
Xi Ryu dan Jin Yong akhirnya tiba di sebuah penginapan yang tidak terlalu besar. Mereka berdua sudah menyewa kamar masing-masing. Xi Ryu kini sedang berada di dalam kamarnya, "Ah, aku hampir lupa kalau khasiat Gingseng Lumut Dewa belum aku serap sepenuhnya." Gumam Xi Ryu sambil menepuk pelan dahinya.
Xi Ryu masuk ke kamar mandi, mencuci tangan, kaki, dan membasuh mukanya agar terlihat tetap segar. Xi Ryu keluar dari kamar mandi, lalu naik keatas ranjang dan duduk bersila —Bermeditasi di atas ranjang. Xi Ryu menghela nafas dalam sebelum menyerap khasiat gingseng yang masih tersisa ditubuhnya sesuai dengan cara yang tertulis di Kitab Energi Langit.
**
Hari sudah pagi, mentari sudah memperlihatkan sinarnya yang hangat dan menenangkan. Didalam istana, kasim Li yang baru mendatangi kamar Xi Ryu buru-buru berlari menuju aula utama, ruangan sang kaisar.
Kasim Li yang baru saja tiba didepan Kaisar Zhang buru-buru menunduk, lalu memberikan surat yang ditemukannya didalam kamar Xi Ryu. Kaisar Zhang menerimanya, lalu membuka surat tersebut dan membacanya dalam hati.
Maaf Kaisar, jika ada yang menemukan surat ini, berarti aku sudah pergi meninggalkan istana, melanjutkan perjalananku kembali. Saya mohon maaf yang sebesar besarnya pada Kaisar dan yang lain.
Dari Xi Ryu.
Kaisar Zhang hanya menghela nafas dalam setelah membaca surat itu, "Sepertinya putriku harus menunggu lebih lama." batinnya.
**
Di penginapan, Xi Ryu yang baru saja bangun tidur setelah beberapa jam menyerap gingseng lumut dewa tiba-tiba bersin, "Hatcuh…." Xi Ryu membuka matanya, "Sepertinya ada yang sedang membicarakanku." Xi Ryu lalu mengucek-ngucek matanya, dan memejamkannya.
**
Jin Yong yang dari malam sedang menulis, melihat kearah jendela, "Sudah pagi ya…? Tidak terasa." Jin Yong menyimpan kembali buku yang dia pakai menulis tadi ke dalam bajunya, entah apa yang dia tulis.
Jin Yong meregangkan tubuh, "Waktunya sarapan." Jin Yong masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh mukanya, setelah itu dia memakai topeng, kemudian dia pergi keluar dari kamarnya.
Jin Yong menutup pintu, lalu melihat ke kamar yang ada disebelahnya, "Sepertinya Ryu masih tertidur." batin Jin Yong. Tanpa mempedulikan Xi Ryu lagi, Jin Yong turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Jin Yong duduk di meja yang berada di dekat pintu keluar. Seorang pelayan wanita datang mendatangi meja Jin Yong, lalu memberikan menu makanan pada Jin Yong, "Mau pesan apa tuan." sambil bersiap mencatat pesanan Jin Yong.
Jin Yong melihat-lihat isi dari menu, lalu menunjuk makanan bernama bubur unggas. Jin Yong memberikan kembali menu-nya, "Aku pesan satu Bubur Unggas porsi besar, dan dua guci arak terbaik."
Pelayan itu tampak mengangguk sebelum berkata, "Baiklah, tunggu sebentar tuan." sambil beranjak pergi dari meja Jin Yong.
**
Beberapa saat kemudian, satu porsi Bubur Unggas dan 2 guci arak terbaik datang, diletakan dengan hati-hati dimeja Jin Yong. Pelayan itu tampak mengagguk kecil, "Apakah tidak ada yang lain?" tanya pelayan itu.
Jin Yong menggeleng, "Tidak ada, terimakasih."
Pelayan itu mengangguk sebelum berkata, "Baiklah, selamat dinikmati hidangannya tuan." ucap Pelayan itu, kemudian pelayan itu membalikan badannya, beranjak pergi dari meja Jin Yong.
Jin Yong menggesek-gesek kedua telapak tangannya, "Selamat makan." gumamnya pelan. Kemudian Jin Yong memakan bubur unggas yang ada di hadapannya, menurutnya bubur memang menjadi menu sarapan terbaik.
__ADS_1
**
Dari dalam kamar, Xi Ryu akhirnya sudah mengumpulkan semua niatnya untuk mencuci mukanya, Xi Ryu turun dari ranjangnya, meregangkan tubuhnya yang agak kaku, saat meregangkan tubuhnya tiba-tiba perut Xi Ryu berbunyi, "Sepertinya perutku minta diisi kembali. Tidak peduli tingkatanku yang tinggi, aku tetap manusia yang butuh banyak makan." Xi Ryu diiringi dengan tertawa kecil.
Xi Ryu masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh mukanya, dia sedang malas untuk mandi. Sesudah membasuh muka, Xi Ryu keluar dari kamarnya, beranjak ke lantai dasar untuk sarapan.
Dengan santai Xi Ryu berjalan menuju tangga, saat tiba di tangga pandangan Xi Ryu menyisir ke segala penjuru lantai dasar itu, hingga akhirnya menemukan seseorang memakai topeng rubah yang sedikit dibuka. Orang itu sedang santai-santainya makan di meja yang berada didekat pintu. Orang itu tidak lain Jin Yong.
Xi Ryu berjalan menuju meja Jin Yong, duduk di meja itu, "Paman, kenapa kau tidak mengajaku untuk sarapan?" tanya Xi Ryu yang sudah duduk di kursi yang berhadap-hadapan dengan kursi Jin Yong.
Jin Yong menghentikan makannya, "Kau kan masih tidur. Lagipula tidak penting meributkan hal itu. Lebih baik kau pesan makanan untuk sarapanmu." Jawab Jin Yong sambil melanjutkan sarapannya.
Xi Ryu tertawa canggung, kemudian dia menganggkat tangannya memberi kode pada pelayan restoran untuk datang pada mejanya. Pelayan yang melihat tanda itu datang pada Xi Ryu, "Mau pesan apa tuan?" pelayan itu sambil menyerahkan sebuah menu.
Tanpa melihat kearah menu, Xi Ryu berkata, "Samakan dengannya, tapi tanpa arak. Ditambah jus buah satu." ucap Xi Ryu sambil memberikan kembali menu makanan.
Pelayan itu mengangguk sambil mengambil kembali menu yang diserahkan Xi Ryu, "Kalau begitu mohon ditunggu, makanannya akan segera siap." pelayan itu berbalik, lalu pergi meninggalkan meja Jin Yong dan Xi Ryu.
Beberapa menit Xi Ryu menunggu hingga akhirnya makanan dan minuman yang dipesan oleh Xi Ryu datang. Sesudah pelayan yang mengantar pergi, Xi Ryu langsung memakan hidangannya. Sedangkan Jin Yong dengan santai meminum arak yang berbau wangi.
**
Beberapa menit berlalu, Jin Yong sudah kehabisan araknya dan Xi Ryu sudah menghabiskan sarapannya, Jin Yong yang dari tadi diam akhirnya berkata, "Ryu, kita berangkat sekarang?" tanya Jin Yong.
Jin Yong tersenyum kesal.
"Baiklah kalau begitu aku akan beres-beres dulu." ucap Xi Ryu sambil beranjak dari kursinya, lalu berjalan ke kamarnya.
Xi Ryu sampai dikamarnya, lalu mengeluarkan peta dari Cincin Naganya, "Sepertinya masih jauh jarak dari sini ke kediaman guru." Xi Ryu sambil melihat kearah peta yang membentang diatas ranjangnya.
Sudah lebih dari lima menit Xi Ryu melihat-lihat peta. hingga dari luar, Jin Yong mengetuk pintu kamar Xi Ryu.
TOK…. TOK…. TOK….
"Ryu, boleh aku masuk?" tanya Jin Yong yang berada di depan pintu kamar Xi Ryu.
"Tunggu dulu." Xi Ryu buru-buru memasukan peta itu kedalam Cincin Naga. Lalu berkata kembali, "Masuk saja, pintunya tidak dikunci." Xi Ryu setengah teriak.
Jin Yong masuk kedalam kamar Xi Ryu, "Kau sudah selesai beres-beres?" tanya Jin Yong pada Xi Ryu.
Xi Ryu mengangguk, "Ya, aku sudah membereskan barang-barangku. Lagipula aku hanya punya sedikit barang. Kalau begitu, Apakah paman sudah selesai membereskan barang paman?" Xi Ryu sambil bertanya balik.
Jin Yong mengangguk, "Sudah. Barangku juga hanya sedikit, aku hanya membawa guci air, uang dan makanan kering saja. Sisanya ada didalam bajuku. Baiklah, ayo kita berangkat, lanjutkan perjalanan." ucap Jin Yong dengan semangat.
__ADS_1
**
Beberapa saat berlalu. Sekarang Xi Ryu dan Jin Yong sudah keluar dari Ibukota Chongnam. Jin Yong yang daritadi fokus untuk berlari akhirnya bertanya, "Ryu, tolong jawab pertanyaanku." Jin Yong dengan serius.
Xi Ryu yang sedang fokus berlari di depan Jin Yong, menyamakan jarak berlarinya dengan Jin Yong. Kemudian melihat kearah Jin Yong, "Pertanyaan apa?"
"Apa umurmu berada sedikit dibawahku?" tanya Jin Yong.
Xi Ryu tersenyum lebar, "Hmmm, umurku berada dibawahmu tapi aku tidak akan sebutkan rinciannya."
"Kau ingin aku mati penasaran?" Jin Yong dengan nada yang melengking.
Xi Ryu tertawa kecil, "Tidak, aku hanya bercanda. Umurku 17 tahun." jawab Xi Ryu tanpa beban.
Mata Jin Yong sedikit terbuka, "17 tahun? Kau pasti bercanda, kan?" Jin Yong menolak untuk percaya.
Xi Ryu melirik ke arah Jin Yong, "Tidak, aku tidak bercanda. Aku serius." Xi Ryu dengan nada serius.
Jin Yong menghela nafas dalam. Setelah melihat tatapan matanya yang serius, dan tidak ada tanda-tanda bohong. Dia yakin Xi Ryu tidak berbohong, "Aku percaya. Sekarang aku yakin, kedatanganmu akan membuat aliran putih mencapai titik terbaiknya kembali. Bahkan melebihi titik terbaiknya." Jin Yong dengan senyum tipis.
Xi Ryu hanya tersenyum kecil, tak mengubris perkataan Jin Yong.
**
8 jam berlalu, mereka berdua sudah berlari selama 8 jam tanpa istirahat. Mereka berdua berlari di jalan yang biasa dilewati kereta pedagang. Selama perjalanan mereka sekali-sekali bercerita, membuat perjalanan terasa lebih hidup. Xi Ryu berkata, "Kira-kira kita akan tiba beberapa minggu lagi, bahkan lebih. Paman, bagaimana jika kita hanya beristirahat di hutan, jika kita menemukan penginapan untuk para pengelana kita akan menginap disana. Mungkin dengan begitu perjalanan akan menjadi lebih cepat."
"Itu terserah dirimu saja. Lagipula aku mengikutimu karena aku tidak memiliki tujuan untuk dituju." jawab Jin Yong dengan wajah datar.
Xi Ryu tertawa kecil mendengar jawaban Jin Yong, "Paman sepertinya menjalani hidup dengan santai ya…." Xi Ryu yang tertawa kecil tiba-tiba mengerutkan dahi, "Paman kita kurangi kecepatan. Aku lihat, didepan ada kereta pedagang yang sedang dirampok." Xi Ryu mengurangi kecepatan.
"Kau yakin?" Jin Yong ragu, karena dia hanya melihat samar-samar kereta pedagang.
"Aku yakin seratus persen." Xi Ryu dan Jin Yong lalu mendekati, tanpa keributan dan dengan kecepatan yang diturunkan setengahnya.
Jarak Xi Ryu dan Kereta pedagang itu terpisah sekitar tiga ratus meter , Jin Yong berdecak kagum dalam hatinya, sebab pengelihatan Xi Ryu yang sangat tajam. Xi Ryu dan Jin Yong terus mengamati.
Dari jauh terlihat kalau ada dua pendekar tingkat dua yang disewa pedagang itu sedang mencoba untuk mempertahankan kereta milik pedagang yang menyewanya. Tapi nahas, nasibnya yang sial membuat mereka mati tertusuk karena di keroyok oleh 7 orang perampok yang berada di tingkatan 1.
Xi Ryu yang melihat menggertakan gigi kesal. Xi Ryu berancang-ancang untuk berlari kearah mereka, tapi saat ingin menunjukan diri, Jin Yong dari belakang menahannya, "Biarkan dulu mereka, aku jamin mereka yang ada didalam kereta tidak akan mati, kecuali ada yang memberontak, kemungkinan besar mereka akan ditahan. Kita akan ikuti para perampok terlebih dahulu untuk mengetahui dimana markas mereka berada. Setelah itu kita susun rencana untuk membunuh mereka semua dan membebaskan orang-orang yang ditahan, aku yakin banyak orang yang mereka tahan."
Xi Ryu menggertak gigi kesal, meskipun kurang setuju dengan usulan Jin Yong, tapi saat dipikirkan lagi, itu jalan yang paling baik yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan orang lain. Xi Ryu menganggukan kepala, setuju akan usulan Jin Yong.
"Baiklah kita akan ikuti mereka." Jin Yong berkata pelan, sambil beranjak dari tempatnya –dari belakang mereka, mengikuti para perampok yang sekarang sedang membawa para pedagang yang sudah pasrah.
__ADS_1