
Perasaan Nari sekarang benar-benar gundah, pikirannya kemana-mana. Dia bahkan tidak merasakan lelahnya berjalan, kakinya terus saja melangkah.
Mengapa setelah dia sudah menikah, baru ada lelaki yang melamarnya. Kenapa datangnya terlambat, jika saja dia belum menikah mungkin dia akan merasa senang dan bahagia di lamar seperti tadi.
Tapi keadaannya sudah berubah, ia sudah memiliki suami. Walaupun suaminya tidak menganggapnya ada dan belum mencintainya, dia harus tetap bersabar menunggu suaminya menerima pernikahan ini.
Karena sebuah pernikahan yang dipaksakan memang tidak akan berjalan mulus dan selalu banyak rintangannya. Maka dari itu dia harus bersabar menjalaninya penuh keikhlasan, insyaallah nanti semuanya ada hikmahnya dari buah kesabaran dan keikhlasan hatinya.
Entah, sadar atau tidak sekarang Nari malah sudah sampai di kediamannya. Satpam rumah telah membukakan gerbang untuknya.
"Makasih pak," ujar Nari selalu tidak lupa mengucapkan kata terimakasih pada orang.
"Sama-sama neng," balas pak satpam tersebut.
.
Nari tidak mengetahui jika di dalam ada tiga orang sedang asik mengobrol, bahkan mereka terlihat akrab.
"Angel," seru Nari melihag adanya temannya yang tengah duduk bersama mertua dan adik iparnya.
"Hai Nari," sapa Angel penuh senyuman dibibirnya.
Tidak dengan kedua orang, menatap sini ke arahnya. Bahkan wajah mertuannya terlihat murka, entah kesalahan apalagi yang dibuatnya sekarang. Yang jelas dia tidak mengetahui itu.
"Dari mana saja kamu? Baru pulang jam segini, ingat ya kamu tuh menantu di keluarga ini. Jadi jangan sekali-kali kamu melakukan hal aneh diluaran sana yang bisa mencoreng nama baik keluarga saya. Paham kamu!" ketus Felly, maju dan menarik rambut Nari dan mendorongnya hingga terduduk di lantai
"Palingan wanita keluyuran ga jelas ma," tuduh Argea. "Gimana kalau kita hukum aja dia ma," lanjutnya memberi usulan.
"Kamu punya ide sayang, baiknya kita apain?" tanya Felly pada putrinya yang tengah memegang dagunya memikirkan sesuatu.
"Suruh aja beresin rumah ini tante, habis itu masak makan malam," bukan Argea yang memberikan bersuara melainkan Angel lah yang memberi usulan.
"Nah, benar ma yang dibilang kak Angel," timpal Argea.
"Angel," cicit Nari.
__ADS_1
"Kenapa Nar, kamu ga percaya aku bisa lakuin ini sama kamu. Asal kamu tahu ya, dari SMA aku temanan sama kamu itu cuman terpaksa. Mau tau kenapa? Karna kamu tuh pinter, jadi aku deketin kamu cuman manfaatin doang, biar nilai aku selalu bagus. Dan terbukti nilai aku yang dulunya jelek di sekolah lama, sekarang bagus berkat kamu," jelas Angel tanpa tahu jika wajah Nari sangat kaget mendengar penuturannya. Bahkan mencekik leher Nari.
Sekarang terungkap! Nari sama sekali tidak menyangka bahwa dahulu Angel hanya berpura-pura baik berteman dengannya. Cuma untuk memanfaatkan kepintarannya.
"Le..lepasin N-ngel sa...kith," lirihnya, Angel pun segera melepaskannya, dia tak ingin membuat orang mati ditangannya.
Nari memberikan tatapan tak percaya dengan apa yang dilakukan Angel padanya. "A-aku ga nyangka jadi selama ini, kamu cuma manfaatin aku. Padahal selama ini aku selalu anggap kamu itu udah kayak saudara aku sendiri, tapi nyatanya kamu munafik, jahat," ucapnya mengeluarkan kata-kata itu.
"Berani banget kamu ngatain aku kaya' gitu, harusnya kamu ngaca. Kamu tuh siapa ha? cuman gadis miskin yang sekarang menjadi menantu orang kaya, tapi sama sekali tidak diakui. Miris sekali hidup kamu Nari," cemooh Angel.
PLAK!
"Itu buat kamu yang udah berani ngata-ngatain aku," desis Angel.
"Cukup, kamu tidak usah meyahut lagi. Sekarang lebih baik kamu masak buat makan malam. Cepat sana!" tegas Felly menghentikannya, karna jika ini terus berlanjut maka akan terjadi pertumpahan darah di kediamannya.
"Tapi ma, bisakah Nari istirahat sebentar," ucapnya berdiri lemah dengan pipi yang memerah. Bekas tamparan dan rambutnya acak-acakan.
"Istirahat! Jangan di bolehin ma," ujar Argea.
Dengan lemah Nari mengangguk, lalu menurutinya. Segera pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Sungguh ia sangat cape' sekali, tapi apa boleh buat. Membantah lagi pun percuma, yang ada nanti ia pekerjaannya malah bertambah dua kali lipat.
Ingin sekali rasanya dia pergi dari rumah ini, tapi setiap mengingat perkataan oma Ayu. Membuatnya berpikir dua kali, dia tak ingin mengecewakan wanita paruh baya yang telah sangat baik padanya. Bahkan dia mendengar dari ibu panti, bahwa oma Ayu telah menjadi donatur panti asuhan 'Cinta Kasih'.
Tapi kenapa orang-orang di rumah ini berbeda dengan oma Ayu. Tidak ada yang memiliki sifat seperti oma Ayu, walaupun tegas tapi masih ada sisi lembutnya. Mungkin dia adalah orang baru disini, tapi hanya mendengar suara dan perkataan yang sering diucapkan oma Ayu. Itu sudah cukup sebagai bukti, kalau wanita paruh baya itu sangatlah baik.
Disinilah keberadaan Nari, di dapur. Ia tengah berkutat dengan bahan-bahan masakan bersama Bi Sri. Kepalanya bahkan terasa sangat pusing, tapi tetap ditahannya.
"Astafirullah pipi neng kenapa merah begini seperti habis ditampar. Siapa orang yang udah nampar neng?" tanya Bi Sri begitu kaget melihatnya.
"Oh ini, udah aku ga pa-pa kok bi... Aku baik-baik aja kok" ujar Nari.
"Apanya yang ga pa-pa Nar, yang dikatakan ibuku benar. Pipi merah begitu kok dibilang baik-baik aja. Yang benar aja kamu Nar. Ayo bilang siapa yang udah nampar kamu," timpal Nelly.
Nari tersenyum, kedua orang di sampingnya ini sangatlah baik terhadapnya.
__ADS_1
"Beneran Nelly sayang aku ga pa-pa. Iih udah di bilangi kok," tukasnya bersuara tenang, sambil menahan sakitnya.
Bi Sri dan Nelly menyerah membujuk Nari. Mereka tahu jika Nari hanya menguatkan dirinya. Mereka benar-benar tidak menyangkan dengan majikan mereka sangat keterlaluan, memperlakukan menantu di rumah ini.
Akhirnya semua masakan telah selesai dan tinggal di hidangkan saja ke meja makan. Baru Nari pamit menuju kamarnya, meninggalkan Bi Sri dan Nelly yang sedang membersihkan dapur.
Nari memasuki kamar tamu yang berada di bawah, yang sudah beberapa ini ditempatinya. Semua barang-barangnya sebelum berada di kamar Argian sudah dipindahkan disini. Kalian pasti berpikir kamar tamu yang ditempati Nari sangatlah luas. Tapi nyatanya kalian salah, kamar tamu itu sangatlah kecil dari kamar-kamar tamu lainnya yang luas. Kasurnya saja hanya muat untuk satu orang saja, tetapi itu sudah membuat Nari begitu nyaman.
Setelah membersihkan tubuhnya Nari pun segera beristirahat karena tubuhnya sangat cape. Bagaimana tidak cape, dia saja pulang berjalan kaki. Bodohnya di sampai tidak sadar jika tengah berjalan, tetapi syukurlah kakinya membawanya melangkah pulang.
.
Sedangkan di luar sana, keempat keluarga dan ditambah satu orang lagi yaitu Angel. Mereka tengah menikmati makan malam dalam keheningan. Diantara mereka tak ada satu orang pun yang menanyakan keberadaan anggota keluarga yang lainnya.
Gimana mau mengingat? Makan semeja saja dengan mereka ogah-ogahan.
Selesai menikmati makan malam tadi, sekarang mereka berkumpul di ruang tamu. Sang kepala keluarga Farhan menatap putranya dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Jangan katakan jika kamu berhubungan kembali dengan wanita itu. Jawab Argian Satria Bramantio?" suara Farah menggelegar, bergema di ruangan tamu.
"Bener begitu Gian?" tanya Felly menatap putranya tak percaya.
'Siapa wanita yang tengah dibicarakan mereka,' batin Angel yang ternyata masih berada di kediaman Bramantio.
"Iya pa ma, aku balikan dengan Ginara. Karna aku ga bisa lupain dia, aku masih mencintainya. Puas kalian!" Argian langsung berdiri dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓