
Kinanti pun masuk dan duduk disebelah Dimas berhadapan dengan wanita cantik yang tadi pagi ketemu di bandara, laki-laki dihadapan Dimas masih sibuk dengan telponnya seolah mengacuhkan kehadiran Kinanti. Kinanti pun masa bodoh dengan hal tersebut, malah Kinanti menatap dan memberikan senyum sambil menjulurkan tangannya kepada wanita dan laki-laki yang bertemu di bandara tadi pagi.
"Sudah dapat bajunya?" Tanya Dimas.
" Sudah pak, kenapa si saya harus ikut ke butik pak kalau ternyata tetep saja pilihan ada pada bapak." Protes Kinanti.
Samar-samar disela obrolan lewat telpon Arga mendengar pembicaraan Dimas, dan Arga merasa familiar dengan suara wanita tersebut, Arga pun menutup telponnya lalu merubah posisi duduknya menghadap ke depan berhadapan dengan Dimas melihat wanita yang duduk disebelah Dimas, dan Arga pun terkesima menatap Kinanti yang saat itu belum menyadari kalau Arga sedang menatapnya. Laras....benarkah ini kamu, atau cuma ilusi ku saja, benarkah wanita yang ada dihadapanku adalah Laras orang yang aku cari-cati selama ini, kamu masih seperti dulu sayang, kamu tampak cantik dengan senyum yang selalu mengembang dibibir tipismu itu, bibir yang dulu sering aku sentuh, yang dulu sering aku cium
" Hahaha...Kan tetep kamu harus fitting gaun tersebut Kinan pas atau tidak ditubuhmu, kalau kurang pas pasti akan diperbaiki dulu." Jelas Dimas.
" Oke oke pokonya bapak deh yang paling bener " ujar Kinanti sambil tersenyum manis kepada Dimas.
Kinanti merasa ada sepasang mata yang sedang menatapnya, lalu pandangan kinanti beralih kepada lak-laki yang duduk di hadapan dimas, seketika tubuh kinanti bergetar antara kaget dan tidak percaya, benarkah ini kak Arga, kenapa dia bisa ada disini dihadapanku, aku sedang tidak bermimpi kan, batin Kinanti dan tanpa sadar dia menggenggam tangan Dimas erat. Dimas yang saat itu melihat Arga sedang menatap Kinanti lalu mengenalkan mereka.
" Arga kenalin sekretaris gue Kinanti."
" Kinan kenalin saudara saya Arga, sepupu tepatnya." Lalu Kinanti dan Arga pun saling memberikan tangan mereka sambil menyebutkan nama masing-masing seolah tidak mengenal satu sama lain.Arga masih terus menatap kinanti, dan tangannya masih menyalami tangan kinanti. Kinanti berusaha melepaskan tangannya dari tangan Arga, dan Dimas yang melihat itu lalu menyadarkannya.
" Ga...lepasin dong tangan kinanti, Lo udah bikin Kinanti takut tuh." Kata Dimas dan langsung Arga melepaskan tangannya namun matanya masih menatap Kinanti.
"Plis deh Ga dari tadi lo liatin Kinanti terus, Kinanti memang cantik, hati-hati ya dia itu milik gue tau." Kata Dimas. Seketika tatapan Arga beralih kepada Dimas meminta penjelasan, begitupun dengan Kinanti.
__ADS_1
" Loh bener kan kata-kata gue karena kan Kinanti sekretaris gue walaupun dia cuma sekretaris cabutan, dia pegawai gue, nah seperti hal nya Diana milik Lo karena dia sekretaris Lo Ga Diana pegawai lo, masa Diana milik gue si, iya kan Di" Jelas Dimas santai.
Ya Allah kenapa Kau harus pertemukan aku dengan laki-laki ini, laki-laki yang sudah memberikan luka kepadaku, batin kinanti dan ada sesak di dadanya. Ya Tuhan beri aku kekuatan, jangan biarkan airmata ini jatuh dihadapannya, jangan biarkan aku terlihat lemah di matanya.
Dan tiba-tiba pelayan restoran masuk ke dalam ruangan dengan membawa makanan pesanan mereka..
"Ya udah yuk kita makan dulu sekarang, kasian Kinanti ntar maagnya kambuh lagi gara-gara telat makan."
"Kinan....kamu makan ya, makan yang banyak jangan malu abaikan yang lain." kata Dimas sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring Kinanti.
" Sudah pak, ini sudah kebanyakan." Kinanti mencegah tangan Dimas yang akan memberikan lauk lagi ke dalam piringnya
"Bagaimana kalau ntar malam kamu lapar lagi Kinan?" tanya Dimas.
Arga yang menyaksikan keakraban Dimas dan Kinanti merasa tidak suka.
" Ohh jadi ini sekretaris yang pernah lo ceritakan waktu itu ya Dim, yang Lo bilang bawel." kata Arga sengaja sambil menyantap makanannya dengan tatapan masih kepada Kinanti. Dimas langsung mendelikkan matanya kepada Arga. Sedangkan Kinanti yang ditatapnya menundukkan pandangannya, Kinanti sengaja tidak ingin melihat ke arah Arga.
" Jadi menurut bapak saya bawel ya, ya sudah kalau gitu mending saya diam sajalah ngga usah banyak bicara." kata Kinanti kesal.
" Menurut pak Danu juga sama saya bawel ya?" tanya kinanti.
__ADS_1
" Kalau saya lebih suka Bu Kinanti yang apa adanya, yang selalu membuat saya tertawa tiap kali mendengar celetukan ibu." jawab Danu.
" Ahh lo Ga gara-gara Lo asal ngomong, Kinanti jadi ngambek kan.' protes Dimas.
" Ngga kok Kinan....kamu tuh pegawai paling baik hati, murah senyum dan tidak sombong dan tentunya pandai menabung juga." lanjut Dimas, dan yang lain tertawa mendengar pujian Dimas tuk Kinanti.
"Bapak tumben amat si hari ini banyak bicara!" tanya Kinanti.
" Kamu juga tumben amat si hari ini ngga banyak bicara!" Dimas balik bertanya. Kinanti diam, lalu dia bicara
" Pak...kan acara makannya sudah selesai, saya boleh balik ke hotel ya sekarang?"
"Ngga bisa Kinan, kamu kok betah banget si di hotel, apa jangan-jangan kamu baru kali ini juga ya tidur di hotel." tanya Dimas.
Mendengar kata hotel seketika Kinanti menatap Arga begitupun sebaliknya, ya Kinanti ingat dulu dia pernah tidur di hotel dengan Arga yang akhirnya membuat mereka melakukan dosa itu.
" Bukan begitu pak saya merasa sesak disini, saya mau keluar melihat laut, mungkin nanti sesak saya bisa hilang dengan menghirup udara laut." jelas Kinanti yang membuat pandangan Arga kembali menatapnya.
Sebegitu bencinyakah kau terhadapku Laras sehingga kamu ngga mau berada satu ruangan denganku, aku tahu kamu merasa sesak karena aku kan, batin Arga.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++
__ADS_1
Hai readers...makasi ya masih setia dengan cerita saya. Duhh ternyata bingung juga ya buat cerita tentang pertemuan Kinanti dan Arga, maaf ya kalau kurang greget, masih nyambung kok di bab selanjutnya, yang mungkin akan membuat mereka saling bicara. Jangan lupa ya kasih like, fav, vote dan komen, thanks ya.