
Jakarta, Indonesia,
Akhirnya mereka sampai di bandara, dengan waktu tempuh 16 jam, 50 menit, satu kali transit. Kedua pasangan suami istri itupun keluar dari bandara. Saat tiba di luar bandara, seorang wanita langsung memeluk erat Argian melepaskan rasa rindunya.
Nari yang melihat pemandangan dimana suaminya tengah di peluk seorang wanita, membuat hatinya terasa sakit. Ingin sekali rasanya dirinya memarahi wanita tersebut, tapi tubuh terasa kaku untuk bergerak sedangkan mulutnya terkatup rapat.
“Gian, aku kangen banget sama kamu,” kata Ginara bernada manja.
“Aku juga rindu dengan mu,” balas Argian tanpa menjaga perasaan istrinya yang berada di sampingnya.
“Ayo aku antar pulang, tapi sebelum itu kita sarapan dulu ya. Tadi aku belum sarapan pagi, karna mau sarapan berdua sama kamu,” ujar Ginara menggandeng tangan Argian.
“Tunggu sebentar sayang,” tukas Argian, melepaskan tangan Ginara di lengannya dan berbalik menghampiri Nari.
Disitu Nari terlihat senang ketika melihat respon suaminya yang melepaskan tangan wanita tersebut. Tetapi kesenangan hanya sesaat saat Argian mengatakan sesuatu yang membuat wajah yang tadi bahagia menjadi mendung seketika.
“Nari, kamu pulang sendiri tidak apa-apakan. Saya ingin sarapan dulu bersama kekasih saya,” kata Argian datar.
“Iya mas,” sahut Nari yang hanya bisa berkata ‘iya’. Ingin sekali dirinya melarangnya, tapi apalah daya dirinya tidak bisa mengatakannya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban dari Nari, Argian segera pergi bersama dengan Ginara mencari tempat makan untuk sarapan. Sedangkan Nari yang melihat kepergian suaminya bersama kekasih gelapnya hanya berdiri diam tanpa suara, hanya air mata yang mengalir begitu saja dipipinya tanpa bisa di cegah.
Entah berapa lama dirinya berdiri, hingga ada sebuah mobil berhenti di hadapannya. Tapi Nari masih belum menyadarinya juga.
“Permisi mba, maaf! Bisakah mba masuk ke dalam mobil saya, di belakang sangat antri,” kata orang yang berada di dalam mobil, berbicara dengan kaca yang telah dibukanya.
Mendengarnya Nari tersenyak kaget, segera menghapus air matanya agar orang tak menyadari bahwa ia baru saja menangis. Ia melihat orang di dalam mobil dengan tatapan bingung karena dirinya tidak memesan taksi online.
“Tapi saya tidak ada memesan taksi online mas, mungkin saja mas salah orang,” jelas Nari.
“Tolong mba masuklah, nanti saya jelaskan,” mohon orang tak dikenal Nari.
“Percaya sama saya mba, saya bukan orang jahat. Masuklah dulu, nanti akan saya jelaskan,” ujarnya menyakinkan Nari bahwa dirinya bukanlah penjahat.
“Baiklah saya akan masuk,” Nari akhirnya masuk ke dalam mobil tersebut, tapi sebelum itu ia menaruh koper di bagasi mobil.
Mobil pun berjalan, sopir yang berada di depan menatap Nari melalu kaca spion. Sedangkan orang berkacama mata hitam yang berada jauh di belakang Nari, merasa lega melihat Nari yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Maaf mba sebelumnya, tadi ada yang memesan taksi saya dan orangnya menelpon saya agar berhenti tepat di depan mbanya,” jelas sopir taksi yang berada di kursi kemudi.
__ADS_1
“Kalau boleh tahu siapa orang yang memesan taksi mas ini?” Tanya Nari penasaran.
“Saya tidak tau mba, tidak ada nama di id penggunanya mba. Karena saya tadi langsung menerimanya saja,” ucap sopir taksi tersebut.
“Lalu mas mau membawa saya kemana?”
“Alamat ini mba,” sopir taksi menunjukkan alamat tersebut kepada Nari.
*‘Inikan alamat jalan pulang, siapa orang telah memesan taksi ini? Apa mungkin mas Argi, mungkinkah itu artinya mas Argi khawatir denganku,’ *batinnya merasa bahagia, sampai sepanjang perjalanan bibirnya tidak berhenti untuk tersenyum.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓