita pun jasnya dibuka.
"Hei belok sini, kalian mau kemana, ngga sholat dhuhur dulu", kataku mengingatkan saat kulihat mereka jalan lurus ke arah depan.
"Oh iya ya", kata Ryan.
__ADS_1
"Aku lagi cuti Kin", kata Ratih.
Akhirnya aku dan Ryan belok menuju mushola, sedangkan Ratih langsung menuju ruangannya. Selesai sholat aku dan Ryan langsung menuju ruang kerja kami, aku melanjutkan membuat laporan yang diminta Ryan, sedangkan Ryan langsung ke ruangannya sendiri.
Selesai juga laporan dan berkas-berkas tuk penagihan, akupun berjalan menuju ruangan Ryan tuk menyerahkan laporan yang sudah aku buat.
Tok tok tok, aku mengetuk pintu ruangan Ryan.
"masuk", kata Ryan.
"pak...ini laporan dan berkas yang bapak minta", kataku sambil nenyerahkan map berisi berkas-berkas dan laporan.
"Makasi ya Kin", katanya.
"Tunggu Kin, hampir saja saya lupa, tadi kamu disuruh ke ruangan pak Dimas", kata Ryan lagi.
"Tuk apa pak, disuruh nemenin meeting lagi, tapi ini kan sudah sore pak", tanyaku sambil melihat jam di tangan kiriku.
"Saya juga kurang tau Kin, tapi kayaknya bukan nemenin meeting deh sebab pak Danu cuma bilang kamu disuruh ke ruangannya aja", Ryan menjelaskan.
"Oke pak saya ke ruangan pak Dimas dulu ya", kataku lagi dan Ryan mengangguk.
Aku pun berjalan keluar ruangan Ryan menuju lift karena ruangan pak Dimas berada dua lantai diatas ruanganku.
__ADS_1
Ting...lift berhenti di lantai ruangan pak Dimas, aku pun mengetuk pintu ruangannya.
Tok tok tok
"Masuk", kata suara dari dalam dan itu adalah suara Dimas.
"Ya pak, maaf tadi kata pak Ryan bapak menyuruh saya tuk datang kesini, kalau boleh saya tau ada apa ya pak", kataku sopan.
"Ngga ada apa-apa, saya cuma mau tau keadaan kamu setelah pingsan kemaren itu", katanya.
"Alhamdulillah baik pak, berkat bapak yang sudah membawa saya ke rumah sakit, sakit kepala saya sudah hilang, cuma masih ada sedikit mual aja", kataku menjelaskan.
"Ya sudah kalau gitu kamu boleh keluar, kamu pasti pengen cepat-cepat pulang kan, sebab ini sudah waktunya pulang kantor", kata Dimas sambil menunjuk ke jamnya.
"Oke pak makasi" kataku berjalan kearah pintu sambil bergumam" kalau cuma begitu doang kenapa juga ngga telp atau lewat pesan aja".
"Hei saya dengar loh omongan kamu barusan", kata Dimas.
"Maksud saya begini pak, kalau bapak mau menanyakan keadaan saya kan bisa telpon atau lewat whatsaps, daripada bapak nyuruh saya kesini pasti bapak males kan liat wajah saya, dan dengar suara cempreng saya", kataku menjelaskan.
Ini yang saya kangenin dari kamu cewe bawel, batin Dimas.
"Emangnya saya tau nomor telpon kamu heh", katanya kesal tapi tetep dengan wajah datar.
__ADS_1
Lalu Kinanti mengambil hp Dimas yang emang sedang Dimas mainkan lalu mengetikkan sesuatu.