
Xi Ryu memakan makanan yang ada di mejanya dengan lahap. Dia dengan cepatnya menghabiskan sedikit demi sedikit makanannya, sepertinya dia memang sangat kelaparan.
Sambil memakan paha ayam goreng, dalam hati Xi Ryu berkata, 'Enak sekali ayam ini, sepertinya aku harus menjadi langganan ayam di restoran ini.' Xi Ryu sambil memakan lahap daging ayam bagian paha, hingga dalam beberapa detik hanya menyisakan tulangnya saja.
Setelah itu Xi Ryu mengambil mangkuk yang berisi Bubur Tiram, seperti namanya mungkin bubur ini terbuat dari nasi dan tiram. Xi Ryu mengambil sendok yang ada di mejanya, lalu Xi Ryu dekatkan sendok itu ke mangkuk dan mengambil sesendok bubur tiram.
Xi Ryu memasukan bubur dalam sendok itu ke mulutnya. Saat merasakan rasa dari bubur tiram itu, Mata Xi Ryu berbinar-binar. Xi Ryu dalam hati berkata, "Sepertinya makanan ini akan menjadi makanan favorit ku, setelah ayam goreng tentunya." Xi Ryu dengan senyum diwajahnya.
Tak lama kemudian semua makanan yang ada di meja Xi Ryu ludes habis tidak tersisa olehnya. Xi Ryu yang masih lapar berkata pada pelayan wanita tadi, "Nona kemari." ucap Xi Ryu sambil melambaikan tangannya, tanda agar pelayan itu mendekat.
Pelayan itu mendekat pada Xi Ryu lalu berkata, "Apakah tuan sudah mau bayar? Tidak ingin makan lagi?"
Xi Ryu menggelengkan kepala, Xi Ryu lalu berkata, "Aku pesan Ayam Goreng Spesial, Bubur Tiram, dan Jus Jeruk. Yang seperti tadi ya."
Wanita itu mengangguk sambil menulis pesanan milik Xi Ryu. Sesudah menulis pesanan Xi Ryu, pelayan itu berkata, "Baik tuan, silahkan tunggu." pelayan itu sambil berbalik meninggalkan Xi Ryu.
Sambil memegang dan mengelus-elus perutnya. Xi Ryu berkata, "Maaf perut, kau harus bekerja keras setelah ini. Karena aku masih ingin makan." Xi Ryu lalu menepuk-nepuk pelan perutnya.
Xi Ryu menunggu dan menunggu. Hingga sepuluh menit kemudian pelayan wanita tadi datang kembali, sambil membawa pesanan Xi Ryu. Saat sudah berada di meja Xi Ryu, pelayan wanita itu berkata, "Ini pesanannya tuan, silahkan dinikmati." Pelayan Wanita itu lalu meninggalkan Xi Ryu kembali.
"Wah… Perut, sekali lagi aku minta maaf ya." Xi Ryu lalu melahap makanan yang ada di mejanya dengan cepat.
15 menit berlalu. "Ahh, kenyang sekali hari ini." ucap Xi Ryu, sambil mengusap-usap perutnya yang agak membuncit.
"AAAAGK." Xi Ryu bersendawa. Xi Ryu lalu bangun dari mejanya, Pelayan wanita tadi datang kearah Xi Ryu.
"Berapa harganya makanannya?" ucap Xi Ryu.
__ADS_1
"Empat puluh Keping perak tuan." ucap pelayan wanita itu.
"Baiklah, tunggu sebentar." Xi Ryu sambil memasukan tangannya kedalam jubahnya, mengambil uang untuk dibayarkan.
"Nah, ini. Sisanya untukmu saja." Ucap Xi Ryu, sambil memberi 1 keping emas.
"Terimakasih tuan muda." Ucap pelayan itu dengan senyum bahagia di wajahnya, lalu pergi meninggalkan Xi Ryu.
Xi Ryu lalu keluar dari Restoran Mutiara. Setelah berada di luar Restoran Mutiara, Xi Ryu melihat ke langit yang sudah gelap. Lalu Xi Ryu bergumam, "Sepertinya hari sudah malam, aku harus segera pulang ke sekte." Ucap Xi Ryu, lalu Xi Ryu pergi pulang ke sekte.
Sepuluh menit berlalu dengan cepat, sekarang Xi Ryu sudah berada di depan sekte phoenix.
Tanpa menunggu lagi Xi Ryu lalu masuk kedalam sekte.
"Uhh, capek sekali. Sepertinya aku kecapean karena kebanyakan makan." gumam Xi Ryu.
Xi Ryu memasuki Asrama. Saat memasuki Asrama, lorong panjang yang di pinggirnya ada pintu kamar para murid sekte. Lorong dan pintu di pinggirnya membuat gaya Asrama sekte ini sedikit membosankan dan menyeramkan.
Xi Ryu berjalan menuju tangga, Saat berada di dekat tangga Xi Ryu menghela nafas panjang, lalu bergumam, "Coba kalau letak kamarku ada di lantai pertama, mungkin aku tidak perlu repot-repot menaiki tangga." Xi Ryu lalu menaiki tangga.
Dengan kaki malasnya, Xi Ryu berjalan melewati tangga. Hingga akhirnya Xi Ryu sampai di lantai 5, Xi Ryu berkata, "Akhirnya aku sampai juga." Xi Ryu sambil melihat tangga yang barusan dilewatinya.
Kemudian Xi Ryu berjalan menjauh dari tangga dan menuju ke kamarnya yang bernomor 2500, yaitu nomor yang paling akhir. Xi Ryu terus berjalan dengan wajah yang menunduk karena mengantuk.
Saat sudah dekat dengan kamarnya Xi Ryu menganggkat wajahnya. Dan dia melihat Mei Ying, yang sedang duduk dengan wajah menunduk di depan pintu kamarnya. Xi Ryu yang binggung bertanya pada Mei Ying, "Nona, kenapa kau berada disini?" ucap Xi Ryu.
Mei Ying yang mendengar suara Xi Ryu dengan cepat mengangkat wajahnya, lalu berdiri. Mei Ying kemudian berkata, "Mana pedang milikku?" Mei Ying sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Pedang? Pedang yang mana?" Ucap Xi Ryu tidak ingat.
"Pedang kayu yang tadi pagi aku lempar ke arahmu, bodoh." ucap Mei Ying.
Xi Ryu mengingat-ngingat, tak lama kemudian Xi Ryu berkata, "Ohh pedang kayu itu, pedangnya ada dikamarku. Kau tunggu disini. Aku akan mengambilkan nya." Xi Ryu melewati Mei Ying, mengambil kunci kamar dari dalam jubahnya, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.
Di dalam kamar Xi Ryu bergumam, "Entah kenapa, tapi perempuan ini merepotkan." Xi Ryu lalu mengambil pedang milik Mei Ying dari dalam Cincin Naganya.
'Saat dilihat, ternyata ukiran pedangnya lumayan bagus juga kualitas kayunya juga bagus, meskipun jika dilihat lagi pedangnya tidak terlalu bagus.' ucap Xi Ryu dalam hati, sambil melihat pedang milik Mei Ying.
Dari luar kamar Mei Ying berkata, "Sudah ketemu belum, lama sekali."
"Iya… Iya… Sabar, ini juga sudah ketemu." ucap Xi Ryu yang didalam kamar. Xi Ryu lalu membuka pintu kamarnya. Lalu Xi Ryu berkata, "Ini pedang milikmu, lain kali jangan dilempar-lempar lagi." Xi Ryu sambil memberikan pedang Milik Mei Ying pada pemiliknya.
"Terimakasih." ucap Mei Ying.
"Aku baru tahu, kalau Nona mengetahui yang namanya terima kasih." goda Xi Ryu dengan senyum diwajahnya.
"Terserah dirimu saja. Jangan lupa besok pagi kita akan berduel, saat itu aku akan serius menghadapimu." ucap Mei Ying pada Xi Ryu.
"Lupakan saja tentang duel itu. Jika kita berduel, kau tidak mempunyai peluang untuk menang." ucap Xi Ryu dengan wajah datarnya.
"Sombong sekali, mentang-mentang sudah pernah mengalahkanku dalam duel tanpa tenaga dalam. Jika kita bertarung memakai tenaga dalam belum tentu diriku yang akan kalah." Ucap Mei Ying dengan nada sedikit tinggi.
Xi Ryu menghela nafas, "Bukannya aku sombong, tetapi memang tidak ada peluang untuk dirimu menang, tapi ya terserah dirimu saja." Xi Ryu lalu mengeluarkan Aura Pendekarnya dan diarahkan kepada Mei Ying.
Mei Ying yang merasakan aura itu, merasa terintimidasi. Mei Ying sedikit berjalan mundur dari Xi Ryu, lalu Mei Ying berkata, "Kau… Kau… Berada di tingkat Fana-Akhir? Kau Monster, siapa sebenarnya dirimu?" Mei Ying sambil menunjuk pada Xi Ryu dengan tangan bergetar.
__ADS_1
"Aku? Aku adalah Xi Ryu, manusia yang kini mengemban tugas berat." ucap Xi Ryu dengan nada malas, sambil menarik kembali Aura Pendekarnya, "Baiklah, selamat bertemu kembali." Xi Ryu kemudian masuk kembali ke kamarnya.