
Gu Yan dengan perlahan berjalan maju ke arah Fu Xiang yang sedang terkapar tak sadarkan diri, Gu Yan berkata, "TAMATLAH RIWAYATMU…!!!" Gu Yan melapisi tinjunya dengan tenaga dalam, dan kemudian dia mengarahkan tinjunya ke arah kepala Fu Xiang.
Pukulan itu mengarah cepat kepada kepala Fu Xiang yang tak sadarkan diri, namun saat pukulan itu hampir mengenai Fu Xiang, Pukulan Gu Yan di tahan oleh telapak tangan seseorang hingga terdengar suara keras.
'BUKK'
Pukulan Gu Yan di tahan oleh telapak tangan seorang pria tua, pria tua itu memiliki rambut yang hampir semuanya memutih.
Pria tua itu menarik nafas panjang, kemudian dia bergumam, "Kau masih ingin membalas dendam? Padahal aku saat itu sudah melepaskan. Karena kau akan membunuhnya, aku sekarang tidak akan mengampunimu lagi." Pria tua itu dengan senyum sinis yang diarahkan pada Gu Yan.
Melihat pria tua itu, Mata Gu Yan melebar. Gu Yan terkejut karena Pria tua itu adalah ayah dari Fu Xiang yang tidak lain Patriak Sekte Phoenix, Fu Chen.
"Che…Chen kenapa kau disini?" tanya Gu Yan dengan mulut yang bergetar.
"Kau bertanya kenapa aku disini? Kau bercanda? Kau pasti sudah tahu kenapa aku ada disini. Karena aku akan membunuhmu!!!" Fu Chen dengan cepat mengambil pedang dari sarungnya lalu dengan cepat Fu Chen menebaskan pedangnya ke leher Gu Yan, namun dapat dihindari dengan susah payah oleh Gu Yan.
'Aku tidak mengerti, mengapa bajingan ini bisa terluka parah seperti ini, padahal kekuatan lawannya masih jauh dibawahnya.' batinnya sambil menyerang.
Fu Chen kembali menyerang Gu Yan dan mengenai batang lehernya. Dari batang leher Gu Yan, darah mengucur deras seperti air mancur yang menyembur ke atas, kepala milik Gu Yan menggelinding, terjatuh ke Tanah. Kini, Gu Yan mati dengan mata yang terbuka lebar, Gu Yan mati dengan penuh penyesalan dan kekecewaan karena dia gagal membalaskan dendamnya yang hanya tinggal berjarak selangkah lagi untuk membuatnya berhasil.
Saat ini dunia menjadi saksi. Terbunuhnya sang tangan besi, Gu Yan. Dia mati karena keinginan untuk membalaskan dendamnya.
Fu Chen menghela nafas panjang, dia merasa kasihan pada mayat baru saja dia bunuh, pada akhirnya dia berdoa pada jasad Gu Yan, "Semoga di kehidupan selanjutnya kau akan menjadi orang yang baik dan berguna bagi dunia." Fu Chen lalu melihat telapak tangannya, seketika telapak tangan Fu Chen mengeluarkan api, lalu Fu Chen mengarahkannya ke mayat Gu Yan dan membakarnya. Hingga kemudian beberapa menit berlalu, mayat Gu Yan yang tadinya utuh kini sudah berubah menjadi abu yang baik untuk tumbuhan.
Fu Chen membungkuk, memberi hormat untuk yang terakhir kalinya. Fu Chen kemudian mengarahkan perhatiannya ke arah Fu Xiang. Fu Chen berkata, "Anaku, Malang sekali nasibmu." Fu Chen kemudian berjongkok, mengambil pil dari sakunya dan menelankan pil itu pada Fu Xiang.
Fu Chen melihat kearah pohon berukuran sangat besar yang sudah tumbang, Fu Chen dalam hati dia berkata, 'Apakah orang yang menabrak pohon itu anakku? Tapi tidak mungkin, jika yang menabrak pohon itu anakku. Jika begitu aku yakin lukanya akan lumayan parah dan akan sedikit lama jika disembuhkan.' Fu Chen kemudian berdiri, dia mendatangi pohon yang sudah tumbang itu. Saat sudah berada di belakang pohon itu, Fu Chen menemukan seorang anak yang terkapar tak sadarkan diri.
__ADS_1
Fu Chen mengecek nadi Anak itu, saat mengecek nadi anak itu mata Fu Xiang melebar, dia bergumam, 'Bagaimana anak ini masih hidup? Seharusnya dia sudah mati dengan organ dalam yang rusak, karena menabrak dua pohon besar ini." Dalam hati Fu Chen berkata kembali, "Jika dia berada di tingkat Fana akhir, aku masih akan percaya dia masih hidup, meskipun akan butuh waktu yang lumayan lama untuk sembuh. Tetapi dia sekarang masih berada di tingkat Fana Awal, hampir mustahil dia hidup. Sepertinya tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup.'
Fu Chen tersenyum kecil, lalu mengangkat tubuh Xi Ryu dan membawanya kedekat tubuh Fu Xiang.
Fu Chen lalu menelankan pil ke pada Xi Ryu, pil yang sama dengan yang Fu Chen telankan pada Fu Xiang. Yaitu, Pil Bunga Salju yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka luar dan luka dalam, juga membuat orang lebih cepat sadar saat tak sadarkan diri.
2 Jam kemudian Xi Ryu sadar. Sekarang hari sudah malam, Xi Ryu melihat seorang Pria tua yang tak lain Fu Chen di depannya sedang duduk didepan api unggun.
Xi Ryu bertanya pada Fu Chen, "Kakek siapa?" tanya Xi Ryu sambil berdiri, meskipun telah bertarung, entah kenapa tubuhnya tidak terasa sakit.
Fu Chen melirik ke belakang, lalu Fu Chen berkata, "Kau sudah bangun ternyata." Fu Chen lalu menepuk tanah disebelahnya.
Xi Ryu yang mengerti magsud dari Fu Chen kemudian maju dan duduk disebelah Fu Chen, sesudah Xi Ryu duduk Fu Chen berkata, "Aku adalah Fu Chen ayah dari Fu Xiang dan juga Patriak Sekte Phoenix." Fu Chen sambil memandangi api unggun.
"Ohh, jadi kakek ayah dari paman Xiang." Xi Ryu sambil memerhatikan wajah Fu Chen. Fu Chen yang merasa wajahnya diperhatikan oleh anak yang ada disisinya memperhatikan balik wajah Xi Ryu. "Pantasan saja kakek agak mirip dengan paman Xiang." Ucap Xi Ryu.
"Tak apa-apa, hanya lucu saja kau bisa bersikap biasa seperti tadi pada orang sepertiku, biasanya orang-orang bersikap sangat formal padaku saat tahu identitasku dan aku agak kurang suka itu, tapi ya mau bagaimana lagi. Meskipun aku sudah memberitahu pada mereka untuk bersikap biasa padaku, tetapi tetap saja mereka bersikap formal padaku." ucap Fu Chen.
"Emm, ngomong-ngomong kenapa aku bisa ada disini?" ucap Xi Ryu bingung.
"Kau tidak ingat? Aku tidak tahu mengapa kau bisa ada disini, yang aku tahu kau hanya tidak sadarkan diri di belakang pohon itu." Fu Chen menunjuk pohon yang tumbang karena di tabrak Xi Ryu.
"Aku? Dipohon itu? Bagaimana mungkin, jika itu benar, kemungkinan aku pasti aku sudah mati." Ucap Xi Ryu menolak untuk percaya.
"Aku tak berbohong, coba kau ingat-ingat kembali." ucap Fu Chen pada Xi Ryu.
Xi Ryu mencoba mengingat hingga 5 menit kemudian dia ingat kalau sebelum ini dia dan Fu Xiang sedang bertarung dengan Gu Yan. Tetapi anehnya, akhir dari ingatan Xi Ryu adalah saat Fu Xiang ditendang oleh Gu Yan.
__ADS_1
"Kau mengingatnya?" ucap Fu Chen sambil mengambil rokok dari saku jubahnya.
"Ya, tapi aku hanya mengingat sampai Paman Xiang ditendang oleh Gu Yan." ucap Xi Ryu.
"Mungkin setelah Fu Xiang ditendang giliranmu yang ditendang tapi kau malah tak sadarkan diri." ucap Fu Chen sambil menghisap rokoknya.
"Mungkin, Ngomong-ngomong kemana perginya Gu Yan sekarang? Apa dia kabur." tanya Xi Ryu dengan raut wajah serius.
"Ohh orang itu, dia sudah mati ditanganku. Untungnya aku datang di saat yang sangat tepat, jika tidak, mungkin Fu Xiang sudah tewas ditangannya." ucap Fu Chen, Fu Chen lalu mengubah raut mukanya menjadi serius, Fu Chen berkata, "Aku menemukan sesuatu yang janggal saat melawannya."
"Sesuatu yang janggal? Apa itu?" Xi Ryu penasaran.
"Saat aku datang, orang itu sudah terluka parah di bagian bahu, dada hingga kakinya dan luka itu kebanyakan luka terbakar juga luka tebasan. Tenaga dalamnya pun terkuras habis, meskipun saat kau bertarung dengan orang itu ada dua Fu Xiang, kemungkinan menangnya hanya beberapa persen. Asal kau tau saja, dibutuhkan mungkin lima pendekar bumi puncak untuk mengalahkan pendekar tingkat langit sepertinya." ucap Fu Chen dengan raut muka serius.
"Entahlah, mungkin ada yang membantunya." ucap Xi Ryu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ngomong-ngomong kenapa Kakek bisa ada di sini?" Tanya Xi Ryu.
"Aku dikirimi surat oleh Gu Yan. Didalam surat itu ditulis, 'Anakmu akan mati oleh orang-orang bayaranku kau bisa menemukan jasadnya di hutan dekat Desa Kayu Jati.' awalnya aku tak percaya dengan isi surat itu, tetapi firasatku merasa itu benar-benar akan terjadi. Jadi aku mencarinya di hutan dekat Desa Kayu Jati, tapi aku tidak menemukan apa-apa di hutan itu dan akhirnya aku pulang kembali karena menganggap surat itu hanya sebuah gerakan." Fu Chen menghela nafas kemudian kembali berkata.
"Tetapi saat aku di perjalanan pulang, aku mau mendengar suara pertarungan yang sangat keras, hingga aku mendengarnya dari jauh. Karena merasakan firasat buruk dari suara itu, aku akhirnya berlari kearah suara, dan saat aku telah sampai disini, ternyata Fu Xiang baru saja akan dibunuh, namun aku menyelamatkannya di waktu yang tepat. Orang itu benar-benar bodoh sekali, tapi aku bersyukur karena kebodohannya." Fu Chen bercerita dengan panjang.
"Jadi begitu ya…" Xi Ryu sambil mengangguk-ngangguk.
"Dan kau bagaimana bisa bertemu anakku?" ucap Fu Chen.
"Saat itu aku sedang berlari di hutan dan tidak sengaja aku menemukan Paman Xiang yang sedang terluka, jadi aku menolongnya. Kalau tak salah Paman Xiang bilang dia terluka karena di keroyok oleh orang-orang berbaju hitam." Ucap Xi Ryu, kemudian dia menghela nafas dan melanjutkan cerita, bagaimana dirinya bertemu Fu Xiang.
"Jadi surat itu benar. Tapi syukurlah karena dirimu, anakku berhasil selamat. Oh… iya aku lupa, siapa namamu?" ucap Fu Chen sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Namaku Xi Ryu, kakek bisa memanggilku Ryu." Xi Ryu sambil menatap api unggun itu.