
Tiba- tiba Ryan menghentikan mobilnya di depan sebuah caffee.
"kok berhenti disini pak", tanya Kinanti.
"Iya Kin...kita mampir dulu yuuk, kita ngupi-ngupi dulu, gimana, ajak Ryan.
"Iya pak", jawab Kinanti dengan terpaksa, padahal sebetulnya aku tuh pengen cepet-cepet pulang, pengen rebahan, tapii.....
Kinanti mengikuti langkah Ryan menuju ke dalam caffee. Suasana di dalam caffe tidak terlalu ramai, banyak diisi pasangan muda-mudi, emang nyaman si tempatnya dengan sentuhan interior etnik. Ryan mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca jadi terlihat suasana diluar caffee.
"Kin....kamu mau pesan apa", tanya Ryan membuyarkan lamunannya, lalu Kinanti melihat buku menu.
"coffee late ice pak", jawab Kinanti.
"Apalagi, masa cuma itu aja", kata Ryan.
"Iya itu aja pak, kan tadi di undangan saya udah makan segala macam pak jadi masih kenyang, coba kalau tau mau diajak kesini mungkin saya tadi ngga makan banyak pak", kata Kinanti sambil tertawa.
Kamu kin bisa aja, dan apa adanya", kata Ryan sambil tersenyum. Seorang pelayan datang menghampiri meja kami dan menayakan pesanan kami.
__ADS_1
"coffe latte ice dua ya", kata Ryan, ngga berapa lama pesanan kami datang.
"Kinan....ada yang mau saya sampaikan ke kamu, semoga kamu jangan marah ya", kata Ryan ragu-ragu. Lalu Kinanti memandang Ryan ada kegugupan di wajahnya.
"Emang bapak mau ngomong apa, silahkan pak, dan kenapa saya harus marah", kata Kinanti.
"Sebetulnya sudah lama saya memiliki perasaan khusus ke kamu Kinan, cuma baru sekarang saya berani bilang ke kamu, saya harap kamu mau membalas perasaan saya, andai kamu belum bisa kasih jawaban sekarang ntar juga ngga apa-apa, maaf Kinan saya ngga pandai berkata-kata yang bagus gitu", kata Ryan akhirnya. Sebetulnya Kinanti sudah tau kalau Ryan ada rasa sama dia, dari sikap dan perhatiannya sudah terlihat jelas, tapi tetep aja Kinanti kaget saat mendengarnya, duhh aku harus jawab apa ya, batin Kinanti. Kinanti menyedot minumannya.
"Pak....apa yang bapak lihat dari saya, saya bukan wanita yang spesial, saya cuma wanita biasa aja", kata Kinanti.
"Justru karena kamu biasa aja, Dimata saya jadi luar biasa", kata Ryan, dan Kinanti tertawa mendengarnya.
"Bapak bisa aja deh....", kata kinanti lalu dia mengambil nafas panjang dan melanjutkan kalimatnya.
"Dimana yang ngga pantasnya kin...ya sudah coba kamu ceritakan tentang diri kamu",tanya Ryan.
"Saya belum bisa cerita pak, maafin saya", kata Kinanti sambil menunduk.
"apa karena saya ngga sehebat pak Dimas ya", kata Ryan lagi yang langsung membuat Kinanti merasa tersinggung.
__ADS_1
"Maksud bapak apa ni ngomong seperti itu apa bapak pikir saya lebih memilih pak Dimas ketimbang bapak karena jabatan pak Dimas lebih tinggi gitu", kata kinanti dengan intonasi lebih tinggi.
"Saya pernah dikecewain sama laki-laki pak itu yang membuat saya masih pikir-pikir tuk dekat dengan laki-laki, apa laki-laki itu mau menerima anak saya juga", terang Kinanti panjang lebar.
"Anak", kata Ryan heran.
"Iya anak pak, makanya saya hilang saya ngga pantas dengan bapak karena saya sudah punya anak dan bapak seorang bujangan", kata Kinanti.
"Terus apa salahnya Kinan kalau kamu sudah punya anak. toh sekarang ini banyak kan seorang perjaka menikah dengan janda dua anak, atau seorang duda satu anak menikah dengan perawan", kata Ryan dan melanjutkan kalimatnya, "atau jangan-jangan ini cuma akal-akalan kamu kin karena kamu ngga mau sama saya".
"Pak....masa anak dijadikan bahan permainan si", kata Kinanti sambil menunjukan poto dirinya dan Daffa yang dijadikan wallpaper ponselnya, Ryan pun menatap Poto itu sambil berkata", anak kamu cakep kin".
"Namanya Daffa, usianya tiga tahun", jelas Kinanti.
"Nah lalu apalagi dong, Itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan bukan...., cuma kan saya memang ngga tau kalau kamu sudah punya anak kin", ujar Ryan, Kinanti hanya diam saja, lalu berkata", kalau memang jodoh ngga akan kemana pak, untuk saat ini biarkan kita seperti ini saja ya, sebagai atasan dan bawahan, saya takut berharap lebih pak, maafin saya ya pak, sekarang saya mau pulang pak". kata kinanti langsung berdiri. Ryan pun ikut berdiri dan berjalan ke arah kasir tuk membayar pesanan mereka dan keduanya berjalan menuju mobil, sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++
Hai teman-teman makasi sudah mendukung saya sampai saat ini, jangan lupa tuk terus kaduh like, vote, fav dan juga komen biar saya semakin semangat.
__ADS_1
Jangan lupa juga tuk mampir ke cerita saya yang berjudul Seputih cinta Karina.
Thanks readers....love you