
Di sore hari yang dengan sinar matahari yang sudah hampir terbenam, Xi Ryu berlari tanpa tujuan pasti, dia terus berlari menjauhi Desa Pohon Jati. Xi Ryu tidak ingin kembali ke desa itu karena Xi Ryu sudah mengira, jika dirinya kembali, pasti akan diadakan semacam pesta, untuk merayakan kebebasan desa mereka dari para bandit. Xi Ryu tidak ingin menyia-nyiakan waktunya dan Xi Ryu berencana akan berlatih kembali, tetapi dia tidak tahu akan kemana selanjutnya.
Xi Ryu terus berlari menyusuri hutan hingga dia mendengar seseorang meminta tolong dengan suara lemah. Xi Ryu bergumam, "Aku harus menolongnya."
Xi Ryu mencari ke arah sumber suara hingga dia menemukan seorang laki-laki berambut panjang dengan perut berdarah tergeletak lemah dan matanya tertutup, dengan cepat Xi Ryu mendatangi laki-laki tersebut lalu memeriksa nadinya.
"Gawat, aku harus cepat menolongnya." Xi Ryu lalu mengeluarkan sebuah pil berwarna putih dari Cincin Naga miliknya, pil pemberian dari gurunya, Yang Shu.
Pil itu adalah Pil Awan Suci, pil yang langka dan berfungsi sebagai mengobati luka luar dan luka dalam. Pil ini hanya mengobati sekitar tiga puluh persen luka dalam yang tak lumayan parah, namun meskipun begitu pil itu tidak berguna bagi luka Yang Shu. Meskipun hanya bisa mengobati sekitar tiga puluh persen, berkat pil itu laki-laki yang tergeletak lemah tersebut sekarang sudah bisa membuka mata, dan laki-laki itu bekata, "terimakasih." katanya lemah.
Xi Ryu yang mendengar itu hanya tersenyum, lalu Xi Ryu menyandarkan laki-laki itu ke batang pohon dan memerban luka-lukanya. Xi Ryu berkata pada pria itu, "Paman aku mencari makanan dulu, jangan khawatir aku hanya pergi sebentar." Xi Ryu lalu melesat pergi mencari makanan.
Satu jam berlalu, Xi Ryu sudah selesai mencari buah-buahan dan pergi ketempat laki-laki tadi terbaring. Tetapi saat Xi Ryu sudah sampai, Xi Ryu melihat laki-laki itu tergeletak di tanah dan tidak menyender di batang pohon.
Melihat itu, Xi Ryu langsung melepas buah buahan yang dia pegang, lalu melesat ke arah laki-laki itu, Xi Ryu mengecek nadi laki-laki itu, setelah mengecek nadi orang itu Xi Ryu bernafas lega, laki-laki itu hanya tertidur dan tidak mati.
Xi Ryu hanya terkekeh kecil, lalu Xi Ryu mengambil buah-buahan yang dia jatuhkan tadi dan menyimpan di dekat laki-laki yang sedang tertidur.
Xi Ryu lalu melakukan latihan pernapasan untuk mengisi kembali tenaga dalamnya. Hingga 5 jam berlalu. Malam yang terang karena disinari sang rembulan. Laki-laki yang tertidur pun sudah bangun dan bersusah payah untuk duduk.
Laki-laki itu bergumam, "Lapar sekali, aku butuh makanan." Laki-laki itu melihat ke segala arah dan samar-samar dia melihat melihat buah-buahan di depannya.
Tanpa ragu laki-laki itu memakan buah-buahan itu hingga dalam kurun waktu 10 menit, buah yang dikumpulkan Xi Ryu dalam waktu 1 jam habis tak tersisa.
__ADS_1
Laki-laki itu lalu melihat kembali ke arah kiri dan melihat seorang anak sedang melakukan teknik pernapasan untuk mengumpulkan tenaga dalam, saat dia mengukur tingkat kemampuan Xi Ryu, Laki-laki itu Agak terkejut pasalnya tingkatan anak itu berada di tingkat satu dan kelihatannya anak itu belum berumur 15 tahun.
"Anak ini berbakat, mungkin aku bisa mengajak ya bergabung dengan sekteku. Meskipun kemungkinan besar dia mempunyai sekte, mencoba mengajaknya bukan hal sulit." gumam laki-laki itu sambil melihat Xi Ryu itu bermeditasi.
Xi Ryu yang berniat mengakhiri meditasinya membuka mata dan melihat laki-laki yang dia tolong sudah sadar dan sedang melihat padanya, Xi Ryu lalu bertanya, "Ada apa paman?" ucap Xi Ryu.
"Tidak, tapi kau anak yang berbakat." ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
Xi Ryu sejenak terlihat kebingungan dengan perkataan laki-laki di hadapannya, kemudian dia bertanya, "Berbakat ya? Apa paman juga seorang pendekar?" tanya Xi Ryu.
Laki-laki itu berkata, "Ya… Kurang lebih begitu, aku seorang pendekar. Jika kau bertanya tingkat praktikku, aku berada di tingkat bumi puncak, hanya selangkah lagi menuju tingkat langit, tingkat paling tinggi diantara tingkatan pendekar. Aku tidak sabar mencapainya." Laki-laki itu sambil tersenyum hangat.
"Ahh… Iya aku lupa, betapa tidak sopannya aku pada seseorang yang menyelamatkanku. Aku Fu Xiang, sebut saja namaku sesukamu." ucap Fu Xiang.
Xi Ryu mengangguk, kemudian ikut memberi tahu namanya, "Nama orang kecil ini adalah Xi Ryu. Mungkin… Terdengar aneh, tapi itulah namaku."
Xi Ryu tersenyum canggung, namun dirinya mengangguk, "Oh iya, Paman Xiang, dimana buah yang tadi disini?" tanya Xi Ryu sambil menunjuk tempat sebelumnya menyimpan buah.
Fu Xiang menjawab, "Maaf, semuanya sudah aku makan." Fu Xiang dengan tawa kecil.
Xi Ryu menghela nafas, dia sebenarnya sudah lapar. Tapi, ya sudahlah hari juga sudah malam, dia tak bisa mencari makanan sekarang, karena minimnya penerangan dan juga Xi Ryu sedang malas untuk mencari makanan.
Xi Ryu bertanya pada Fu Xiang, "Paman kenapa paman bisa terluka?" Xi Ryu penasaran.
__ADS_1
Raut wajah Fu Xiang menjadi serius, "Seharusnya ini menjadi rahasia, tetapi paman akan memberi tahumu karena telah menolong paman. Aku tadi diserang oleh sekelompok orang berbaju hitam dan aku terluka parah. Aku berlari, memaksakan tubuhku untuk berlari dengan kecepatan penuh, memakai ilmu meringankan tubuh terbaik milikku. Paman mengecoh dan membuat mereka lengah. Saat mereka lengah paman melarikan diri dan akhirnya berhasil lolos dari kejaran orang-orang berbaju hitam itu, tapi karena terlalu memaksakan diri untuk berlari, aku menjadi terluka." Fu Xiang panjang lebar.
Xi Ryu mengangguk lalu bertanya, "Mengapa paman di kejar sampai segitunya? Pasti ada yang mereka inginkan, bukan? ." Xi Ryu sambil ikut berpikir.
Fu Xiang mengangguk dia lalu meminta Xi Ryu mengambil sebuah kotak kecil dari dalam jubahnya dan Xi Ryu hanya mengangguk dan mencari kotak yang ada di dalam jubah Fu Xiang.
"Itu adalah pemberian turun temurun dari keluargaku, konon didalamnya ada sebuah batu giok hitam yang bertuliskan ramalan. Giok tersebut dapat dipakai untuk meningkatkan kultivasi dan meningkatkan tenaga dalam dengan cepat, hingga 100 titik tenaga dalam. tapi sayangnya kotak dan batu itu hanya bisa dibuka dan dipakai hanya oleh orang terpilih saja dan paman tidak tahu cerita itu benar atau tidak." ucap Fu Xiang panjang lebar.
Xi Ryu dengan mata berkilau-kilau berkata, "Paman apa aku boleh mencoba membukanya?" ucap Xi Ryu semangat.
Fu Xiang hanya terkekeh kecil lalu berkata, "Silahkan saja jika kau bisa membukanya."
Xi Ryu menganguk dengan semangat lalu mencoba membuka kotak tersebut dan hasilnya kotak tersebut tidak terbuka.
Fu Xiang tertawa dan berkata, "Kau tidak akan bisa membukanya bocah, hanya orang terpilih yang bisa membukanya." jelas Fu Xiang.
Xi Ryu merasa kesal karena tertawaan dari Fu Xiang. Karena merasa kesal Xi Ryu secara tidak sengaja memakai tenaga dalam untuk membuka kotak tersebut hingga aura berwarna emas muncul dari tangan Xi Ryu, yang tidak lain tenaga dalamnya. Tenaga dalamnya itu terserap kedalam kotak tersebut dan terdengar ledakan dari dalam kotak tersebut, setelah ledakan hilang kotak itu lalu terbuka.
Xi Ryu dan Fu Xiang terkejut karena kotak yang tidak pernah terbuka selama puluhan dan ratusan tahun akhirnya terbuka, didalamnya terdapat sebuah giok hitam seukuran jempol kaki orang dewasa yang bertulisan. '1/20' di tengah giok itu.
Fu Xiang melongo tak percaya dengan kejadian ini, kejadian ini terlalu sulit di percayai olehnya. Tapi memang itu kenyataannya.
Tidak jauh beda dengan Fu Xiang, Xi Ryu juga tak percaya dengan kejadian ini, hingga 5 menit kemudian mereka tersadar dari keterkejutan mereka.
__ADS_1
Xi Ryu membaca tulisan yang ada di giok hitam itu, "Satu per dua puluh? Apa magsudnya itu? Apa mungkin masih ada tersisa sembilan belas batu seperti ini didunia ini?" Xi Ryu bingung.
"Kau tahu? Dalam ramalan yang dipercaya keluargaku tertulis, jika seseorang yang berhasil membuka kotak ini dan menyerap giok ini, orang itu akan memikul beban yang sangat berat, konon di masa depan akan ada kekuatan yang sangat besar yang sangat berbahaya dan kekuatan itu hanya bisa dihentikan oleh sang orang terpilih itu dan aku yakin itu adalah dirimu. Jadi, kau harus bertambah kuat dengan cepat." Fu Xiang panjang lebar dengan raut wajah dan nada suara yang serius.