
Sekarang matahari sudah berada di atas kepala, tandanya sudah siang. Xi Ryu sedang berjalan-jalan di kota dengan tujuan yang dia lupakan.
Dalam hatinya Xi Ryu berkata, "Tadi aku akan melakukan apa ya, sampai-sampai aku datang kesini?." Xi Ryu menginggat keras.
Hingga dia mengingat, kalau dirinya seharusnya bukan pergi ke kota, melainkan akan pergi ke hutan untuk berlatih.
"Kenapa aku malah pergi ke kota, ya? Sepertinya otak milikku sudah agak pelupa." gumam Xi Ryu, dia merasa kalau dirinya bodoh, karena bisa-bisanya dirinya lupa pada tempat tujuannya.
Xi Ryu lalu melompat ke atap, kemudian dengan cepat Xi Ryu berlari, sambil melompati bangunan-bangunan yang ada didepannya.
10 menit berlalu, sekarang Xi Ryu sudah dekat dengan gerbang kota. Xi Ryu turun dari atap, kemudian dia berjalan ke arah gerbang dan melewatinya.
Setelah melewati gerbangnya, Xi Ryu kemudian melompat keatas dahan pohon lalu berlari sambil meloncat dari dahan ke dahan yang lain.
Tidak lama kemudian Xi Ryu sampai di tempat tujuannya. yaitu, tempat yang kemarin Xi Ryu pakai untuk berlatih.
Xi Ryu turun dari dahan pohon, lalu berjalan menuju batu yang menjadi tempatnya bersemedi, Xi Ryu kemudian duduk di batu itu.
Xi Ryu mengayunkan tangannya, Giok Hitam yang baru Xi Ryu beli kemarin, tiba-tiba muncul ditangannya. Xi Ryu bergumam, "Aku berharap, aku bisa menjadi lebih kuat dengan batu ini."
Xi Ryu bersemedi sambil memfokuskan diri, kemudian Xi Ryu menyalurkan sedikit tenaga dalamnya ke dalam Giok Hitam itu, lalu Xi Ryu menyerap energi yang ada didalam Giok Hitam itu.
Yang pertama Xi Ryu rasakan adalah rasa sakit. Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba muncul di sekujur tubuh Xi Ryu. Xi Ryu hanya bisa menahan rasa sakit itu dengan sekuat tenaga dan terus menyerap energi yang ada di Giok Hitam itu.
Hingga beberapa menit kemudian Xi Ryu berteriak dengan keras, "ARKHHHHH."
Tiba-tiba darah mengalir dari tepi mulut Xi Ryu, dan kemudian Xi Ryu mengakhiri teriakannya.
Xi Ryu dengan tubuh yang lemas membuka matanya, dan melihat kearah giok yang sedang dia pegang. Sebuah tulisan 2/20 tiba-tiba muncul di giok itu. Giok itu kemudian retak dan retakan itu semakin banyak dan banyak, hingga dalam sekejap giok itu menjadi abu dan tersapu angin.
Xi Ryu hanya tersenyum kecil, kemudian dirinya tiba-tiba kehilangan kesadaran dan tak sadarkan diri dengan posisi tubuh yang bersila.
Sementara itu ditempat lain, Fu Xiang yang sedang mencari Xi Ryu bergumam, "Anak itu menghilang kemana sih. Jika saja ayah tidak berpesan 'Jaga anak itu baik-baik' padaku. Saat aku menemukan anak itu, akan ku pukul kepalanya dengan sekuat tenaga." Fu Xiang kesal.
__ADS_1
Fu Xiang lalu mencari Xi Ryu ke segala tempat, yang menurutnya biasa Xi Ryu datangi.
Sekarang hari sudah malam, dan Fu Xiang masih mencari Xi Ryu. Sekarang Fu Xiang mencari Xi Ryu dengan raut wajah yang cemas. Entah kenapa Fu Xiang takut kalau Xi Ryu menghilang atau terbunuh.
Fu Xiang sudah mencari Xi Ryu di seluruh tempat yang ada di sekte dan kota. Sekarang, Fu Xiang akan melanjutkan mencari Xi Ryu di kawasan hutan.
"Apakah Ryu sudah tidak ada disini? Apa mungkin dia kembali berkelana? Tidak…. Tidak… Tidak, aku jangan berfikir yang macam-macam." Fu Xiang melompat-lompat dari dahan ke dahan pohon lainnya sambil mencari Xi Ryu.
Hingga tidak lama kemudian, Fu Xiang melihat seseorang sedang duduk bersila sambil menunduk di atas batu. dalam hatinya Fu Xiang berkata, "Siapa itu? Apakah itu Xi Ryu?" Fu Xiang lalu turun dari dahan pohon.
Fu Xiang memunculkan bara api di tangan kirinya, lalu mendekat pada orang yang sedang berada di atas batu. Fu Xiang lalu berkata, "Dia memakai seragam sekte?"
Fu Xiang, kemudian menggoyangkan orang yang sedang duduk bersila sambil menunduk itu, Fu Xiang berkata, "Nak… Nak… Apa kau baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban. Fu Xiang lalu menegakkan tubuh orang itu, dan saat dilihat wajahnya ternyata itu adalah Xi Ryu. Mengetahui kalau orang itu adalah Xi Ryu, Fu Xiang berkata, "Ryu? Bangun… Ryu…!!!"
Fu Xiang menghela nafas, lalu dia bergumam, "Sepertinya, Ryu sedang tidak sadarkan diri. Aku harus langsung membawa dia ke sekte." Fu Xiang menghilangkan bara api di tangannya, dan memangku Xi Ryu. Fu Xiang kemudian pergi membawa Xi Ryu ke sekte.
"Kenapa si jenius itu bisa tidak sadarkan diri?"
"Apakah dia baru saja bertarung?"
"Apa dia mati?"
Banyak pertanyaan yang keluar dari mulut murid-murid sekte, dan ada pula yang tidak peduli.
Fu Xiang terus berlari, hingga dia sampai di depan sebuah bangunan. Bangunan yang diatasnya ada papan bertulis, 'Tempat Pengobatan' Fu Xiang lalu masuk ke dalam bangunan itu, kemudian Fu Xiang masuk ke ruangan tabib.
Melihat ada Fu Xiang masuk keruangannya dengan seorang anak di pangkuannya, sang tabib yang sedang meracik obat berkata, "Baringkan saja anak itu di sana." ucap Tabib itu sambil menunjuk kasur papan yang ada di sisi ruangan. lalu sang tabib berdiri dan mendekati Xi Ryu.
Tabib itu memeriksa Xi Ryu, lalu dia berkata, "Dia hanya kelelahan dan darah di mulutnya bukanlah masalah, sepertinya karena efek dari latihan." tabib itu lalu mengambil cairan obat dan meminumkannya sedikit demi sedikit pada Xi Ryu.
Fu Xiang menghela nafas lega, lalu berkata, "Syukurlah kalau dia baik-baik saja."
__ADS_1
"Tuan bisa tunggu disini. Dalam waktu kurang dari beberapa jam, mungkin dia akan sadar." ucap sang tabib.
Fu Xiang mengangguk, lalu duduk di kasur yang ditempati Xi Ryu.
Beberapa menit kemudian, mata Xi Ryu perlahan-lahan membuka. Fu Xiang yang melihat Xi Ryu sudah sadar dari pingsannya, dengan cepat membantunya duduk.
Sesudah duduk Xi Ryu berkata, "Dimana aku sekarang?" Xi Ryu sambil melihat sekitar.
"Kau ada di Tempat Pengobatan sekarang." ucap Fu Xiang.
"Ohhh." Xi Ryu lalu turun dari tempat tidurnya. Lalu Xi Ryu berkata lagi, "Terimakasih sudah membawaku ke sini." Xi Ryu sambil melakukan peregangan.
"Kemana tabibnya?" ucap Xi Ryu.
"Entahlah, mungkin dia sedang memiliki keperluan." ucap Fu Xiang, lalu dia bangkit dari duduknya, dia berkata lagi, "Kau sudah sehatkan? kalau sudah, ayo kita pergi dari sini. ayah memintaku untuk mengajakmu menemuinya."
"Menemuinya? Menemuinya untuk apa?" ucap Xi Ryu.
Fu Xiang berfikir, lalu menjawab pertanyaan Xi Ryu, "Hmmmm, entahlah. Tadi siang ayahku hanya memintaku mencarimu, dan tidak bicara apa-apa lagi."
Xi Ryu mengangguk, lalu Xi Ryu berkata pada Fu Xiang, "Baiklah, Sekarang kita temui Patriak."
"Oke. Ohh aku lupa bertanya padamu, kapan kau berada di tingkat Fana-Akhir? Aku hampir tidak percaya saat tahu, kalau kau sudah di tingkat itu." tanya Fu Xiang penasaran.
"Hehe, bukankah aku ini hebat?." ucap Xi Ryu sambil mengusap hidung karena bangga pada dirinya sendiri.
Xi Ryu mengingat-ingat, tak lama kemudian Xi Ryu berkata kembali, "Emmm, kalau tidak salah… aku berhasil menembus tingkat itu kemarin. Ah… kemarinya lagi."
Fu Xiang mengagguk. Lalu dia berkata, "Kau orang paling berbakat yang pernah aku temui, sepertinya ramalan tentang orang terpilih itu memang benar-benar dirimu." Fu Xiang sambil tersenyum.
Fu Xiang berkata kembali, "Kalau begitu ayo kita pergi." Fu Xiang sambil berjalan keluar dari ruangan.
"Hei… Jangan tinggalkan aku. Hei tunggu……" ucap Xi Ryu, sambil mengejar Fu Xiang.
__ADS_1