
Pagi ini aku terbangun seperti biasa jam lima pagi, aku keluar kamar, kulihat Tika dan Ratih duduk di ruang tamu sambil menikmati teh manis hangat yang sudah disediakan Bi ning.
"Hei...kalian sudah bangun, Tik ginana kalau hari ini kita kita sarapan bubur ayam pak Slamet, kita jalan kaki aja Tik kesananya sekalian olahraga", usulku.
"boleh juga tuh, enak Tih buburnya, kalau mau makan yang lain juga ada ya Kin, dideket bubur pak Slamet ada yang jual nasi uduk, nasi pecel, soto", kata Tika menjelaskan dan aku mengangguk.
"Aku sholat dulu ya, oh iya Tik kasih tau bi Ning ngga usah buat sarapan, terus tanya dia mau sarapan apa, biasanya nadi uduk ya kalau Bi ning sukanya", kataku sambil melangkah ke kamar mandi.
Selesai sholat, aku membangunkan Daffa dengan cara menciumi pipi dan lehernya biar dia terbangun.
"Bunda....cium-cium Mulu, geli Bun", kata Daffa sambil menutup leher dan pipinya biar tidak kena cium.
"Jagoan bunda bangun yukk, kita jalan cari sarapan, Daffa mau ikut ngga nak", tanyaku.
Daffa menganggukkan kepala lalu bangkit dan terduduk diatas tempat tidur sambil mengucek-ngucek matanya.
"Cama Tante Tika dan Tante Latih juga Bun," tanya Daffa, aku mengangguk.
"ngga cukup dong motolnya Bun", kata Daffa lagi.
"Kita jalan kaki saja ya nak, sambil olahraga".
__ADS_1
"Yukk cuci muka dulu, mandinya nanti aja" Daffa pun mengikutiku menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka daffa, aku pun mengganti baju piyama nya dengan pakaian santai.
"Tante kita jalan cekalang yuk", ajak Daffa.
****
Di kota lain disebuah rumah mewah
Laki-laki muda, tampan, berbadan atletis menuruni tangga, menuju meja makan dan menyeruput kopi panas yang ada diatas meja.
"Arga, kamu mau kemana, ini kan hari libur", tanya Indah.
"Aku mau nge-gym mi", jawab Arga.
Di meja makan sudah berkumpul, Indah maminya, Dani papinya, Anggi adiknya dan Lisa istrinya. Arga pun menuruti kata-kata maminya dan duduk disamping Lisa.
"Arga...Lisa...kapan ni kalian akan memberi mami papi cucu", kata Indah.
"Sabar ya mi Pi, kita juga sedang berusaha kok", jawab Lisa.
"Iya kak aku juga udah ngga sabar ni punya ponakan dari kakak", kata Anggi.
__ADS_1
"kan kamu udah punya ponakan dari bang Arda", kata Arga.
"Isabel kan jauh tinggalnya kak di Paris sana jadi aku ngga bisa main-main dengan Isabel", Kata Anggi membela diri.
"Kalian sudah pergi ke dokter belum", tanya Indah kepada Arga dan Lisa.
"Mas Arga nya selalu ngga bisa terus mi, masa aku sendirian si yang ke dokter", jawab Lisa.
Sementara Arga cuma diam saja sambil terus memakan roti selai stroberi, bosan dia mendengar kata-kata itu terus yang dilontarkan maminya, kenapa juga menuntut cucu dariku, bukankah bang Arda sudah memberikannya cucu, batin Arga. Lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Arga....kok kamu malah pergi si kan mami belum selesai bicara", kata Indah sambil menyusul Arga.
"Mi....aku rasa kalau aku sehat-sehat saja deh, mami ngga lupa kan peristiwa hampir empat tahun yang lalu, lagian bang Arda kan juga udah ngasi cucu", kata Arga.
"Tapi mami pengen cucu dari kamu nak", kata indah lembut sambil memegang tangan Arga.
"Arga juga sudah ngasi kan mi, andai saja mami ngga mengusir Laras dan menyuruhnya tuk menggugurkan kandungannya waktu itu pasti sekarang anak Arga sudah besar mi", jawab Arga pelan dengan wajah sedih.
Indah pun tersentak mendengar kata-kata Arga, ya dia ingat peristiwa itu dimana dia menyuruh wanita itu tuk meninggalkan Arga dan menyuruhnya tuk mengugurkan kandungannya sambil melemparkan selembar cek kepada gadis itu, dimana cek itu tidak pernah dicairkan oleh gadis itu.
Indah memandang wajah Arga ada penyesalan dalam dirinya melihat wajah Arga yang sangat sedih. Arga melanjutkan langkahnya menuju keluar meninggalkan Indah yang masih diam mematung.
__ADS_1
++++++++++++++++++++++++++++++++++++