Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
28-PPT


__ADS_3

Pagi harinya saat terbangun, perut Nari bergejolak tidak enak. Ia langsung turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi memuntahkan ke toilet. Tetapi yang di keluarkan hanya cairan berwarna kuning.


“Badanku lemes sekali,” keluhnya berkata lemah.


Bukan hanya badanya yang lemas, tetapi kepala terasa sangat pusing. Sampai-sampai ia berpegangan pada dinding untuk keluar dari dalam kamar mandi.


Argian memasuki kamar untuk bersiap berangkat kerja. Selama ini Argian memilih tidur di ruang kerja daripada bersama Nari.


“Kamu kenapa?” Tanya Argian ketika memasuki kamar dan melihat Nari yang memegang kepalanya.


“Engga tau mas, kepala aku pusing banget dan badanku lemas sekali,” ucap Nari berkata lemah, matanya pun berkunang-kunang hingga.


‘Bruukk’ Nari pingsan begitu saja di hadapan Argian...


“Nari, hei bangun!” Seru Argian menepuk-nepuk pipi Nari, tetap saja wanita itu tak mau bangun. Dengan sangat terpaksa Argian menggendongnya dan membaringkannya di ranjang.


Argian bergegas menelpon dokter kepercayaan keluarganya untuk segera datang ke rumah mereka...


.


.


Setelah dokter Andika selesai melakukan pemeriksaan, dokter Andika menatap Argian tersenyum. Senyuman dokter Andika membuat Argian merasa aneh.


“Gimana keadaan nya dik?” Tanya Argian.


“Selamat ya bro, bentar lagi kamu bakal jadi ayah,” dengan tiba-tiba saja Andika mengucapkan selamat padanya, Argian malah terbengong dan belum menyadari ucapan sahabatnya.

__ADS_1


Ya, Andika adalah sahabat baik Argian, yang berprofesi menjadi seorang dokter. Karena itu memanglah cita-citanya sedari SD dan akhirnya tercapai juga.


“Bro!” Seru Andika.


“Tadi kamu bilang apa dik,” ujar Argian.


“Tadi aku bilang selamat buat kamu yang bentar lagi bakal jadi ayah. Kamu senangkan Gian mendengarnya?” Ulang Andikan menanyakan untuk memastikannya.


Argian hanya memberikan senyuman palsu kepada sahabatnya.


“Oh iya nanti saat istri kamu bangun, langsung di bawa aja ke dokter kandungan, agar lebih jelasnya. Aku cuman takut predeksi aku salah,” jelas Andika agar dibawa ke dokter kandungan untuk memastikannya kembali.


“Iya dik, biar aku antar ke bawah,” ujar Argian.


“Ngga usah Gi, aku bisa sendiri. Mending jagain istrimu saja,” tolak Andika, lalu melangkah pergi kembali ke rumah sakit, karna masih banyak pasien yang harus di tanganinya.


.


.


Hingga beberapa menit kemudian Nari tersadar dan memegang kepalanya yang masih sedikit terasa pusing. Nari melihat suaminya tengah berdiri di dekat balkon kamar, ia tersenyum melihatnya. Matanya pun mengarah pada jam berada di dinding dan sudah menunjukkan pukul 10.00. Dia tidak bisa membohongi hatinya yang begitu bahagia melihat pemandangan langka ini, bagaimana tidak langka? Argian suaminya yang biasanya di jam seperti ini tidak mungkin berada di rumah. Tapi lihatlah sekarang suaminya masih berada di rumah, bahkan di dalam kamar mereka. Entah ada gerangan apa?


“Mas, kamu ngga ke kantor?” Tanya Nari.


Mendengar suara seseorang yang bertanya padanya, Argian berbalik badan. Bukannya menjawabnya, ia malah menatap marah Nari. Lalu melangkah mendekat ke sisi ranjang kiri di mana Nari tengah duduk bersandar.


“Anak siapa yang kamu kandung? Tidak mungkinkan itu anak saya, saya ingat betul kapan saya menyentuhmu dan itu tiga hari yang lalu saat kita masih berada di jerman,” sergah Argian, wajahnya sangat dingin dan datar berbicara saat ini.

__ADS_1


“KATAKAN DENGAN SIAPA KAMU MELAKUKANNYA!” Teriak Argian murka, sekarang dirinya tengah di kuasai amarah dan emosi yang memuncak.


Nari menunduk ketakutkan mendengar teriakan Argian. Dan terdengar suara tangisan Nari.


“Hiks... A-aku cuma melakukannya sama mas,” cicit Nari hampir tak terdengar, karna Argian yang mempunyai pendengaran yang tajam jadi ia mendengarnya.


“Kamu bohongkan, mana mungkin kamu hamil setelah baru tiga hari yang lalu kita melakukannya. Jadi saya minta jujurlah siapa ayah dari bayi itu,” tunjuk Argian berkata tajam.


“Sumpah demi allah mas, aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain yang bukan muhrim ku,” tegas Nari menatap suaminya, tapi masih dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


“Apa mas tidak mengingat dengan kejadian tiga minggu yang lalu, dimana saat itu mas mabuk berat sampai muntah-muntah. Dan tiba-tiba saja mas menyerangku, aku mencoba melepaskan diri. Sayangnya kekuatan ku tak sebanding dengan mas,” Nari menjelaskan semuanya.


Argian yang mendengar penjelas Nari, mencoba mengingat-ingat kejadian tersebut. Tetapi dirinya sama sekali tiba bisa mengingat semuannya. Tidak bisa berpikir jernih, Argian memilih pergi meninggalkan Nari.


“Mas!” Seru Nari memanggil suaminya, tetapi Argian seperti menulikan telinganya.


Nari meremas selimut, hatinya sekarang benar-benar hancur melihat kepergian Argian.


“Apa benar diriku tengah hamil,” ucap Nari berbicara sendiri, tangannya bergerak mengelus perut ratanya. Ia menangis terharu, sedih bercampur bahagia. Bahagia karna sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu dan sedih memikirkan suaminya menerima atau tidak anaknya.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓


__ADS_2