Penantian Kinanti

Penantian Kinanti
Bab 40


__ADS_3

Pagi ini Kinanti sudah rapi bersiap-siap berangkat ke kota BB, semalam dia sudah packing apa-apa saja yang harus dibawa dan semuanya sudah dimasukkan ke dalam koper berwana merah.


Sambil menunggu Danu menjemput, lebih baik telpon Daffa dulu ah mumpung masih jam segini Tika belum berangkat kerja, batin Kinanti. Dan kini Kinanti pun melakukan panggilan Videocall didepan kamar kosannya.


Tika : Assalamu'alaikum kin, kamu belum berangkat.


Kinanti : Wa'alaikumsalam Tik, ini aku lagi nunggu jemputan, jadi aku telpon dulu deh kangen pengen liat wajah Daffa.


Tika : oke aku panggil Daffa dulu ya, tuh dia lagi dikejar-kejar bi Ning tuk sarapan, Daffa sini nak bunda mau ngomong sama kamu.


Daffa : Calamikum bunda, kok Bunda ngga kelja.


Kinanti : Ini bunda mau kerja sayang lagi nunggu mobil jemputan, oh iya Daffa jangan nakal ya nak, kalau makan harus duduk diam jangan lari-larian kasihan Mbah sayang ngejar-ngejar kamu, Bu da berangkat kerja dulu ya


Daffa : Iya bunda, dadah bunda


Tika : Hati-hati ya kin


Kinanti : iya Tik makasi, titip Daffa ya, salam tuk bi Ning.

__ADS_1


Kinanti menutup telponnya dan kebetulan Danu sudah datang menjemputnya. Kinanti berjalan keluar dengan menyeret koper merahnya, lalu dia masuk ke dalam mobil.


" Loh pak Dimas nya mana pak?" tanya kinanti karena di dalam mobil cuma tampak Danu seorang.


" Oh pak Dimas ya, abis ini kita jemput pak Dimas dii apartemennya bu, kebetulan pak Julio juga ikut dan dia menunggu di apartemen bos." jawab Danu. Mobil pun meluncur membelah jalan raya yang belum begitu macet, mungkin karena masih pagi.


Mobil memasuki komplek apartemen mewah.


" Bu... mau ikut ke atas atau nunggu dimobil saja " tanya Danu.


" Saya nunggu di mobil saja pak, bapak saja ya yang keatas jemput pak Dimas." jawab Kinanti.


" Pagi Kinanti." sapa Julio sambil tersenyum, dan kulihat Dimas cuma melirik ke arah ku saja.


"Pagi juga pak Julio, ternyata bapak ikut juga ya." kata Kinanti berbasa-basi.


" Pagi pak Dimas." kata Kinanti tapi dimas cuma melirik saja dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.


" Pak Danu ada pepatah yang berbunyi awali harimu dengan senyum biar hidupmu berkah sepanjang hari, bener ngga si?" tanya Kinanti.

__ADS_1


" Bener Bu sebab kan kalau kita banyak kasih senyum ke orang lain itu sama aja dengan ibadah Bu." kata Danu.


" Kalau kebanyakan juga ntar disangka nya orang stress." kata Dimas masih dengan tanpa ekspresi. Dan tanpa terasa mobil sudah memasuki areal parkiran bandara, kami diturunkan Danu diterminal keberangkatan dalam negeri. Kami berirignan masuk ke dalam tuk cek kearahku ini dan itu. Tampak d depan sana Dimas sedang mengobrol dengan dua orang, yang satu perempuan cantik, masih muda, yang satu lagi laki-laki seumuran Dimas.


"Diana....kamu mau ke BB ya tuk meeting?" tanya Dimas


"Iya pak, ini dengan pak Andre." jawab perempuan yang bernama Diana itu.


" Terus pak Arga nya mana kok belum keliatan?" tanya Dimas.


" Pak Arga maungkin menyusul nanti pak, tadi pagi ada accident dirumahnya, ibunya pak Arga jatuh di dapur, jadi pak Arga membawa ibunya dulu ke rumah sakit." kata Diana yang ternyata sekretaris Arga.


"Terus keadaan ibunya gimana kamu tau ngga Di?" tanya Dimas khawatir karena kan mamanya Arga alias Indah itu adalah tantenya.


" Saya juga belum tahu pak, tapi kayaknya ngga apa-apa deh, cuma terkilir aja dikit." jelas Diana.


"Tapi bapak bilang si tetep akan datang, kalau ngga salah besok reseprinya anaknya pak Rajasa ya pak jadi mungkin andai bapsk ngga bisa ikut meeting tapi bapak akan datang ke resepsi itu " jelas Diana.


" Oh oke, yuk kita ke dalam sekarang sepertinya bentar lagi pesawat kita udah siap tuh " ajak Dimas dan mereka pun berjalan ke dalam

__ADS_1


__ADS_2