
Xi Ryu tidak memikirkan ramalan dari nenek peramal tadi. Xi Ryu hanya menganggap ramalan tadi hanyalah sebuah tebakan yang tidak akan terjadi.
Di sepanjang perjalan Xi Ryu hanya berjalan dan terus berjalan. Sambil melirik kesana dan sesini, hingga tidak lama kemudian kegiatan jalan-jalan itu membuat Xi Ryu merasa bosan. Xi Ryu dalam hati berkata, 'Bosan sekali… Lebih baik aku pulang saja.' Xi Ryu lalu meloncat ke atap, lalu berlari di atap sambil melompat-lompat dengan cepatnya.
Tidak lama kemudian Xi Ryu sampai di atap penginapan, Xi Ryu turun dari atap lalu masuk ke penginapan. Xi Ryu menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya.
"Akhirnya sampai aku di kamar." gumam Xi Ryu.
Xi Ryu lalu menyimpan pedangnya. duduk bersila di atas tempat tidur dan memulai latihan pernapasan. Xi Ryu berkonsrentasi untuk menyerap energi disekitarnya.
Dari atap bangunan yang bersebelahan dengan kamar Xi Ryu. Orang dengan pakaian serba hitam sedang memperhatikan Xi Ryu, lewat jendela kamar Xi Ryu yang terbuka. Beberapa saat kemudian orang dengan pakaian hitam itu pergi dengan cepat.
Hari sudah pagi, mentari menyinari dengan sinarnya yang hangat. Membuat pagi ini terlihat sangat cerah. orang-orang di kota pun sudah mulai beraktivitas.
Terlihat di lantai satu penginapan. Xi Ryu dan Fu Xiang sedang berbicara. Lalu satu pertanyaan keluar dari mulut Fu Xiang, "Ryu, kenapa kau kemarin dicari oleh dua orang berbadan besar dan tiba-tiba ingin membunuhmu?"
"Emm, bagaimana ya menjelaskanya… Oh begini, saat pertama kali aku ke kota ini…" Xi Ryu kemudian menceritakan kejadian saat pertama kali dirinya jalan-jalan di kota.
"Begitu ceritanya." kata Xi Ryu yang selesai bercerita.
"Begitu ya… Sudahlah biarkan saja walikota itu, orang seperti itu memang sudah banyak di dunia ini." ucap Fu Xiang sambil menyeruput air sup miliknya.
"Kenapa harus dibiarkan?" ucap Xi Ryu sambil mengambil ayam goreng di piringnya.
"Biarkan saja, nanti juga dia mungkin sadar kalau dirinya salah. Lagi pula kita harus segera melanjutkan perjalanan." ucap Fu Xiang.
"Baiklah aku akan membiarkannya." Ucap Xi Ryu dengan nada yang malas.
"Cepat habiskan makananmu, kita akan berangkat sekarang." Fu Xiang lalu meneguk habis sup nya dengan cepat.
Xi Ryu mengangguk kemudian Xi Ryu dengan cepat menghabiskan ayam goreng spesial porsi besarnya. Xi Ryu meminum air, setelah selesai minum air. Xi Ryu bertanya pada Fu Xiang, "Paman, apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Xi Ryu.
"Ya, kita akan berangkat sekarang. Ryu, kau tunggu dulu disini aku akan pergi ke kamarku dulu." Fu Xiang lalu pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Ohh, iya." Ucap Xi Ryu.
Beberapa menit berlalu, kemudian Fu Xiang turun dari lantai dua, dia lalu mendekati Xi Ryu. "Apa kau tidak membawa barang bawaan?" ucap Fu Xiang.
"Tidak hanya ini barang yang kubawa. Kalau begitu ayo kita berangkat, aku ingin melihat seperti apa bentuknya sekte yang termasuk dalam jajaran terbesar." Kata Xi Ryu.
"Ohh kau sudah tidak sabar ya?" ucap Fu Xiang. Lalu Fu Xiang berjalan dan diikuti Xi Ryu dari belakang. Fu Xiang sengaja tidak melompat dari atap ke atap karena sekarang sedang ramai dan Fu Xiang tidak ingin menarik perhatian banyak orang.
Fu Xiang dan Xi Ryu keluar dari kota melewati gerbang, entah karena masih pagi atau sedang sepi. gerbang masuk dan keluar yang kemarin ramai sekarang sepi tidak ada orang sama sekali, yang ada hanya para penjaga gerbang.
Tidak seperti saat akan masuk kota yang harus diminta tanda pengenal. Saat akan keluar kota, dengan mudahnya Xi Ryu dan Fu Xiang keluar dari kota.
Xi Ryu dan Fu Xiang kemudian berlari setelah agak jauh dari gerbang. Fu Xiang dan Xi Ryu memakai ilmu meringankan tubuh masing-masing, dan Fu Xiang perlu menyetarakan kecepatannya dengan Xi Ryu agar Xi Ryu tidak tertinggal jauh.
Tiba-tiba saja Xi Ryu merasakan firasat buruk dan teringat ramalan dari nenek peramal kemarin malam. Dan benar saja dari sisi kiri Xi Ryu seorang pria paruh baya mengarahkan tinjunya yang dilapisi sarung tangan besi kearah Xi Ryu.
'BUKKK' Tinjuan itu mengenai pohon hingga pohon itu dan pohon disekelilingnya tumbang, Pria paruh baya itu berkata, "Sudah kusangka membunuhmu tidak akan semudah itu, Fu Xiang." Pria paruh baya itu sambil membersihkan sarung tangannya.
"Kau… Si tangan besi, Gu Yan. Ada apa kau kemari." ucap Fu Xiang sambil bersiaga mengambil pedang dari sarungnya.
"Hmmm, Tentu saja Untuk membunuhmu dan anak itu tentunya. Aku akan membalaskan dendamku pada ayahmu dengan cara membunuhmu." ucap Pria paruh baya itu yang bernama Gu Yan.
"Paman tahu orang stress ini?" tanya Xi Ryu karena penasaran sambil mengambil ikut pedang dari sarungnya dan mengambil sikap siaga.
Fu Xiang berkata, "Ya. Dulu sekali dia pernah menjadi tetua Sekte Phoenix, sayangnya dia berhianat, akhirnya dia bertarung dengan ayahku tetapi dia kalah. Ilmu beladirinya menurun drastis karena mengalami luka dalam dan akhirnya mengalami penurunan tingkat. Tetapi saat dilakukan penangkapan, dia berhasil lolos karena dibantu temanya." Fu Xiang berkata lagi, "Dan ingat Ryu, jangan lengah. Dia sekarang setara dengan pendekar langit awal."
Xi Ryu mengagguk.
__ADS_1
Gu Yan maju menyerang sambil berkata, "Mari kita bermain-main, tenang saja aku akan menyetarakan kekuatanku dengan kalian, setelah cukup bermain-main, aku akan membunuh kalian." Gu Yan tersenyum lebar, kemudian bergerak cepat kearah Fu Xiang dan mengarahkan tinjunya pada Fu Xiang. Saat tinju Gu Yan sudah dekat dengan Fu Xiang. Fu Xiang buru buru menahanya dengan pedang miliknya.
Xi Ryu lalu menyerang dari belakang, Xi Ryu bergumam, "Tarian pedang burung elang, gerakan keempat." Xi Ryu sambil menyerang.
Tetapi Serangan Xi Ryu tidak mengenai Gu Yan sedikitpun karena Gu Yan dengan cepat menghindar. Gu Yan berkata pada Xi Ryu, "Kau masih butuh 100 tahun untuk mengalahkanku nak."
Entah karena mungkin Gu Yan lengah, Gu Yan tidak menyadari kalau Fu Xiang sedang berada dibelakangnya. Fu Xiang yang berada di belakang Gu Yan mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menebas kepala Gu Yan. Tetapi dengan cepat Gu Yan membalikan tubuh lalu memukul Fu Xiang dengan seluruh kemampuannya, Fu Xiang terpental menabrak pohon hingga dirinya memuntahkan darah.
Dalam hati Fu Xiang berkata, "Sial, aku lengah." Fu Xiang mencoba bangkit, dan akhirnya dia bangkit lagi. Dia kembali menyerang Gu Yan dengan segenap kemampuannya.
"Ryu, kau pergi dari sini. Biarkan saja aku yang menghadapinya." Fu Xiang sambil menyerang Gu Yan.
Xi Ryu terlihat bingung, namun dia akhirnya sadar kalau dia hanya beban di sini, dan akan membuat Fu Xiang kesulitan.
Gu Yan dengan sarung tangannya menangkis serangan dari Fu Xiang, dan menyerang jika melihat kesempatan. Begutupun Fu Xiang, meskipun dia terlihat mampu mengimbangi Gu Yan, perlahan-lahan dirinya menjadi kesulitan menangkis dan menghindari serangan Gu Yan yang sangat cepat dan sangat kuat.
Puluhan menit berlalu, mereka berdua bertukar puluhan serangan, hingga akhirnya Fu Xiang lengah dan mendapatkan Pukulan telak di dadanya. Fu Xiang terpental beberapa puluh meter, menabrak pohon-pohon, hingga akhirnya berhenti di salah satu pohon.
Fu Xiang terluka, dia muntah darah dan mengucurkan banyak darah di kepalanya. Mau bagaimanapun Gu Yan adalah pendekar tingkat langit awal, yang perbedaannya jauh dari pendekar tingkat bumi puncak sekalipun, jadi tidak aneh jika Fu Xiang dapat dikalahkan oleh Gu Yan.
Disisi lain Gu Yan hanya tersenyum lebar, dirinya tak terluka parah dan masih bisa bertarung dengan baik.
"Tamat riwayatmu, Fu Xiang." Gu Yan sambil tersenyum lebar.
Xi Ryu sebenarnya tidak pergi jauh dan masih bisa melihat pertarungan keduanya, melihat Fu Xiang dikalahkan, Xi Ryu merasa marah. Amarahnya meluap, pedang milik Xi Ryu tiba-tiba diselimuti oleh api dan tubuhnya diselimuti aura berwarna emas
Di tempatnya bersembunyi, Xi Ryu terlihat marah kemudian dia berkata, "Kau… Sialan kau!!! Kubunuh kau!!!."
__ADS_1
Tiba-tiba Xi Ryu bergerak cepat, Kecepatan Xi Ryu yang biasanya terbilang lambat, kini jauh meningkat drastis, dia bergerak maju kearah Gu Yan dan menyerangnya dengan pedangnya yang kini diselimuti api membara.