
Allahu akbar
Allahu akbar
Adzan telah berkumandang, Nari mengerjapkan matanya selama beberapakali dan bangkit merubah posisi menjadi duduk. Nari menoleh ke samping dan tersenyum menatap pria yang masih pulas dan terlihat damai.
"Gimana ya Mas, caranya supaya kamu bisa mencintaiku. Aku ingin pernikahan kita berjalan semana semestinya pasangan yang saling mencintai dan bahagia menyambut kelahiran buah hati kita." Gumam Nari, merasakan sesak dihatinya, ketika mengingat suaminya yang membawa wanita lain ke dalam rumah tangga mereka.
"Andai pernikahan kita tidak bisa tertolong lagi. Aku akan tetap mendoakan kebahagiaan mu Mas, meskipun bukan bersama ku," ungkap Nari menahan air mata yang ingin lolos.
Tangan Nari perlahan mengelus wajah tampan Argian yang beberapa hari ini bisa ia pandang lebih dekat karena mereka tinggal di kediaman Bramantio, sebab oma Ayu masih berada disini.
"Mas bangun, sholat subuh." Nari mencoba membangunkan Argian untuk mengajak pria itu sholat subuh bersama.
"Saya ngantuk, kamu kalau mau sholat silahkan saja, jangan menganggu tidur saya," tukas Argian, dalam mata terpejam sekalipun pria itu tetap bicara ketus.
"Astagfirlullah! Mas sholat itu kewajiban bagi umat muslim untuk dilaksanakan," kata Nari mencoba untuk membujuk Argian supaya mau sholat.
"Sudah selesai ceramahnya ustadzah saya telah bangun, kamu sholat duluan. Saya tidak akan menjadi imam mu," ujar Argian, kemudian beranjak dari ranjang berjalan ke kamar mandi.
Nari yang mendengar kalimat Argian hanya bisa mengelus dada sabar menghadapi sikap suaminya. Sebab ini bukanlah pertama kalinya Argian begitu.
Seperti yang dikatakan oleh Argian, Nari terpaksa sholat lebih dulu tanpa menunggu suaminya yang mengimami dirinya.
"Mas mengapa ngambil baju koko baru? itu bajunya diatas ranjang sudah aku siapin," ujar Nari melihat Argian yang masuk walk-in closet.
"Kapan saya meminta mu untuk menyiapkan keperluan saya. Berhentilah bersikap ingin menjadi istri sungguhan. Ingatlah perlakuan baik saya hanya pura-pura selama di depan oma, jadi jangan baper dengan perhatian yang saya berikan," kata Argian tegas dan menohok.
"Tidak perlu diperjelas Mas, aku tahu bahwa perlakuan kamu itu cuman pura-pura." Batin Nari mengusap buliran bening yang membasahi pipinya.
Enggan berlama-lama di kamar bersama Argian yang pastinya setiap kalimat suaminya hanya menyakiti dirinya. Nari memilin keluar dari kamar dan turun kebawah mengerjakan sesuatu di dapur untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bi Sri dan Nelly, Nari mau bantuin bibi sama Nelly masak bolehkan," ucap Nari menampilkan wajah puppy eyes agar kedua perempuan didepannya luluh.
"Waalaikumsalam Nari." Balas keduanya kompak.
"Eum Nari bukan bibi tak mengizinkan kamu nak, tapi kamu sekarang sedang hamil. Bibi gak mau kamu sampai kelelahan dan terjadi sesuatu terhadap kandungan kamu. Tuan pasti akan marah besar bila terjadi sesuatu terhadap mu nak," tukas Bi Sri memberitahu Nari dengan berkata lembut.
"Benar yang Ibu ku katakan mba, sebaiknya mba Nari duduk di meja makan dengan anteng biar Nelly buatkan susu hamil, bagaimana mba?" Kata Nelly.
"Nari mohon bi, bolehin Nari bantuin kalian ya. Ini kemauan dede bayi," ucap Nari tidak ingin menurut.
"Baiklah, tapi misalkan kamu cape harus segera istirahat." Akhirnya Bi Sri membolehkan Nari membantu membuat sarapan.
Nari sangat senang mendengar Bi Sri membolehkannya. Wanita hamil itu sangat bersemangat memasak sarapan pagi untuk keluarga Bramantio.
•
"Ehem apa pengobatan oma sudah selesai di Jerman?" Tanya Argian buka suara, karena oma Ayu sudah lebih tiga minggu berada di Jakarta.
"Mengapa memangnya Argi apa ada masalah kalau oma lama disini?" Bukan menjawab pertanyaan cucunya, oma Ayu malah bertanya balik.
"Sebenarnya pengobatan oma masih berlanjut di Jerman, hanya saja setelah mengetahui berita kehamilan Nari membuat oma enggan rasanya mau kembali kesana, oma pengin menyasaksikan kelahiran cucu oma yang beberapa bulan lagi," ungkap oma Ayu, membuat semua keluarga menatap kearah wanita tua yang berusia 68 tahun tersebut.
Nari yang kebetulan duduk berdekatan dengan oma Ayu perlahan menggenggam tangan wanita tua itu dan menatap lembut wanita satu-satunya yang menganggapnya ada dalam keluarga Bramantio.
"Aku senang oma mau menyaksikan kelahiran anak ku, tapi aku juga tidak senang karena aku pengobatan oma terhambat dan kesehatan oma bakalan menurun." Nari mengusap punggung tangan oma Ayu.
"Boleh gak Nari minta oma kembali ke Jerman dan lanjutin pengobatan oma. Nari akan kabarin oma jika melahirkan nanti," pinta Nari penuh permohonan, ia tak bisa membiarkan oma Ayu mengabaikan pengobatan demi menunggu kelahiran cicitnya.
"Tapi sayang, oma berat sekali meninggalkan kamu. Entah ini cuma perasaan oma saja atau benar adanya. Oma merasa kamu bakalan pergi jauh dari keluarga ini," ungkap oma Ayu sedih.
"Kenapa oma bisa merasakan hal itu? Aku tidak akan pergi kalau itu yang oma khawatirkan," ucap Nari menampilkan senyum palsu.
__ADS_1
"Sekarang oma tanya, apa pernikahan kalian baik-baik saja? atau selama ini perlakuan Argian cuma pura-pura karena adanya oma disini, jujurlah!" Pinta oma Ayu membuat Argian dan Nari saling berpandangan untuk beberapa saat.
"Gak ada untungnya buat Argi pura-pura oma," kata Argian berdiri memeluk oma Ayu dan Nari, lalu mencium kepala istrinya.
"Jadi apa oma percaya sekarang, kalau pernikahan kami baik-baik saja, atau oma perlu bukti lagi supaya oma percaya," ujar Argian berlutut dan menjatuhkan kepala di pangkuan oma Ayu.
"Iya oma percaya sayang, tapi bolehkan oma minta satu permintaan. Sebesar apapun masalah yang kalian hadapi dalam rumah tangga, jangan pernah berucap cerai," pinta oma Ayu menatap keduanya bergantian.
Keduanya mengangguk dan tersenyum supaya oma Ayu percaya.
"Oke! Oma akan kembali ke Jerman malam ini, kalian antar oma ke bandara." Pinta oma Ayu diangguki Argian.
Farhan hanya bisa mendengarkan obrolan Ibu dan putra serta menantunya, tanpa bisa ikut nimbrung. Rasanya Farhan bukan enggan untuk ikut campur hanya saja ia merasa berdosa pada Ibunya. Seandainya Ibunya tau perlakuan istri dan kedua anaknya pada cucu menantu kesayangan Ibunya. Pasti Ibunya akan sangat kecewa padanya.
"Maafkan aku oma jika suatu saat nanti Mas Argian menceraikan aku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, mencegah pun percuma. Mas Argian pasti tetap pada pendiriannya. Apalagi Mas Argian punya wanti yang amat dia cintai."
•
Malam harinya Nari dan Argian mengantar oma Ayu ke bandara. Sebelum masuk ke dalam pesawat oma Ayu memeluk Nari dan Argian bergantian.
"Argi jagain Nari ya, dia wanita hebat paling oma sayang setelah kalian. Wanita baik yang tidak pernah melihat keluarga kita dari kekayaan yang kita punya. Jangan buat Nari menangis, karena itu sama saja kamu menyakiti oma mu ini," pesan oma Ayu pada Argian.
"Iya oma, aku akan menjaganya," ucap Argian merangkul Nari, menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya. Tangan mengusap kepala istrinya.
Nari cuma bisa menikmati perlakuan manis Argian sebelum pria itu kembali pada sikap aslinya.
"Mari oma, kita harus segara masuk ke dalam pesawat," beritahu Rachel menuntun oma Ayu.
"Oma baik-baik disana jangan lupa kabarin Argian kalau sudah sampai Jerman," ujar Argian mengingatkan oma Ayu yang berjalan menjauhi keduanya.
Setelah punggung oma Ayu tak terlihat lagi, Argian mendorong Nari.
__ADS_1
"Lepas! Oma sudah tidak ada lagi, jadi kepura-puraan saya berakhir," ketus Argian berjalan keluar bandara meninggalkan Nari yang terpaku.
"Huh! Sabar ya de papa kamu kembali lagi ke sifat aslinya. Kita terus berdoa semoga papa mu bisa mencintai bunda."