
Arga duduk termenung sendiri di caffe yang berada satu gedung dengan tempat dia ngegym, ditemani orange juice dan makanan ringan. Dia pun teringat kejadian tadi pagi dimana dia berdebat dengan maminya.
Arga heran kenapa mami nya selalu saja membahas masalah cucu, bosan aku mendengarnya. Sebetulnya Arga juga heran pernikahannya dengan Lisa sudah berjalan hampir tiga tahun tapi kenapa mereka belum dikaruniai seorang anak, sedangkan Arga melakukan kewajibannya sebagai seorang suami memberikan nafkah batin kepada Lisa walaupun mungkin tidak seintens pasangan muda kebanyakan. Tapi kalau dipikir lagi dulu dia cuma melakukan sekali dengan Laras dan ternyata Laras langsung hamil.
Apa mungkin karena aku melakukannya ngga ikhlas ya dengan lisa, batin Arga sambil menyedot minumannya.
Aku dan Lisa memang menikah karena perjodohan, bukan karena cinta, kami sama-sama korban dari orangtua kami. Pernikahan kami adalah pernikahan bisnis yang menikah sebetulnya bukan kami anak-anaknya tapi kedua perusahaan mereka biar lebih berkembang lagi. Aku tidak mencintai Lisa dan aku yakin Lisa juga tidak mencintaiku, keadaan yang memaksa kami harus bersatu, dan aku ngga tahu sampai kapan kami bertahan.
Kenapa juga si harus aku yang dijodohkan bukan bang Arda saja. Bang Arda si enak bisa menikah dengan wanita yang dicintainya sedangkan aku harus kehilangan wanita yang yang sangat aku cintai, Laras, yang saat itu sedang mengandung anakku, batin Arga lagi.
Kenapa juga waktu itu mami harus mengalami serangan jantung, yang membuat aku stuck di tempat, yang membuat aku ngga sanggup ninggalin mami tuk mengejar Laras, tanpa sadar Arga menggebrak meja saat mengingat peristiwa itu, tiba-tiba terdengar lagu lawas dari sebuah band terkenal ibukota yang membuatnya semakin terhanyut dalam kesedihan.
*Tiba saat mengerti
Jerit suara hati
Letih meski mencoba
Menaklukkan
Rasa yang ada
Mohon tinggal sejenak
Lupakanlah waktu
__ADS_1
Temani air mataku
Teteskan lara
Merajut asa
Menjalin mimpi
Endapkan sepi-sepi
Cinta 'kan membawamu kembali di sini
Menuai rindu, membasuh perih
Bawa serta dirimu, dirimu yang dulu
Saat dusta mengalir
Jujurkanlah hati
Genangkan batin jiwamu
Genangkan cinta
Seperti dulu
__ADS_1
Saat bersama
Tak ada keraguan
Cinta 'kan membawamu kembali di sini
Menuai rindu, membasuh perih
Bawa serta dirimu*,…...
Harusnya aku lebih berani saat itu tuk mengejar Laras bukan hanya melihat laras yang menjauh pergi.
Laras....kamu dimana si sayang, aku sudah mencarimu tapi sepertinya kau lenyap ditelan bumi. Berada di belahan bumi sebelah manakah dirimu berada saat ini sayang, gumam Arga sambil menutup wajahnya dan menghembuskan napas secara kasar.
Aku ingin tahu keadaan dirimu, apakah kau baik-baik saja....bagaimana dengan baby kita apakah dia masih ada, apakah kau menjaganya, begitu banyak pertanyaan yang ada di kepalaku saat ini. yang ingin aku lontarkan, tapi.....yang ada hanya kebisuan.
Maafkan aku Laras....aku laki-laki bodoh, laki-laki pengecut yang tidak bertanggung jawab, ingin kuungkapkan penyesalanku, rasa bersalahku tapi pada siapa, hanya pada angin lalu.
dert....dert....
Handphone Arga berdering....membuyarkan lamunannya. Arga mengeluarkan hp dari dalam tasnya..... Lisa....
"Ya", kata Arga singkat.
"kamu dimana mas, kok belum pulang, ini sudah siang banget loh" kata Lisa diseberang sana.
__ADS_1
"Cepetan pulang ya mas, aku menunggumu tuk makan siang", lanjut lisa.
"ya", jawab Arga tidak bersemangat. Arga pun berjalan gontai menuju meja kasir tuk membayar makanan dan munuman yang telah dia pesan, lalu berjalan keluar menuju parkiran.