Pendekar Kaisar Naga

Pendekar Kaisar Naga
Ch.29 - Pesan Kakek Shu


__ADS_3

Makanan yang dipesan oleh Xi Ryu datang, sekarang ada banyak jenis makanan di meja Xi Ryu, dan baunya yang enak dan menggoda membuat kakek Shu menjadi ngiler.


Kakek Shu yang melihat semua makanan yang ada di mejanya berkata, "Ini semua boleh aku makan?" tanya Kakek Shu pada Xi Ryu.


Xi Ryu memperlihatkan senyum senangnya, lalu Xi Ryu berkata, "Makan saja kek, jangan sungkan. Ini semua aku beli hanya untuk kakek."


Kakek Shu mengangguk pelan, lalu dia berkata, "Baiklah, aku tidak akan sungkan sedikit pun." dengan raut wajah bahagia. Kakek Shu berkata kembali, "Selamat makan."


Dengan sangat lahap, Kakek Shu memakan makanan yang ada di mejanya. Xi Ryu yang melihatnya pun senang . Entah kenapa, tetapi melihat orang lain bahagia, juga membuatnya bahagia.


Dalam hati Xi Ryu berkata, 'Ternyata masih banyak orang yang kesusahan untuk mencari makan. Aku jadi ingat saat ibu dan ayah masih hidup. Dulu saat dititik terendah keluargaku, aku hanya bisa makan hanya dengan nasi dan garam itu pun hanya bisa makan 1 kali tiap satu hari. Sedangkan Ayah dan Ibu hanya meminum air, karena makananya hanya cukup untukku seorang.' Xi Ryu sambil tersenyum sendu. 


Kakek Shu yang melihat Xi Ryu yang terlihat sedih, tiba-tiba memegang pundak Xi Ryu, hingga Xi Ryu sedikit terkejut. Xi Ryu berkata, "Kakek mengejutkanku saja."


Kakek Shu tersenyum hangat, lalu dia berkata, "Ingat Ryu, jangan sampai dirimu berbelok arah karena rasa sakit, sesakit apapun itu. Karena di dalam hidup pasti akan ada yang namanya rasa sakit. Dulu sekali aku memiliki guru dan dia pernah berkata."


Flashback.


Di sebuah gubuk kecil, terlihat Shu yang remaja dan seorang kakek tua.


Shu yang remaja sedang duduk di dekat pintu keluar, wajahnya yang  murung terlihat menyedihkan. Kakek Shu yang remaja sedang memikirkan kakeknya.


Kakeknya yang menjadi anggota keluarga terakhir meninggal dua hari yang lalu, dan Shu yang masih belum terlalu dewasa saat itu tidak dapat melupakan kesedihanya.


Dari belakang tubuh Shu yang remaja, Guru Kakek Shu berkata, "Shu'er kesini."


Shu remaja melihat kearah gurunya, dia bangkit lalu mendekat pada gurunya. "Ada apa guru?"


Guru dari Kakek Shu berkata, "Duduk disini." sambil menepuk lantai kayu didepannya.


Shu remaja lalu duduk ditempat yang ditunjuk Guru Kakek Shu.

__ADS_1


Setelah Shu remaja duduk, guru Kakek Shu lalu bertanya, "Shu'er kenapa engkau sedih?"


Shu remaja dengan suara yang tidak semangat berkata, "Kenapa? Bukankah guru sudah tahu? Aku sedih karena kematian kakek."


Guru Kakek Shu mengagguk, lalu dia berkata, "Shu'er, aku mempunyai pertanyaan. Apa jika kau bersedih, kau bisa menghidupkan kembali kakekmu?"


Shu remaja menggeleng, dia berkata, "Tidak guru."


Guru Kakek Shu tersenyum, dia berkata, "Sudahlah, kau boleh bersedih namun jangan terlalu berlarut-larut. Yang lalu biarlah berlalu, jangan dipikirkan. takdir tidak bisa berubah. Akupun dulu pernah merasakan kehilangan sama sepertimu. Tetapi aku ingat pesan terakhir ayahku, dia berkata, 'Fan'er, jika aku, ibumu,atau keluargamu mati jangan bersedih, meskipun kami mati, kami selalu ada di dalam hatimu. Lihatlah kedepan jangan melihat kebelakang. Fan'er, sesungguhnya dunia itu kejam, jadi biasakan dirimu.'."


Flashback selesai.


Xi Ryu yang mendengar cerita dari Kakek Shu mengangguk, Xi Ryu dalam hati berkata, 'Dunia ini kejam, jadi biasakan dirimu?.' sambil tersenyum tipis.


Kakek Shu yang berada di pinggir Xi Ryu berkata, "Cerita sedihnya sudah berakhir, jadi jangan dipikirkan. Ayo makan bersama, jika aku hanya makan sendiri, makanannya tidak akan habis." sambil kembali makan makanan yang ada didepannya.


Xi Ryu mengagguk, lalu dia bertanya pada Kakek Shu, "Kakek seorang pendekar ya?"


Xi Ryu menjawab, "Eh… Bukankah tadi kakek bercerita?."


Kakek Shu menepuk jidatnya, lalu dia berkata, "Bodohnya aku. Hm… Iya aku seorang pendekar, tapi itu dulu. sekarang sudah tidak lagi."


Xi Ryu sedikit melebarkan matanya, lalu bertanya, "Kenapa sekarang tidak?"


Kakek Shu menghela nafas, lalu dia berkata, "Itu rahasia, Sudah, jangan ganggu aku, aku sedang ingin makan." sambil melanjutkan makan.


Xi Ryu berkata, "Baiklah, Aku tidak akan meminta kakek bercerita lagi." Sambil tersenyum tipis.


Beberapa puluh menit berlalu, semua makanan habis dimakan oleh Kakek Shu. Xi Ryu yang melihat bagaimana semua makanan dimeja habis oleh Kakek Shu, berkata, "Kakek bilang makananya tidak akan habis, tapi ini habis."


Kakek Shu yang mendengar itu, hanya tersenyum. Lalu dia berkata, "Makananya terlalu enak. Jadi aku tidak bisa untuk tidak menghabiskannya."

__ADS_1


Xi Ryu lalu mengambil bel yang ada dimeja, lalu membunyikannya. Setelah bel itu berbunyi, tidak lama kemudian seorang pelayan datang. Pelayan itu berkata, "Mau pesan lagi tuan?"


Xi Ryu menggeleng, lalu dia berkata, "Aku ingin membayar semua ini, berapa harganya."


Pelayan itu menjawab, "Harganya hanya sepuluh koin emas."


Xi Ryu lalu mengambil sesuatu dibalik pakaiannya. Saat tangan Xi Ryu dikeluarkan, Xi Ryu memegang kantung berisi 10 keping koin emas. Dia lalu memberikannya pada pelayan itu sambil berkata, "Didalamnya ada sepuluh keping emas."


Pelayan yang menerima, mengecek isi kantung itu, kemudian dia berkata, "Baik sudah pas, terimakasih sudah datang kemari."


Xi Ryu lalu berkata, "Apa boleh aku diam dulu sebentar disini?"


Pelayan itu mengagguk, lalu berkata, "Baik, itu tidak masalah. Kalau begitu aku izin membawa semua alat makan yang ada disini." sambil membawa semua alat makan kotor yang ada di meja.


Sesudah selesai mengambil semua alat makannya, pelayan itu berkata, "Kalau begitu aku izin pergi." sambil pergi keluar ruangan.


Sesudah Pelayan itu sudah keluar, tiba-tiba Xi Ryu ingin buang air kecil. Dengan muka yang sulit diartikan, Xi Ryu berkata, "Kakek tunggu disini ya. Aku akan segera kembali."


Kakek Shu mengagguk, dia berkata, "Baiklah."


Xi Ryu lalu keluar ruangan, mencari toilet.


Didalam ruangan, Kakek Shu tersenyum kecil…


Satu menit kemudian, Xi Ryu akhirnya menemukan toilet, dan buang air keseniannya disana. Setelah selesai buang air kecil, Xi Ryu mengambil satu kantung emas sebesar dua kepalan tangan manusia, 'Mungkin ini dapat membantu kondisi ekonomi kakek.' Batin Xi Ryu. 


Sesudah itu, Xi Ryu kembali keruangan VIP, dan saat masuk Xi Ryu terkejut… Karena Kakek Shu menghilang entah kemana. Xi Ryu bergumam, "Dimana Kakek Shu?" sambil berjalan masuk.


Saat Xi Ryu melihat pada meja yang ada didepanya, Xi Ryu sangat terkejut. Karena melihat sebuat buku tipis yang di sampulnya bertulikan….


'Kitab Pedang Langit'

__ADS_1


__ADS_2