Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
56. Melawan


__ADS_3

"Kenapa kamu menatap saya seperti itu, apa ada yang salah dengan pakaian yang saya kenakan ini?"


Nari menggeleng..


"Mba kenapa tidak bilang kalau butuh pakaian, saya bisa meminjamkannya. Apa mba tidak merasa risih sedikipun memakai pakaian suami saya, dimana baju itu hanya bisa menutupi setengah paha mba," tutur Nari lemah lembut bicara pada wanita di depannya, walaupun ia tahu bahwa wanita di depannya adalah selingkuhan suaminya.


"Apa saya tak salah mendengar, kau mau meminjamkan baju mu yang kampungan seperti itu." Ginara menunjuk pakaian yang dikenakan dari bawah sampai atas, melihatnya dengan tatapan enggan.


Nari ikut melihat pakaian, biasa saja. Tidak ada yang aneh menurutnya, "Memangnya ada yang salah dengan pakaian saya, sehingga mba tidak mau saya pinjamkan baju saya saja," katanya.


"Banget, pakaian kau akan membuatku alergi memakainya," telak Ginara menolaknya.


"Pakaian terjamin bersih mba... Bentar saya ambilkan pakaian saya dulu, agar mba bisa melihatnya sendiri."


Nari melanhkah pergi memasuki kamarnya, mengambilkan pakaian untuk Ginara. Biar wanita itu melihat sendiri pakaian terjamin bersih, karena memang dia sangat rajin mencuci pakaian dan menyetrikanya agar selalu terlihat rapi.


"Ini mba pakaian saya, mba bisa memakainya. Daripada hanya memakai kaos saja, saya tahu pasti mba tidak nyaman memakai kaos suami saya.."


Nari menyodorkan pakaian ke depan Ginara. Ginara hanya menatapnya saja, enggan untuk menerima pakaian tersebut.


"Ada apa ini!" seru Argian yang memasuki area meja makan dan melihat istri dan kekasihnya saling berhadapan satu sama lain.


Ginara menolah pada Argian yang mendekat, ia tersenyum melihat Argian yang datang menyelamatkan.


"Ini mas, aku berniat meminjamkan mba ini pakaian ku. Mengapa tadi mas tidak bilang jika mba ini tidak membawa pakaian ganti, melihat mba ini memakai kaos mas sungguh tidak sopan sekali keliatannya," ujar Nari menjelaskan penuh ketenangan.


"Apa maksud mu berkata seperti itu? Oh saya tahu kau pasti iri melihat saya yang bisa memakai pakaian suami mu semaunya, sedangkan kamu sendiri tidak bisa memakai ataupun menyentuhnya. Kasihan sekali!" Ginara mengejek Nari sambil tertawa.


Nari mengepalkan tangannya mendengar nada mengejek wanita di depannya..


"Setidaknya saya tidak menjadi selingkuhan suami orang. Apa mba sendiri sudah merasa bangga menjadi kekasih orang yang sudah berstatus suami. Saya mengerti! Orang seperti mba ini sudah putus urat malu makanya merasa biasa saja, atau mba sudah terbiasa seperti ini yaa," cibir Nari tak mau kalah.


Pertama kali baginya memberanikan diri membalas perkataan seorang yang merendahkannya. Entahlah ia pun tak sadar bisa berbicara seperti itu, mungkim saja ini bawaan dari bayi dalam kandungannya yang tidak terima ibunya dikatain.


"Wanita sialan!" Ginara menggeram emosi.


Plak


Ginara melayangkan tamparan ke wajah Nari. Karna tidak tahan mendengarkan perkataan wanita di depannya, bahkan Argian sendiri tampak kaget melihatnya.

__ADS_1


Ketika Nari ingin melayangkan tamparan juga ke pipi Ginara. Keburu tangan di tahan oleh Argian sehingga tamparan tak memgenai wajah Ginara.


"Cukup! Sekarang saya minta kamu masuk ke kamar mu sekarang, nanti kita bicara lagi. Saya ingin makan malam dengan ketenangan bersama kekasih saya," tukas Argian bicara bernada keras.


"Bukan aku yang harus masuk kamar mas, tapi dia yang harus keluar dari rumah ini," ujar Nari memprotes perkataan suaminya.


"Saya bilang masuk ya masuk, jangan melawan ataupun mengatur. Ini rumah saya, jadi saya berhak memutuskan. Cepat masuk!" titah Argian tanpa ingin di bantah, ia menarik tangan Nari, menyeretnya masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari luar.


"Mas buka!" teriak Nari dari dalam memukul-mukul pintu kamar.


Tentu Argian tidak memperdulikan dan segera menuju ke meja makan kembali untuk mengisi perutnya dan makan bersama kekasihnya tanpa gangguan.


"Gian, aku benaran tidak terima perkataan wanita itu. Aku bukan selingkuhan kamu, tetapi dari awal kita memang berpacaran," ucap Ginara masih merasa kesal dengan omongan Nari.


"Iya sayang kamu benar! Kita makan terlebih dulu biar nanti aku bicara dengan Nari," bales Argian.


"Kamu bilang, istrimu itu pendiam dan bisa hanya menangis. Tapi yang aku liat di tidak seperti itu, malah berani mengataiku. Sungguh di luar dugaan."


"Hemm, aku juga terkejut sayang, biasanya dia tak pernah membantahku..."


"Sepertinya dia mulai mengeluarkan sifat aslinya, ternyata kepolosannya hanya kedok saja," cemooh Ginara.




Setelah menikmati makan malam dengan tenang bersama Ginara. Argian meminta kekasih agar duluan beristirahat di kamarnya. Argian tidak langsung ke kamar Nari melainkan mengantarkan kekasih kekamarnya.


"Awas jangan lama-lama dikamar istrimu, aku cemburu," ujar Ginara berkata jujur.


Argian menoel hidung Ginara, "Iya sayang, aku tidak akan lama bicara dengannya. Lagian aku juga ingin beristirahat, apalagi besok kita harus menijau proyek pembangunan kantor cabang yang baru di luar kota."


"Oh iya, hampir saja aku lupa. Aku juga sudah menyiapkam desainya," kata Ginara.


"Jangan bekerja terlalu keras sayang, kalau kamu lelah bilang katakan saja. Aku bisa mencari arsitek baru yang akan membantu mu dalam mendesain pembangunan ini," ucap Argian perhatian.


"Tidak! aku masih bisa melakukannya sendiri, aku juga senang berkerja dengan mu, karena kita bisa setiap hari bertemu." Ginara mengalungkan tangan dileher Argian.


'Cup'

__ADS_1


"Sayang jangan mencoba menggodaku lagi.."


"Kenapa sayang? Aku menawari kamu menyentuhku, tetapi kamu menolaknya."


Argian melepaskan tangan Ginara dari lehernya dan menidurkan kekasihnya.


"Istirahatlah, aku akan segera kembali." Dengan berat hati Argian segera melangkah pergi meninggalkam Ginara.


Kini Argian membuka pintu kamar Nari yang dikuncinya tadi. Mendengar suara pintu kamar yang dibuka Nari berdiri dari duduknya.


"Puas dengan apa yang kau katakan tadi terhadap kekasihku!?"


Argian maju dan mendorong Nari hingga terbaring terlentang di ranjang. Beruntunglah dibelakangnya ada ranjang, tetap saja punggung terasa sakit.


"Awshh sakithh!" rintihnya menangis mencoba bangun.


Nari menghapus air matanya menatap serius suaminya. "Aku mengatakan yang sebenarnya mas. Aku tahu mas tidak mencintaiku, setidaknya hargai aku sebagai istrimu. Walaupun ini rumah mu, aku tidak pernah sok berkuasa, aku hanya melindungi kerhormatan mu mas. Mas tidak memikirkan bagaimana jika ada warga disini melihat mas membawa perempuan lain ke rumah ini, mereka akan beranggapan yang tidak-tidak tentang mas. Aku tidak mau mas malu, itu saja. Apa aku salah, menjaga kerhormatan mu?"


Argian sempat tertegun mendengar penuturan Nari. Tetapi mengingat Nari istri yang tak pernah diinginkan membuatnya kembali tak suka mendengarnya.


"Saya tidak perduli, sebentar lagi juga saya akan menceraikan mu." Pungkas Argian.


"Iya mas aku tahu, tapi aku minta selama kita masih menjadi suami istri. Jangan membawa wanita lain ke rumah ini. Terserah mas mau melakukan apa saja nanti, tapi jangan sekarang dan dirumah ini. Hargai aku mas sebagai istrimu," sanggah Nari.


Argian malah pergi begitu saja meninggalkan kamar Nari, tanpa membalas perkataan Nari. Bisa-bisa nanti ia akan terpengaruh dan menganggap perkataan Nari benar. Maka dari itu ia memilin pergi secepatnya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasih💓


__ADS_2