
Sesampainya di kamar, Nari mendengar suara gemericik air, yang menandakan bahwa suaminya sedang mandi. Nari segera menyiapkan piyama tidur untuk suaminya.
Lalu ia duduk di tepian ranjang sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.
Hingga 15 menit kemudian pun Argian keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah.
“Emm, sini mas! Aku bantu keringin rambut kamu,” tawar Nari yang ingin membantu.
“Saya bisa sendiri,” ketus Argian.
‘Sabar Nari,’ batinnya.
“Mas ini piyama buat kamu udah aku siapin,” ujar Nari memberitahu.
“Saya tidak menyuruh mu untuk menyiapkan pakaian saya. Kedua tangan saya masih berfungsi mengambailnya sendiri,” sahut Argian masih bicara dengan nada ketus.
Argian membuka lemari dan mengambil baju piyama sendiri yang akan ia pakai. Lalu membiarkan piyama yang telah di siapkan oleh Nari.
Nari hanya bisa menghela nafas untuk selalu bersabar menghadapi suaminya. Saat Argian ingin keluar dari kamar, suara Nari menghentikannya.
__ADS_1
“Mas, bisakah kita bicara,” ujar Nari.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Argian to the point.
“Mas, aku mau tanya. Apa kamu menerima bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimku ini?”
“Entahlah, saya tidak tahu apakah dia anak saya atau bukan.”
Degg!
Mendengar ucapan Argian yang sangat menusuk, kembali hati Nari di remas begitu kuat. Rasanya dirinya tak mampu lagi untuk bertahan, tetapi ia tak mungkin pergi dalam kondisi dirinya tengah mengandung. Anaknya butuh figur seorang ayah, maka dari itu ia harus bertahan dan juga harus menyadarkan suaminya. Bahwa apa yang di lakukannya diluaran sana itu sesuatu tidak benar, seperti kata papa Farhan. Suaminya bukan lagi pria lajang yang bebas menjalin kasih di luar sana.
“Apa mas masih belum mengingat kejadian tiga minggu yang lalu.”
“Tapi mas, ini memang benar anak kamu. Aku tak pernah sekalipun mengkhianati pernikahan kita,” lirih Nari dengan air mata yang terus mengaliri pipinya.
“Cukup! Saya masih tidak tahu harus percaya atau tidak dia anak saya,” pungkas Argian, setelah itu berlalu pergi menuju ruang kerjanya dan menutup pintu kamar kencang, hingga menimbulkan suara keras.
BLAM!!!
__ADS_1
Orang yang berada di balik dinding terperanjat kaget akibat pintu yang di tutup kencang. Nelly lah orang yang tadinya ingin ke kamar Nari, tetapi tidak jadi karena tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Menguping pembicaraan orang memang tidak baik, tetapi mau bagaimana lagi rasa penasarannya membuatnya tak bisa mengontrol keingintahuannya.
“Masuk atau tidak ya,” gumannya merasa bingung untuk masuk melihat keadaan Nari.
“Tapi! Arghh, lebih baik besok pagi saja aku menanyakannya,” putusnya.
“Hiks... hikss...”
Saat ingin berbalik arah terdengar suara tangisan Nari, membuatnya tak jadi berbalik. Dan memutuskan melihat keadaan Nari.
Tok...tokk
Di dalam kamar Nari segera menghapus air matanya, ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk...
“Nari! Ini aku Nelly, bolehkah aku masuk,” ujar Nelly meminta ijin.
“Masuk saja Nelly,” sahut Nari di dalam kamar.
Nelly segera masuk dan memberikan Nari sebuah pelukan. Nari yang di peluk begitu saja, merasa sedikit aneh.
__ADS_1
“Menangislah Nar, aku tahu kamu merasa sedih saat ini. Jadi menangislah,” tukas Nelly mengelus kepala Nari. Nari sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, bahkan ia dan ibunya sangat menyanyangi Nari.
****