
Setelah berbicara lebih lanjut, ternyata Jin Yong adalah seorang pendekar pengelana tanpa sekte yang beraliran netral yang lebih kearah aliran putih. Umurnya sekarang baru 50 tahun lebih. Dirinya bisa berada diatas atap istana karena ingin menikmati keindahan ibukota dari atas ketinggian atap istana.
Setelah mengobrol dan bertukar cerita, Xi Ryu memutuskan untuk ikut berkelana bersama Jin Yong, menghancurkan anggota-anggota aliansi iblis hitam yang berkeliaran di Kekaisaran Wei. Xi Ryu menulis sepucuk surat dan meninggalkan diatas ranjang kamarnya, surat untuk kaisar.
Sekarang Xi Ryu sedang berjalan-jalan di ibukota chongnam, mencari restoran untuk dirinya makan, "Paman kenapa kau memakai topeng?" Xi Ryu bingung setelah memberikan topeng rubah yang pernah digunakannya dulu.
Dibalik topeng, Jin Yong tersenyum tipis, "Sudah aku bilang, kalau mukaku diperlihatkan pada umum mereka pasti tergila-gila padaku." Jin Yong berbisik pada Xi Ryu.
Xi Ryu hanya menggeleng, "Memang benar ketampanan paman hampir diatas ketampananku, tapi menurutku orang lain pasti tidak akan sampai segitunya. Umur pamanpun sudah tidak muda lagi, ketampanan paman sudah memudar." ucap Xi Ryu sambil tertawa kecil.
Orang-orang yang berada disekitar Xi Ryu dan Jin Yong melihat kearah Xi Ryu karena tertawaannya.
Xi Ryu hanya tersenyum canggung melihat tatapan orang lain yang mengarah kepadanya. Jin Yong yang berada di sisi kanan Xi Ryu tertawa kecil, "Bukan ketampananku yang aku magsud."
Xi Ryu menghela nafas, "Baiklah, terserah paman saja."
Mereka terus berjalan, berbicara dan sekali-sekali tertawa. Hingga 5 menit akhirnya berlalu, mereka berdua menemukan restoran besar yang memiliki lantai 5 tingkat. Diatas restoran itu ada papan hitam yang bertuliskan 'Restoran 5 Alam' tertulis sengan tinta emas.
Xi Ryu menarik Jin Yong, "Kita makan di restoran ini."
Jin Yong hanya pasrah, mengikuti langkah Xi Ryu memasuki restoran. Terlihat bibirnya tersenyum tipis, "Menarik sekali, anak yang mempunyai aura yang dapat membuat tenang orang lain. Bahkan orang yang baru dikenalnya pun bisa dekat dengan cepat dengannya."
Xi Ryu dan Jin Yong sekarang berada di lantai tiga, tempat yang biasanya dipakai oleh para pendekar yang memiliki uang lebih. Mereka berdua duduk di meja dekat jendela besar yang mengarah ke jalan kota. Pelayan laki-laki datang lalu mengucapkan selamat datang dan memberikan menu hidangan pada Jin Yong dan Xi Ryu.
"Aku pesan ayam goreng spesial saja." ucap Xi Ryu.
"Sama." ucap Jin Yong singkat.
Keduanya memberikan kembali menu hidangan milik restoran, "Tunggu sebentar tuan." pelayan laki-laki itu sambil beranjak pergi meninggalkan meja Xi Ryu dan Jin Yong.
__ADS_1
Xi Ryu dan Jin Yong hanya mengagguk sebagai balasan. Sambil menunggu, Xi Ryu memulai percakapan, "Paman, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa tadi suara paman bisa berubah menjadi suara perempuan?" tanya Xi Ryu penasaran.
Jin Yong tersenyum, "Itu adalah bakatku sejak kecil. Aku bahkan bisa meniru suaramu." Jin Yong dengan nada bangga.
Mata Xi Ryu berbinar, "Benarkan? Bisa kau tunjukan padaku?" Xi Ryu sambil berdiri dan memegang kedua bahu Jin Yong.
Jin Yong melepaskan tangan Xi Ryu dari bahunya, "Sebelum itu lepaskan dulu tanganmu, itu sakit." Jin Yong mengambil nafas, "A…. A…. A…. Khem…. Aku adalah Xi Ryu, si manusia aneh." ucap Jin Yong memakai suara yang mirip dengan suara Xi Ryu.
Xi Ryu berdecak kagum, "Wah… Hebat sekali. Apakah paman bisa mengajariku?"
Jin Yong menggeleng, "Tidak bisa."
Xi Ryu tampak sedikit kecewa, "Kenapa tidak bisa?" tanya Xi Ryu.
Jin Yong menjawab, "Pita suaramu beda dengan yang lain, tidak seperti pita suara punyaku yang bisa menyesuaikan dengan suara lain."
Xi Ryu mengagguk, "Jadi soal bakat dan keberuntungan ya?" Xi Ryu sambil mengagguk-ngangguk paham.
10 menit Xi Ryu berbicara dengan Jin Yong, hingga hidangan yang mereka pesan akhirnya tiba. Pelayan menyimpan kedua ayam goreng spesial di meja, "Silahkan dinikmati makanannya tuan." pelayan itu memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Xi Ryu dan Jin Yong.
Suasana tengah malam yang tenang membuat kesan baik tersendiri, restoran yang sepi dan hanya beberapa orang yang masih belum tidur, itupun kebanyakan pendekar. karena sebagian besar manusia sudah tertidur.
Xi Ryu dan Jin Yong menghentikan pembicaraannya dan makan hidangan hangat yang ada di depannya, "Selamat makan." ucap Xi Ryu.
"Selamat makan." jawab Jin Yong. Jin Yong menggeser sedikit bagian bawah topeng, untuk makan.
Mereka berdua makan, tanpa suara, tenang.
Hingga beberapa menit berlalu ayam goreng spesial milik mereka habis. Mereka berdua minum, Jin Yong menutup kembali wajahnya, lalu melanjutkan kembali pembicaraan, "Apakah benar paman, kalau dalam beberapa hari yang lalu aliansi iblis hitam mulai menghilang? Ini pasti bukan hal baik." Xi Ryu dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Jin Yong mengangguk, "Benar, sepertinya mereka sedang mengatur kembali rencana, setelah perang beberapa minggu yang lalu. Tepatnya 15 hari yang lalu, di kota chizhou terjadi perang besar yang menewaskan 2 orang tingkat Langit - Awal di pihak aliran putih dan 3 orang tingkat Langit - Awal di pihak aliran hitam, kelanjutannya kau pasti sudah tahu." Jin Yong sambil menatap kearah mata Xi Ryu.
Xi Ryu menggeleng keras, "Lanjutkan, aku belum tahu." Xi Ryu dengan raut wajah serius.
Jin Yong menghela nafas, "Kau serius? Baiklah, akan aku lanjutkan. Korban dari kedua belah pihak sangat merugikan keduanya, meskipun begitu korban di aliansi iblis hitam lebih banyak daripada di aliran putih. Meskipun satu tahun terakhir banyak yang berhasil mencapai tingkat langit, kerugian itu sangat merugikan. Jadi, dari kesimpulanku itu, Aliansi Iblis Hitam sedang merencanakan rencana yang besar." Jin Yong dengan raut wajah serius.
Xi Ryu mengangguk, "Sepertinya tidak lama Lagi akan ada badai besar menerjang." Xi Ryu sambil menghela nafas dalam.
Xi Ryu berkata kembali, "Biarkan saja, memikirkannya hanya membuat kepala menjadi terasa akan pecah. Setelah ini kita akan pergi kemana?" tanya Xi Ryu pada Jin Yong.
Jin Yong sejenak berfikir, "Bukannya kau ingin pergi ke tempat tinggal gurumu, saat diatas atap istana kau bilang ada yang harus diselesaikan terlebih dahulu?"
Xi Ryu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kenapa aku bisa lupa ya." Xi Ryu diiringi tawa kecil, "Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tanya Xi Ryu.
Jin Yong menggeleng, "Sekarang aku tidak ingin pergi berlari-larian, kita pergi ke tempat itu besok saja. Sekarang kita akan mencari penginapan saja untuk tidur." Jin Yong dengan nada malas.
Xi Ryu mengangguk, senyum mengembang di mulutnya, "Bagaimana kalau kita bertaruh, yang kalah akan membayar biaya makan dan penginapan. Bagaimana kau mau?" ucap Xi Ryu tiba-tiba dengan diiringi senyum lebar.
Jin Yong mengangguk, "Kalau begitu aku setuju, pertaruhan apa yang akan kita lakukan?" Jin Yong dengan senyum, dirinya semangat karena sudah berfikir kalau dirinya yang akan menang, sebab menurutnya dirinya sering menang dalam permainan berjudi.
"Baiklah, pertaruhan yang akan kita lakukan adalah pertaruhan yang menentukan keberuntungan seseorang. Yaitu, Menebak laki-laki atau perempuan yang selanjutnya akan memasuki restoran ini." Ucap Xi Ryu dengan senyum lebar yang masih belum hilang dari wajahnya.
Jin Yong mengangguk, "Baiklah, kalau begitu aku akan menebak perempuan." Jin Yong dengan nada yakin.
"Berdasarkan perhitunganku, orang yang banyak berkeliaran disekitar sini adalah laki-laki, beberapa menit yang lalu datang 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Jadi, jika disimpulkan…. lebih banyak kemungkinan laki-laki yang akan masuk restoran ini dibanding perempuan." batinnya, Xi Ryu mengetukan jarinya ke meja, "Aku tebak, yang akan masuk kedalam adalah laki-laki." ucap Xi Ryu mantap.
"Baiklah kita tunggu siapa yang akan menang." ucap Jin Yong.
Beberapa menit kemudian seorang pria paruh baya dengan pedang yang dibungkus kain dipinggangnya masuk dari pintu depan. Melihat itu Xi Ryu berkata senang, "Paman, kau yang bayar…." ucap Xi Ryu dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
"Sial bagaimana bisa aku kalah, sepertinya keberuntungan berpihak padanya." batin Jin Yong kesal. Dengan malas dia berkata, "Baiklah, aku akan membayarnya. Kau jangan senang dulu, nanti aku akan membalasmu."