Pendekar Kaisar Naga

Pendekar Kaisar Naga
Ch.41 - Aura Pembunuh


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, akhirnya Xi Ryu dan Zhang Qianyu sampai di ruang makan, "Maafkan kami, kami datang terlambat." ucap Xi Ryu sambil memberi hormat, lalu duduk di kursi kosong yang sudah disediakan untuknya. Sedangkan Zhang Qianyu duduk disebelah Xiao Yi, ibunya.


Xiao Yi yang duduk disebelah Zhang Qianyu berkata, "Tidak apa-apa, kalau begitu selamat makan." Xiao Yi sambil memulai acara makan malam dan diikuti oleh semua orang yang ada di meja makan.


Semua orang penting termasuk adik dari kaisar dan semua keluarganya makan ditempat yang sama yaitu ruang makan yang biasa di pakai oleh sang Kaisar.


Saat makan malam berlangsung tidak ada satu orangpun yang bicara karena itu termasuk tatakrama yang biasa di terapkan di dalam istana. Hingga tidak lama kemudian makan malam selesai, Kaisar Zhang yang pertama kali memulai percakapan, "Saudara-saudara semua yang ada disini, ini adalah pendekar Ryu, pendekar hebat yang menolongku dari bahaya yang mengancam nyawaku. Jika tidak ada pendekar mungkin aku sudah berada di alam baka." Kaisar diiringi tawa kecil.


Xi Ryu bangkit lalu memperkenalkan diri, "Saya Xi Ryu, dari Sekte Phoenix." Xi Ryu sambil mengepal tangan, memberikan hormat.


Orang yang duduk tidak jauh dari Zhang Kun yang tidak lain adik dari Kaisar, Zhang Bai angkat bicara, "Jadi pendekar yang menyelamatkan kakakku. Apakah benar umurmu belum genap 18 tahun?" tanyanya penasaran, Zhang Bai memang pernah mendengarnya dari kakaknya kalau Xi Ryu belum berumur 18 tahun, tetapi dia tidak akan percaya sebelum mendengar dari Xi Ryu sendiri.

__ADS_1


Xi Ryu tersenyum tipis, "Benar, saya memang belum genap 18 tahun."


Semua yang belum mengetahui umur dari Xi Ryu berdecak kagum, bagaimana tidak. Seorang anak yang belum berumur 18 tahun tetapi sudah mempunyai kekuatan yang mengerikan.


Pembicaraan dimeja makan mengalir seperti air hingga akhirnya Xi Ryu pamit untuk beristirahat kekamarnya, "Oh, silahkan pendekar, Kasim Li tolong antar pendekar ke kamarnya dan berikan Pendekar Ryu hadiah yang sudah aku siapkan." ucap Kaisar Zhang.


Kasim Li yang ada di belakang Kaisar Zhang mengangguk, "Baik yang mulia." Kasim Li mendeka, kemudian memberikan sebuah amplop cokelat pada Xi Ryu, "Pendekar mohon diterima."


Zhang Kun mengangguk, "Seharusnya aku yang berterima kasih, kalau tidak ada dirimu aku mungkin sudah ada di alam baka." Zhang Kun diiringi tawa kecil.


"Mari Tuan saya antar." Kasim Li sambil memimpin jalan.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Xi Ryu sampai di kamarnya, "Pendekar, ini kamar anda dan ini kuncinya." Kasim Li sambil memberikan kunci pada Xi Ryu, "Kalau begitu saya izin pamit pendekar, selamat istirahat." Kasim Li sambil memberi hormat, lalu pergi meninggalkan Xi Ryu.


Xi Ryu mengangguk lalu berkata, "Terimakasih." sesudah itu dia masuk kedalam kamarnya, "Wah… Luas sekali tapi ini tidak aneh, mengingat tempat ini sangat luas." Xi Ryu sambil tertawa kecil.


Xi Ryu meregangkan tubuhnya lalu mengambil amplop dari kaisar, "Emm. ternyata uang kertas, jumlahnya juga sangat besar, mungkin dengan ini biaya hidupku akan terpenuhi." sambil memasukan amplop tebal itu kedalam Cincin naga. Kemudian Xi Ryu beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


10 menit berlalu, Xi Ryu sudah membersihkan tubuhnya dan sekarang sedang memakai baju berwarna biru tua, "Ahh segar sekali, sudah lama sekali aku tidak mandi seperti ini. Ah… Nikmat tuhan mana yang kau dustakan." gumamnya.


Xi Ryu naik ke atas ranjang dan bersila, dia mengambil Gingseng Lumut Dewa dari Cincin Naganya, "Aku hanya punya 40 biji gingseng jenis ini, dan semuanya berumur 300 tahun. Jika aku menyerap semuanya secara rutin aku yakin kekuatan Fisikku akan meningkat secara tajam." Kemudian Xi Ryu memakan gingseng itu dan mulai menyerapnya.


Tengah malam, Hampir semua orang yang ada didalam istana sudah terlelap dalam tidurnya. Xi Ryu yang masih menyerap gingseng lumut dewa mengerutkan dahi karena samar-samar Xi Ryu merasakan aura pembunuh kental yang sedang di sembunyikan, meskipun dia tidak merasakan adanya niat membunuh tetapi Xi Ryu tetap waspada , Xi Ryu membuka lebar matanya, "Ini… Kental sekali aura pembunuhnya, Aku harus mencarinya." gumam Xi Ryu dengan raut wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2