
Sekarang hari sudah pagi, Xi Ryu sedang berada didepan Restoran Mutiara. Dalam hati Xi Ryu berkata, "Akhirnya aku bisa datang lagi ke tempat makan ini. Aku sudah tidak sabar ingin makan kembali Ayam Goreng Spesial, dan Bubur Tiram ala restoran ini." Xi Ryu dengan bersemangat.
Xi Ryu masuk ke Restoran.
Seperti biasa, sekarang Xi Ryu akan duduk di meja paling pojok. Setelah Xi Ryu duduk, dengan cepat tanggap, Pelayan Wanita yang kemarin melayani Xi Ryu datang. Lalu memberi menu makanan dan berkata, "Mau pesan apa tuan?" Pelayan itu dengan senyum manisnya.
"Seperti yang saat itu saja." ucap Xi Ryu.
Pelayan itu berfikir sekejap, hingga akhirnya dia berkata, "Hmmm… Kalau tidak salah Ayam Goreng Spesial dan Bubur Tiram ya?"
Xi Ryu mengangguk lalu berkata, "Ya… Itu yang ingin aku pesan."
Dengan senyum manisnya, pelayan itu berkata, "Baik tuan muda… Tunggu sebentar ya." Pelayan itu berbalik meninggalkan Xi Ryu, tanpa mengambil menu makanannya.
Xi Ryu melihat pada menu makanannya, lalu dia bergumam, "Kenapa menunya tidak dibawa?" Xi Ryu sambil melihat pelayan tadi yang sudah agak jauh darinya.
Disisi lain. Pelayan yang sudah mengucapkan pesanan Xi Ryu pada Koki restoran. Baru ingat, kalau menu makanan milik restoran ketinggalan di meja Xi Ryu.
Didalam hatinya pelayan itu berkata, 'Aku sampai lupa pada menu makananku, karena terlalu berharap pemberian tip dari tuan muda itu.' pelayan itu lalu kembali lagi pada meja Xi Ryu.
Saat sudah sampai di meja Xi Ryu. Pelayan itu mengambil menu makanannya. Dia berkata pada Xi Ryu, "Maaf tuan, aku izin mengambil ini."
Xi Ryu mengagguk paham. Dia lalu berkata, "Ohh, iya. Silahkan." Xi Ryu dengan senyuman.
"Terimakasih tuan, aku pergi dulu." Pelayan itu lalu pergi meninggalkan meja Xi Ryu untuk bekerja kembali.
Xi Ryu mengagguk, dalam hatinya dia berkata, 'Ternyata untuk manusia biasa, mencari uang itu susah. Meskipun tidak perlu sampai terlalu mempertaruhkan nyawa seperti pekerjaan para pendekar. Aku bersyukur mempunyai banyak harta pemberian guru di dalam cincin ini.'
Xi Ryu hanya diam menunggu selama sepuluh menit. Hingga masakan yang dipesan Xi Ryu datang. pelayan yang mengantar pesanannya berkata, "Ini pesanannya tuan, silahkan dinikmati." Pelayan itu kemudian menyimpan pesanan Xi Ryu di meja. Sesudah menyimpan pesanan Xi Ryu, pelayan itu pergi.
Xi Ryu menghirup aroma makanan didepannya. Dia berkata, "Harum sekali. Baiklah kalau begitu, selamat makan." Xi Ryu sambil mulai memakan makanan yang ada didepannya.
Beberapa menit berlalu. Sekarang Xi Ryu sudah selesai memakan semua makanannya. Dengan perasaan yang senang dia bergumam, "Wahhh… Enak sekali. Mungkin nanti siang atau sore, aku akan mampir lagi ke restoran ini untuk makan." Xi Ryu bangkit dari kursinya dan melambai pada pelayan tadi.
Pelayan yang melihat lambaian tangan dari Xi Ryu, datang kepada Xi Ryu, "Sudah selesai tuan?"
Xi Ryu menjawab, "Ya aku sudah selesai, berapa harganya?" Xi Ryu sambil mengecek uang dari sakunya.
"empat puluh keping perak tuan." ucap pelayan itu dengan senyum lebar.
"empat puluh keping perak? Emmm… Apakah pesanan disini bisa dibungkus?" tanya Xi Ryu.
"Bisa tuan. Apa Tuan ingin membeli lagi makanan?" tanya pelayan itu.
"Iya, Ayam Goreng Spesial dan Bubur Tiram lagi, masing-masing dua." ucap Xi Ryu pada Pelayan.
__ADS_1
"Baiklah tunggu sebentar." ucap Pelayan itu. Kemudian dia berbalik meninggalkan Xi Ryu.
Dalam hati Xi Ryu berkata, "Mungkin ini bisa menjadi permintaan maafku pada Mei Ying dan Fu Bai, karena menolak permintaan bertarung mereka." Xi Ryu dengan senyum di wajahnya.
Beberapa menit berlalu. Pesanan yang dipesan Xi Ryu akhirnya datang. pelayan yang mengantarnya kemudian berkata, "ini pesananya, dua porsi Ayam Goreng Spesial dan juga dua porsi Bubur Tiram." Pelayan itu sambil memberikan pesanan milik Xi Ryu.
"Terimakasih, berapa harganya?" ucap Xi Ryu.
"Karena tuan memesan enam pesanan, tuan mendapat potongan harga. harga yang ttadinya satu keping emas dan dua puluh keping perak, menjadi satu keping emas dan sepuluh keping perak." ucap pelayan itu.
"Baiklah ini satu keping emasnya, sisanya ada didalam sini, uang tipnya ada di dalam kantung ini." ucap Xi Ryu sambil memberi satu keping emas pada Pelayan itu dan satu kantung kain berisi dua puluh keping perak.
"Terimakasih banyak tuan. Juga terima kasih telah datang kesini, lain kali datang lagi ya..." ucap pelayan dengan senyuman.
"Baiklah, terimakasih." ucap Xi Ryu, kemudian Xi Ryu pergi keluar dari restoran itu.
Setelah berada di luar restoran, dalam hati Xi Ryu berkata, "Sepertinya aku akan berjalan-jalan di kota ini." Xi Ryu sambil berjalan meninggalkan restoran.
Dengan santainya Xi Ryu berjalan di jalanan kota, dengan sebuah kantong kulit berisi makanan di tangannya. Saat sedang berjalan, Xi Ryu melihat seorang kakek dengan tubuh kurus kering, sedang tertidur di pinggir jalanan.
Melihat kondisi kakek itu, Xi Ryu merasa iba dan kasihan. Dalam hatinya Xi Ryu berkata, "Aku harus menolongnya." Xi Ryu sambil mendekati kakek itu.
Setelah berada didekat kakek itu, Xi Ryu mendekatkan tangannya pada bahu si Kakek, sambil berkata, "Kakek, bangun... Kakek..." Xi Ryu menggoyang-goyang bahu kakek pengemis.
Xi Ryu menggeleng, lalu dia berkata, "Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku Ryu. Kakek ayo ikut aku." Xi Ryu sambil memegang tangan kakek itu.
"Mau kemana?" ucap kakek itu bingung.
"Sudah ayo, nanti juga tahu. Kakek akan aku gendong." ucap Xi Ryu sambil berjongkok mengarahkan punggungnya pada kakek itu.
Kakek itu perlahan naik ke gendongan Xi Ryu. Setelah kakek itu berada di punggung Xi Ryu. Xi Ryu berkata, "Sudah kek?"
Kakek itu menjawab, "Sudah nak." kakek itu dengan suara lemah.
Setelah mendapat jawaban dari kakek itu Xi Ryu mulai berjalan kearah sekte, diperjalanan Xi Ryu bertanya pada kakek yang ada di gendonganya, "Kakek berasal dari mana?"
"Aku berasal dari tempat yang jauh dari sini." ucap Kakek itu.
"Dari mana?" tanya Xi Ryu penasaran.
Kakek itu mencoba mengingatnya lalu dia berkata, "Entahlah, Kakek tidak ingat. Seingat kakek, ditempat itu banyak orang yang sangat kuat."
"Sangat kuat? Kuat seperti apa?" tanya Xi Ryu penasaran.
"Hmmm... Kakek tidak ingat." kakek itu sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Tidak ingat ya... Sayang sekali." ucap Xi Ryu diiringi senyum tipis. Dalam hatinya Xi Ryu berkata, 'Apa mungkin kakek berasal dari Ibukota kekaisaran Wei? Tapi itu tidak mungkin, butuh lebih dari satu bulan jika manusia biasa untuk pergi kesana. Biaya yang harus di keluarkannya pun sangat banyak. Entahlah, mungkin saja kakek ini berasal dari kota, yang mayoritas penduduknya seorang pendekar."
Xi Ryu berjalan sambil berbicara dengan kakek itu. Percakapan Kakek itu dan Xi Ryu mengalir seperti air, sekarang Xi Ryu tahu nama dari kakek ini adalah Shu. Nama yang mirip seperti nama belakang guru Xi Ryu, Yang Shu.
Dan penyebab kenapa Kakek Shu bisa sampai disini belum diketahui. Karena Kakek Shu tidak ingat.
Tak terasa, sekarang Xi Ryu sudah sampai di tempat tujuannya, Restoran Mutiara. Setelah sampai di depan restoran itu, Xi Ryu berjalan kedalam restoran. Tetapi saat akan masuk, Xi Ryu di cegat oleh dua orang berbadan besar yang membawa pedang dipinggangnya. Salah satu dari Mereka berkata, "Kau tidak diizinkan masuk, karena membawa kakek itu."
"Kenapa tidak diizinkan masuk?" protes Xi Ryu.
"Karena kakek itu dapat menyebabkan ketidak nyamanan direstoran ini." tegas salah satu dari mereka.
Xi Ryu menghela nafas lalu berkata, "Bagaimana caranya agar aku bisa makan makanan direstoran ini."
Kedua penjaga itu tampak berfikir, hingga salah satu dari mereka berkata, "Hmmm… Ini agak sedikit mahal, tetapi kau bisa menyewa ruangan VIP untuk makan bersama kakek itu."
Xi Ryu mengagguk, lalu dia berkata, "Baiklah, uang tidak masalah bagiku. Antarkan aku kesana."
Salah satu dari penjaga itu terlihat ragu, namun kemudian mengangguk dan berbalik, dia berkata, "Ikuti aku." Penjaga itu kemudian berjalan masuk ke restoran, dan naik ke atas tangga restoran.
Xi Ryu mengikuti penjaga itu, saat naik tangga, dalam hati Xi Ryu berkata, 'Aku pikir ruangan yang diatas tangga ini hanya ruangan Khusus untuk para tamu, ternyata ini ruangan VIP.'
Xi Ryu mengikuti penjaga itu, hingga Xi Ryu sampai di atas tangga. Pintu ruangan VIP yang berderet mirip asrama sektenya, membuatnya ingat dengan sektenya.
Dari depan Xi Ryu, penjaga yang mengantar Xi Ryu berkata, "Tuan akan memilih ruangan yang mana?"
Dari gendongan Xi Ryu, Kakek Shu yang dari tadi hanya diam tak berbicara, akhirnya berbicara. Kakek Shu berkata, "Yang ini saja." sambil menunjuk ruangan disebelah kanannya.
"Baiklah, yang ini saja." Xi Ryu sambil menunjuk ruangan yang tadi Kakek Shu tunjuk.
Penjaga itu lalu maju membuka ruangan yang ditunjuk Xi Ryu, setelah dibuka Penjaga itu berkata, "Silahkan masuk."
Xi Ryu lalu masuk bersama Kakek Shu, setelah Xi Ryu masuk penjaga itu berkata kembali, "Tunggu sebentar, pelayan akan segera datang. Dan aku izin pergi, aku akan bekerja kembali." Penjaga itu memberi hormat, kemudian berjalan pergi keluar ruangan VIP itu.
Saat Xi Ryu dan Kakek Shu masuk, Meja makan panjang berwarna coklat dan ruangan bernuansa hijau menyambut Xi Ryu dan Kakek Shu, Xi Ryu lalu menurunkan Kakek Shu didekat meja, sesudah diturunkan, Kakek Shu berkata, "Terimakasih nak, Kakek tidak akan pernah melupakan jasamu ini."
Mendengar ucapan dari Kakek Shu, Xi Ryu hanya tersenyum lebar. Xi Ryu berkata, "Tidak apa-apa kek, ini sudah menjadi kewajibanku untuk menolong sesama. Jadi jangan sungkan-sungkan."
Kakek Shu tersenyum, lalu berkata, "Baiklah, Terimakasih nak."
Pelayan restoran datang, lalu pelayan itu memberikan menu makanan restoran pada Xi Ryu.
Xi Ryu melihat menu makanan itu, kemudian dia berkata, "Aku pesan menu spesial." sambil memberikan kembali menu makanan itu.
Pelayan yang sudah selesai mencatat pesanan Xi Ryu, mengagguk pelan. Lalu Pelayan itu mengambil kembali menu makanan yang sudah dilihat Xi Ryu. Setelah mengambil menu makanan, pelayan itu berkata, "Silahkan tunggu." sambil pergi meninggalkan ruang VIP dari Xi Ryu dan Kakek Shu.
__ADS_1