Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
44. Pisah kamar


__ADS_3

‘Mengapa mas Argi melihat kearah perut sedari tadi. Apa mas Argi punya pikiran untuk menggugurkan kandungan... Tidak! Itu tidak boleh terjadi.’


Seketika Nari bukan mengelus lagi perutnya tapi malah memeluk seperti melindungi dari marabahaya.


“Hei?! Kau kenapa?” Tanya Argian menatap aneh wanita disampingnya.


Nari hanya menggeleng, wanita hamil itu masih belum mau bicara dengan lelaki disampingnya. Lalu membuang pandangan keluar kaca mobil. Tentu Argian melakukan hal yang sama.


20 menit kemudian mobil mereka berhenti dikomplek perumahan. Nari turun dari mobil berjalan mendekati rumah baru yang akan mereka tinggali sekarang. Rumah minimalis modern, mata indahnya mengelilingi halaman sekitar rumah. Masih belum ada bunga ataupun tumbuhan yang ditanami.


“Sepertinya nanti aku akan menamani sesuatu, biar tambah keliatan indah dipandang,” gumamnya yang masih bisa didengar Argian.


“Harus seizin saya! Rumah ini saya beli agar bebas membawa kekasih ku kesini. Jadi apapun yang mau kamu lakukan minta izin dulu sama saya, jangan sok ingin menjadi nyonya Nari Lestari,” bisik Argian berjalan melewati Nari. Ia memasukan kunci rumah untuk membuka pintunya.


Tubuh Nari menegang mendengar bisikan Argian yang tiba-tiba saja. Wajahnya yang tadi gembira berganti redup. Perkataan Argian seolah-olah menegaskan apapun yang dilakukan harus selalu izin. Akhirnya ia tahu alasan Argian membeli rumah dan mengajak pindah.


“Pak barangnya tolong bantu bawa ke dalam,” seru Argian menyuruh pak Surian membawa masuk barang-barang mereka.


Nari mencoba tak memperdulikan bisikan Argian. Wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah, ia tercengang melihat desain interior ruang keluarga dan furniture. Mata mengarah ke dinding, tak ada foto pernikahan mereka.

__ADS_1


“Pak koper satu biarkan saja dibawah, yang itu saja yang dibawa ke kamar atas,” ujar Argian.


“Kopernya nyonya Nari enggak sekalian saya bawa keatas saja tuan?” Tanya pak Surian.


“Tidak usah pak nanti saja. Setelah bapak menaruh koper saya dikamar, bapak boleh langsung pulang saja.” Tukas Argian.


Pak Surian mengangguk saja, melakukan yang diperintahkan majikan tanpa mau membantah kembali.


“Tuan, nyonya, saya pamit pulang dulu.” Pak Surian berpamitan dan bergegas pulang kembali di kediamanan Bramantio.


Setelah punggung pak Surian menghilang dibalik pintu keluar. Barulah Argian menghadap Nari.


Tentu tidak Nari yang masih enggan bicara sama Argian hanya menerima tanpa mengeluarkan protesan sepatah katapun. Wanita itu mengeret koper membawa masuk ke dalam sebuah kamar yang ditunjuk oleh Argian.


“Oh ya satu lagi, kamu dilarang menaiki tangga ini tanpa seizin saya. Karena ini rumah saya jadi kamu harus ikutin aturan yang saya buat. Mengerti?”


Nari yang sempat berhenti mendengar Argian yang kembali bicara. Membalikan badan dan menganggukan kepalanya. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar yang akan tempati.


“Wow... kamarnya sangat luas,” ucap Nari takjud melihat kamarnya.

__ADS_1


Nari membuka koper yang berisi pakaiannya dan mengeluarkan menyusun dalam lemari yang tersedia dikamar miliknya. Menyusun dengan rapi pakaian tak seberapa miliknya. Nari memang jarang membeli pakaian.


“Lelah banget! Sebaiknya aku istirahat dulu, nanti baru ke dapur.”


Bumil itupun memilih merebahkan tubuh diranjang empuk. Sampai akhirnya malah tertidur pulas saking lelahnya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasih💓


__ADS_2