Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
23-PPT


__ADS_3

Hari minggu. Pagi ini Nari menyiapkan sarapan untuk semua keluarga, sebelum berangkat kerja dia menyempatkan diri sarapan bersama. Dia akan bergabung dengan mereka.


Nari sebenarnya belum memberitahu suaminya, bahwa dia bekerja di toko kue. Tapi rasanya percuma saja kalau mereka tahu atau tidak, tak akan berubah. Keluarga ini tak akan memperdulikan dirinya.


Saat ingin menyuapkan roti ke dalam mulutnya, tiba-tiba rasa mual datang menghampirinya. Nari beranjak dari duduknya dan berlari kearah wc.


Huekk!


Muntahan yang keluar dalam mulutnya hanyalah air, karna dia sama sekali belum mengisi perutnya. Nari dengan cepat berkumur-kumur, segera keluar. Terdengar suara mama mertuanya memanggilnya dengan berteriak.


"NARI! Cepatlah kesini,"


"Iya ma, sebenatar," tegesa-gesa Nari sedikit berlari menghampiri dan duduk kembali di kursinya.


"Bicaralah pa! Sekarang sudah ada Nari disini," ujar Argian menatap papanya.


"Oma menyuruh kalian berdua mendatanginya ke Jerman," ujar Farhan.


"Tapi pa, kerjaan ku masih banyak di kantor. Belum lagi aku memantau pembangunan proyek baru kita," bantah Argian menjelaskannya.


"Proyek, tak usah khawatir... Masih ada papa yang menangani. Pekerjaan mu biar Dino dan Malla yang menghandle," jelas Farhan, membuat Argian tidak punya alasan lagu untuk menolak.


"Pa, kok cuman kak Argi sama dia. Aku kan juga mau datangi oma, aku kangen banget sama oma," ujar Argea menatap papanya.


"Kamu belum bisa ikut sayang, kampua belum liburkan?" tanya Farhan lembut. Argea mengangguk.


"Apa sih bagusnya kamu, sampai oma aku sayang banget sama gadis miskin kayak kamu," hina Argea, Nari hanya bisa menerimanya. Ia tak ingin mendebat jadi membiarkan saja. Nanti mulut mereka akan cape' sendiri mengatainya.


"Kapan pa, kami harus berangkat?" tanya Nari dengan hati-hati.


"Hari ini juga, semua telah di persiapkan. Kalian langsung ke bandara" jawab Farhan malas.


Nari membalasnya dengan anggukan.


.


Kini keduanya telah berada di dalam mobil, mereka diantar oleh pak Surian. Di dalam perjalanan tidak ada percakapan, yang terjadi hanyalah keheningan.


Argian menatap handphonenya, sedari tapi pesan belum di bales Ginara. Di telpon pun ga aktif.


'Ginara, kamu kemana sih. Di chat ga di bales, telpon ga aktif.' batinnya menahan kekesalan.


"Maaf tuan nona, kita sudah sampai," beritahu pak Surian.

__ADS_1


"Iya pak, makasih ya pak" ujar Nari. Pak Surian membalasnya dengan tersenyum.


Kedua langsung memasuki pesawat, hingga pesawat landas pun chat Argian belum ada balasan sama sekali dari Ginara. Akhirnya Argian memutuskan mematikan handphone, kekesalan yang melandanya membuatnya berpikir seperti itu.


Akhirnya mereka tiba di bandara Jerman, pukul 06:00 pagi. Udara yang begitu dingin membuat Nari menggigil. Mungkin karna ini kali pertama ia berada di negara orang. Argian yang sedari tadi tak memperhatikan Nari, seketika melirik sebentar saja lalu menatap ke arah lain.


"Kedinginan?" ujar Argian bertanya, mereka juga sudah berada di dalam mobil yang akan membawa ke tempat kediaman oma Ayu.


Nari menoleh mendengar suara suaminya, mempertanyanya dirinya yang kedinginan.


"Di..ngin ba...nget," jawabnya terbata-bata akibat menggigil.


"Kita berhenti di toko depan sebentar," pinta Argian pada sang supir di depan.


"Baik tuan," jawabnya, segera memberhentikan mobilnya di depan toko yang menjual berbagai aneka jaket tebal.


"Kamu tunggu disini," ucap Argian, Nari mengangguk menuruti.


Beberapa saat kemudian, Argian sudah keluar dari dalam toko dan menenteng paper bag. Segera masuk ke dalam mobil dan menyerah paper bag tersebut pada Nari.


"Ini, pakailah. Lain kali bilang kalau tidak punya jaket," ujar Argian dingin. Sedangkan Nari membalas dengan anggukan dan tersenyum setelah menerima paper bag tersebut.


'Mas Argi ternyata perhatian juga, ya walaupun sifat dinginnya sangat melekat. Tapi tak apa perhatian kecil membuat hatiku tersentuh,' ucapnya dalam hati sambil senyum-senyum.


"Jangan sampe ke sambet," gumannya berkata singkat.


"Kenapa mas?" tanya Nari.


"Tidak pa-pa," jawabnya.


Selama satu jam perjalanan, kini mereka telah sampai di kediaman oma Ayu. Mereka berdua bergegas turun dan langsung masuk ke dalam.


"Selamat datang cucu-cucu oma," sambut oma Ayu penuh senyuman dan kegembiraan.


"Makasih oma, sambutannya," kata Nari, memeluk oma Ayu.


"Argian tidak mau memeluk oma atau mungkin tidak kangen dengan oma," ujar oma Ayu berpura-pura sedih.


"Tidak oma, aku kangen banget sama oma. Gimana pengobatan oma, lancar saja kan?" Argian bertanya untuk mengalihkan agar tak membuat oma Ayu sedih.


"Alhamdulillah, pengobatan oma lancar. Kalian apa sudah ada kabar gembira untuk oma?" oma Ayu bertanya balik.


Kedua suami istri itupun langsung terdiam, mereka malah saling menatap satu sama lain. Bingung ingin memberi jawaban seperti apa. Tapi ternyata mereka kalah cepat dengan oma Ayu yang langsung bersuara.

__ADS_1


"Oma kami-"


"Tak apa oma paham, Argian sibukan? Karna kalian berada disini jadi sekalian saja kalian berdua honeymoon," potong oma Ayu menyela perkataan Nari.


"Ehem, oma bisakah tunjukkan kamar untuk kami. Aku sudah sangat lelah sekali," ucap Argian menatap Nari agar berbicara juga.


"Iya oma, aku dan mas Argi sangat lelah sekali. Kami berdua butuh istirahat," imbuh Nari.


"Maafkan oma melupakan bahwa kalian baru saja datang dan langsung oma ajak bicara. Fitri, tolong tunjukkan kamar buat mereka tempati," seru oma Ayu menyuruh Fitri menunjukkan kamar.


Fitri adalah perempuan asal indonesia yang bekerja pada oma Ayu sudah lima tahun terakhir. Oma Ayu yang lebih sering berada di Indonesia, membuat Fitri lah yang menjaga kebersihan rumah oma Ayu.


"Ini kamarnya, tuan nona silahkan masuk," ujar Fitri setelah pergi meninggalkan keduanya di dalam kamar.


.


Setelah masuk dalam kamar, Argian langsung saja ke kamar mandi membersih dirinya.


"Nari, bisa siapkan pakaian saya," teriak Argian dalam kamar mandi.


"Baik mas, akan aku siapkan," Nari dengan cepat membuka lemari besar yang ada di kamar ini. Dan ternyata disan telah tersusun rapi pakaian untuk pria dan perempuan.


"Apa semua ini oma yang menyiapkannya," gumannya. Memang mereka berdua tidak membawa pakain apapun, karna tadi papa mertuanya hanya menyuruh mereka langsung berangkat karna semua telah disiapkan.


"Pakaian saya sudah disiapkan?" Argian sudah keluar dalam kamar mandi dan bertanya. Nari yang masih melihat semua pakaian dalam lemari, terkejut mendengar suara orang bertanya.


"Ehh, sudah mas. Ini," menyerahkan pakaian ditangannya kepada suaminya.


"Apa kamu tidak ingin mandi? Atau ingin melihat saya berpakaian," ujar Argian malah membuat pipi Nari merah merona di buatnya.


Dengan secepat Nari menggeleng dan masuk ke dalam kamar mandi. Menutup agak keras, di dalam kamar mandi Nari masih merasa malu karna ketahuan menatap suaminya.


"Huh! Tenang Nari sebaiknya kamu mandi," ujar Nari menetralkan rasa malunya tadi. Menghidupkan shower agar membasahi seluruh tubuhnya.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasih💓


__ADS_2