
Seperti biasa aku terbangun pukul lima pagi, sholat, lanjut mencuci baju karena sudah beberapa hari ini ngga sempet cuci baju, apalagi hari ini aku niat pulang ke MM, kalau ditubda-tunda takutnya ntar tambah banyak terus males nyucinya.
Setelah selesai mencuci, akupun mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor dengan menggunakan ojek online.
Sampai di kantor, ruanganku masih kosong baru aku yang datang, lalu aku membuka bekal yang aku bawa, kebetulan tadi didepan kosan ada tukang roti jadi sekalian beli.
Akupun makan perlahan sambil berpikir oleh-oleh apa ya tuk Daffa, Aku berjalan menuju pantry tuk membuat teh manis hangat teman makan roti. Satu persatu teman-temanku berdatangan mm
"Pagi Kinan.... tumben pagi-pagi udah datang aja", sapa farel.
"Dihh kamu tuh yang tumben Rel jam segini udah datang", kataku, dan diapun tertawa, karena emang biasanya farel kalau datang ke kantor tuh mepet banget waktunya, malah kadang lewat. Aku mulai bekerja menginput data pengeluaran dan pemasukan.
"Kin....ntar sore kamu pulang ke MM", tanya Ratih.
"Iya Tih, kamu mau ikut", kataku.
"Mau si, tapi aku belum ijin ke nyokap, udah gitu belum bawa baju ganti juga", ujar Ratih menjelaskan
"Ahh gampang itu mahh, kamu tinggal pake baju aku, selesaikan masalah, sekarang kamu telpon nyokap aja tuk ijin, Gimana", kataku memberi solusi.
"Oke deh ntar aku coba telpon nyokap dulu, kalau dikasih ijin aku ikut kamu ya ntar sore".
__ADS_1
"Sip"
Dert dert... hapeku bergetar sepertinya ada pesan masuk.
"Nomor siapa ini", batinku karena ada pesan dari nomor yang tidak aku kenal.
"Cepat ke ruangan saya sekarang", isi pesan itu. Aku membalasnya," maaf ini nomor siapa ya, terus saya harus ke ruangan siapa".
"Siapa kemaren yang masukin nomor hape ke kontak saya, gimana si kamu", balas nomor yang tidak dikenal itu, akupun mulai paham nomor siapakah ini, bos jutek.
"Maaf pak, saya kan memang belum tau kalau ini nomor bapak, harusnya di bawah pesan bapak kasih keterangan pak Dimas, gitu pak", balasku lagi, dan tak ada balasan lagi dari Dimas.
"Kin mau kemana", tanya Ratih saat melihat aku berjalan keluar ruangan.
"Dipanggil bos jutek", jawabku, dan Ratih pun tersenyum dan paham mendengar jawabanku.
Ting....lift terbuka.
Tok tok tok, kuketuk pintu ruangan Dimas dan masuk setelah dipersilahkan masuk.
"Pagi pak, ada apa ya saya disuruh keruangan bapak", tanyaku
__ADS_1
"Nanti jam sepuluh kamu ikut saya meeting, jadi kamu siap-siap ya", kata Dimas.
"Oke pak, kalau gitu saya ke ruangan pak Ryan dulu pak tuk ijin", kataku.
"Kenapa harus ijin dengan Ryan, emangnya Ryan pacar kamu ya" tanya Dimas dengan wajah datarnya.
"Dihh bapak mahh bisa aja, kan saya anak buahnya pak Ryan, sekarang bapak ngajak saya meeting keluar, otomatis saya harus ijin pak Ryan takutnya ntar pak Ryan mencari saya butuh berkas-berkas apa gitu, kalau udah ijin kan pasti dia mengerti pak dan akan menyuruh pegawai lain", kataku menjelaskan panjang lebar.
Dimas pun manggut-manggut, benar juga si kata cewe ini karena kan biasanya Danu yang minta ke Ryan, nahh ini aku langsung kirim pesan ke cewe ini batin Dimas.
"Oke sekarang kamu langsung ijin ke Ryan, setelah itu balik kesini"kata Dimas.
*****
Hari ini kami meeting disebuah restoran sekalian makan siang, ternyata bos jutek menservice rekanan yang sudah lama bekerjasama dengan perusahaan kami. Dan ternyata meeting kali ini tuk melebarkan sektor kerjasama. Dan setelah kesepakatan didapatkan meeting pun selesai, kami pun kembali ke kantor, tapi saat melewati sebuah waralaba yang cukup lengkap aku minta diturunkan.
"Pak... saya turun disini aja ya, mau ada yang saya beli, nanti saya balik lagi ke kantor tuk buat laporan tuk bapak", kataku.
"Oke", kata Dimas tanpa menoleh kearahku.
++++++++++++++++++++++++++++++++++
__ADS_1