Pendekar Kaisar Naga

Pendekar Kaisar Naga
Ch.22 - Mei Ying


__ADS_3

"Sudah lama sekali aku tidak pulang ke sekte ini, sepertinya tidak banyak yang berubah." ucap Fu Xiang sambil menghirup udara disekitar.


Di depan Fu Xiang, Dengan mata yang berbinar Xi Ryu berkata, "Wahh… Jadi seperti ini ya, yang namanya sekte. Luas sekali." Xi Ryu yang sudah berada di dalam sekte.


"Hehe, ini hanya permulaan saja." ucap Fu Xiang bangga.


"Baiklah, Ayah akan ke ruang kerja. Kau ajak saja Ryu jalan-jalan." ucap Fu Chen lalu meninggalkan Fu Xiang dan Xi Ryu.


"Baik ayah." Fu Xiang sambil membungkuk.


"Ryu, kau ingin ikut berjalan-jalan denganku?" ucap Fu Xiang sambil berjalan melewati Xi Ryu.


"Baiklah, aku ikut." Xi Ryu sambil mengikuti Fu Xiang.


Tanpa diketahui oleh Xi Ryu, Para penjaga yang ada di gerbang berkata, "Sepertinya anak itu anak kampung yang tak tahu apa-apa."


"Ya, sepertinya begitu." penjaga itu sambil tertawa kecil.  


"Diam kalian. Anak itu masuk bersama Patriak dan Anak dari Patriak, yang berarti anak itu bukan orang sembarangan. Bisa jadi itu murid dari Senior Xiang. Jika Patriak mendengar perkataan kalian, pasti kalian akan diberi hukuman yang lumayan berat."


Dari belakang seorang Perempuan berumur 30 tahunan dan seorang anak perempuan berumur 14 tahun datang, perempuan yang berumur 30 berkata, "Kalian sedang membicarakan apa?"


Sontak pertanyaan itu membuat semua penjaga yang sedang bergosip terkejut. Salah satu dari mereka berkata, "Tetua Meng? Maaf tetua, kami hanya sedang membicarakan sebuah cerita seram." ucapnya mencari alasan.


"Baiklah, lain kali kalian harus berkerja dengan baik. Jangan seperti ini." ucap wanita yang terlihat berumur 30 tahunan yang disebut Tetua Meng.


"Baik tetua, maafkan kami." ucap mereka serentak sambil membungkuk.


"Ying'er, ayo masuk." ucap Tetua Meng pada Anak perempuan yang bersamanya.


"Baik Guru." ucap Mei, lalu pasangan Guru dan Murid itu masuk ke dalam Sekte.


Di sisi lain, Xi Ryu yang sedang di ajak berjalan-jalan keliling oleh Fu Xiang tak bisa berhenti kagum.


Hingga Fu Xiang sampai di depan bangunan besar dan bertingkat. Fu Xiang berkata, "Ini adalah Asrama untuk para murid di Sekte ini. Bangunan ini memiliki dua ribu lebih kamar, masing-masing kamar akan ditempati oleh tiga orang."


"Dua ribu lebih kamar? Aku tidak salah dengar?" ucap Xi Ryu tak percaya.


"Ya, dua ribu kamar. Kau tak salah dengar." ucap Fu Xiang dengan muka yang biasa-biasa saja.


"Kalau begitu, apa paman tinggal disini?" tanya Xi Ryu.


"Tidak, aku tidak tinggal disini. Aku tinggal di Villa bersama ayahku." jawab Fu Xiang.


"Wah… Villa? Pasti tempatnya luas." ucap Xi Ryu membayangkan dengan imajinasinya.


"Hahaha, ya Villa itu sangat… Sangat luas." jawab Fu Xiang sambil tertawa kecil.


"Baiklah, ayo kita pergi ke Villa tempat aku dan ayahku tinggal. Kau pasti akan terkejut." ucap Fu Xiang sambil berjalan didepan, menjadi penunjuk arah.


5 menit kemudian.


"Ini adalah Villa tempatku dan ayahku tinggal." Fu Xiang sambil menunjuk taman yang luas dan rapi, didalam taman itu ada rumah kayu sederhana yang ukurannya biasa saja.


"Hah…. Imajinasiku hancur sudah, aku pikir Villa yang besar ternyata villa sederhana. Tapi, aku lebih suka yang seperti ini, menurutku ini lebih nyaman." ucap Xi Ryu dengan kagum.


"Ya, ayahku orang yang tidak terlalu suka akan kemewahan. Dia hanya ingin menjadi kuat untuk melindungi orang yang disayanginya." ucap Fu Xiang lalu berjalan ke arah Villa kecil tempatnya tinggal.

__ADS_1


Xi Ryu tiba-tiba tersenyum, dalam hati nya Xi Ryu berkata, "Menjadi kuat untuk melindungi orang yang disayangi, ya?." lalu Xi Ryu mengikuti Fu Xiang yang masuk kedalam Villa.


Di dalam Villa Xi Ryu merasa kagum. Karena saat didalam Villa, Xi Ryu disambut dengan gaya ruangan yang klasik dan indah. Ruanganya pun sangat bersih, sampai-sampai tak terlihat debu disepanjang mata memandang.


"Hebat…. Sepertinya kakek orang yang rajin." ucap Xi Ryu kagum.


"Ya, ayahku jarang pulang kerumah karena pekerjaannya. Sekalinya pulang dia hanya membersihkan Villa ini saja." ucap Fu Xiang.


"Jadi begitu ya, Kakek pasti disibukkan oleh pekerjaannya." ucap Xi Ryu.


"Ya, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya." ucap Fu Xiang.


"Kalau begitu dimana Ibu paman?" tanya Xi Ryu.


"Ibuku meninggal saat melahirkanku. Jadi seumur hidupku aku hanya pernah melihat wajah ibuku dari lukisan saja." ucap Fu Xiang dengan raut wajah yang terlihat sedikit sedih.


"Sudahlah, kau istirahat saja dulu. Besok kita lanjutkan jalan-jalannya. Kau pakai saja kamar ayahku. Kamarnya jarang dipakai, jadi kau tak perlu khawatir. Kamarnya ada disana." ucap Fu Xiang sambil menunjuk letak kamar ayahnya.


"Baiklah kalau begitu selamat istirahat." ucap Xi Ryu sambil berjalan menuju kamar.


Didalam kamar, Xi Ryu hanya mandi dan mengganti bajunya dengan baju yang ada di dalam cincin naganya.


Setelah selesai Xi Ryu duduk diatas kasur dan mulai mengumpulkan melakukan teknik pernapasan.


Hingga saat susah sepertiga malam, Xi Ryu lalu mengakhiri meditasinya, kemudian dia tidur. 


Beberapa lama kemudian pagi datang, Xi Ryu bangun dan mencuci mukanya, lalu keluar dari kamar dan bertemu Fu Xiang.


"Darimana kau mendapat baju itu?" ucap Fu Xiang sambil menunjuk baju yang Xi Ryu pakai.


"Rahasia." ucap Xi Ryu.


"Aula Pelatihan? Apa itu tempat murid-murid sekte ini berlatih?" tanya Xi Ryu.


"Ya, namanya juga Aula Pelatihan. Pasti itu tempat latihan. Kalau kau mau ayo ikuti aku." Fu Xiang sambil berjalan keluar Villa dan diikuti oleh Xi Ryu.


Mereka berjalan hingga mereka berdua sampai di aula latihan.


Aula Latihan, tempat yang luas dan dipenuhi murid-murid yang sedang berlatih. Setiap kali Fu Xiang dan Xi Ryu melewati murid yang sedang latihan, pasti saja akan ada yang memberi hormat pada mereka.


Hingga salah satu murid berkata pada temannya, "Itukan anak dari Patriak, siapa anak yang ada di sampingnya?"


"Tidak tahu, mungkin adiknya."


"Patriak hanya punya satu anak bodoh."


"Jangan marah dong, kan aku tak tahu."


"Aku tak marah, hanya kesal saja."


Xi Ryu dan Fu Xiang berhenti di depan sebuah arena pertarungan. Arena yang diatasnya ada seorang perempuan cantik seumuran Xi Ryu. Di atas arena, wanita itu sedang bertarung melawan seorang laki-laki.


Kedua orang itu terus bertarung menggunakan tangan kosong dan tanpa memakai tenaga dalam. hingga yang laki-laki kalah dan dibanting oleh anak perempuan itu hingga laki-laki itu tergeletak di lantai arena.


"Terimakasih untuk kerja sama ya." ucap perempuan itu sambil membantu berdiri laki-laki yang dikalahkan olehnya.


"Sama-sama." ucap laki-laki itu membungkuk sambil mengepal tangannya, memberi hormat. Dibalas oleh Perempuan itu dengan cara yang sama.

__ADS_1


"Ada yang ingin bertarung lagi denganku." ucap perempuan itu, setelah laki-laki tadi turun dari arena.


"Kau ingin mencobanya, Ryu?" ucap Fu Xiang pada Xi Ryu.


"Hmmm, sebenarnya aku sedang merasa bosan. Jadi aku akan mencobanya." ucap Xi Ryu lalu maju ke atas arena.


"Baiklah, aku mohon bimbinganya." ucap Xi Ryu memberi hormat saat berada di atas arena.


"Meskipun aku tak tahu siapa kau, dan sepertinya kau juga bukan murid dari sekte ini. Tapi aku juga mohon bimbingannya." wanita itu sambil memberi hormat pada Xi Ryu.


Seorang murid yang ada di samping arena berkata, "MULAI…"


Dengan cepat Xi Ryu maju dan mengarahkan pukulanya ke arah perut wanita itu. Tetapi dengan cepat wanita itu menahan pukulan Xi Ryu dengan tanganya.


"Kau lumayan juga." ucap wanita itu.


Lalu wanita itu melepas tangan Xi Ryu dari genggamanya dan menyerang Xi Ryu dengan serangan bertubi-tubi darinya dan hanya di tangkis oleh Xi Ryu.


Para murid-murid sekte yang menonton hanya saling berbicara.


"Siapa dia? Sepertinya orang yang dibawa oleh senior Xiang adalah jenius."


"Ya, dia bahkan bisa menandingi kekuatan Senior Mei yang sedang serius."


"Ya, sepertinya dia adalah seorang jenius."


"Padahal Senior Mei seorang jenius yang tingkatanya sudah berada di tingkat Fana-Awal."


"Sepertinya sekte ini kedatangan Jenius baru."


Banyak murid-murid yang mengomentari Xi Ryu, tetapi Xi Ryu tak menghiraukannya.


Dia hanya fokus untuk menangkis serangan dari wanita yang disebut senior Mei.


Hingga wanita yang biasa disebut Senior Mei itu berkata, "Kenapa kau hanya menangkis seranganku dan tidak menyerang balik. Apa kau sedang kesulitan?"


"Kesulitan? Sebenarnya aku hanya sedang mempelajari pola seranganmu." Dengan cepat Xi Ryu menangkap kedua pergelangan tangan wanita itu, lalu Xi Ryu memutar tangan wanita itu dan mengunci pergerakan tangan wanita itu. Juga menendang tulang kering wanita itu hingga wanita itu terduduk.


"Kau menyerah?" ucap Xi Ryu sambil mengeraskan teknik kuncian pada tangan wanita itu.


"Arghh… Iya, iya aku menyerah." ucap wanita itu kesakitan.


Xi Ryu lalu melepas teknik kuncian dari tangan wanita itu. Lalu wanita itu menjauh dari Xi Ryu. dengan kesal dia berkata, "Terima kasih atas pertandingannya." sambil memberi hormat terpaksa.


"Sama-sama." ucap Xi Ryu sambil membungkuk membalas hormat.


Para murid yang menonton berkata.


"Wah… Setelah sekian lama, akhirnya Senior Mei kembali di kalahkan oleh anak seumurannya. Ini berita besar."


"Ya. Ini berita besar."


"Anak itu hebat sekali."


Berbagai macam pujian datang pada Xi Ryu, tetapi Xi Ryu tak menghiraukanya.


Xi Ryu lalu bertanya pada wanita itu, "Ohh iya aku lupa, namaku Xi Ryu dan namamu?"

__ADS_1


"Aku Mei Ying." ucapnya singkat.


__ADS_2