
Azka Reganevan Pranaja, seorang pria lajang menginjak usia 27 tahun. Pria tampan dan cuek, setiap perempuan yang mencoba mendekati, dia selalu mengeluarkan aura dingin. Ia merupakan bos di perusahaan Pranaja group. Setelah kepergian ayahnya, dimana ayahnya meninggal saat dia masih remaja kelas XII SMA. Dia sempat terpukul, karna sang ayah terlalu cepat meninggalkan ia dan bundanya. Bahkan dia belum sempat membalas jasa-jasa ayahnya dan membahagiakan serta membuat bangga sang ayah semasa hidup. Tetapi saat itu juga dia berjanji akan membahagiakan bundanya dan menjaga sepenuh jiwa dan raga. Lihat sekarang akhirnya dia bisa membesarkan perusahaan Pranaja sampai terkenal hampir di seluruh Indonesia dan kantornya ada beberapa cabang di luar negeri.
Dia belum memiliki pasangan sampai sekarang, bukan karna tidak laku. Tetapi hanya belum ada yang cocok dengannya.
.
Kini Azka menghempaskan punggung di sandaran kursi kebesaraannya, dia baru saja menyelesaikan meeting penting.
"Apa setelah ini ada meeting lagi?" tanya Azka pada Reyhan yang berdiri di hadapannya.
"Tidak ada lagi pak, saya sudah memeriksa jadwal anda dengan teliti," ujar Reyhan.
"Biasakan Rey, kalau kita sedang berdua saja jangan manggil pak berasa tua saya kamu panggil begitu," tukas Azka.
"Baiklah Azka yang terhormat," kekeh Reyhan tertawa.
"Oh ya, kalau tak ada meeting lagi. Saya akan ke toko kue bunda dulu," ujar Azka, lalu beranjak dari kursi kebesarannya masuk menggunakan lift yang langsung ke basemant.
.
.
Mobil Azka tepat berhenti depan toko kue milik bundanya. Bergegas melangkah memasuki toko tersebut.
__ADS_1
"Tuan pasti cari bu Aisyah ya," ujar Marsa yang menghentikan kegiatan menyusun kuenya.
"Ehm, dimana bunda saya?" tanyanya singkat.
"Bu Aisyah berada di dapur bersama Nari," beritahu Marsa.
Azka segera melangkah menuju dapur, hampir sampai disana langkah terhenti. Mendengar suara gelak tawa dari kedua perempuan yang tengah membuat kue.
"Ibu, wajah aku jadi cemong deh jadinya,"
"Walaupun cemong kamu tetap cantik Nari sayang,"
"Ibu, jangan bohong deh, mana ada orang cantik wajah cemong," protes Nari bertepatan setelah itu terdengar suara orang yang menyanggah ucapannya.
"Yang dikatakan bunda, benar adanya. Wajah kamu tetap terlihat cantik walaupun dipenuhi tepung," puji Azka, menghapus tepung di wajah Nari dan meniup-niupnya.
Seketika Nari tersadar apa yang tengah terjadi sekarang. 'Astagfirullah, apa yang tengah ku lakukan berdekatan dengan pria yang bukan muhram ku.' batinnya, mundur sedikit menjauh.
"Astagfirullah,, maafkan saya! Mungkin ini terlalu cepat untuk kamu tahu bahwa saya mencintai kamu dari awal pertemuan kita. Karena disini juga sudah ada bunda saya, saya ingin mengatakan!" Azka terdiam beberapa saat dan beralih menatap bundanya.
"Mengatakan apa ya tuan?" tanya Nari penasaran dan memanggil Azka dengan sebutan 'Tuan'
Setelah bundanya mengangguk, Azka kembali menatap wanita dihadapannya.
__ADS_1
"Saya berniat melamar kamu sebagai istri," dengan sekali tarikan nafas Azka mengatakannya.
Terkejut! Nari hanya bisa terdiam, bibir sangat kaku untuk sekedar mengeluarkan suara. Dia memilih menghindar dan berlari keluar toko setelah mengambil tasnya. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan tatapan heran dari kedua temannya.
"Sa! Nari kenapa tuh, lari sambil nangis gitu, mana bawa tas lagi," ujar Maya.
"Aku gatau May, kaya' ada sesuatu yang terjadi di dapur," balas Marsa.
Saat melihat bunda Aisyah dan Azka berjalan keluar dari dapur dengan wajah yang tidak mengenakan. Marsa dan Maya menegakkan tubuh mereka.
"Maya, Marsa! Saya titip toko ya, nanti tutup dipercepat aja jam 3," ujar bunda Aisyah.
"Siap bu," serempak keduanya menjawab berbarengan.
Bunda Aisyah dan Azka segera masuk ke dalam mobil, keduanya akan langsung pulang.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓