Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
64. Oma Ayu bahagia punya cicit


__ADS_3

Siang sudah berganti malam, seluruh keluarga menunggu kedatangan Oma Ayu yang dalam perjalanan menuju rumah. Makanan kesukaan Oma Ayu telah Nari masakan dan hidangkan di atas meja makan. Terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di teras depan rumah.


"Selamat datang oma sayang!" Argea menghambur memeluk Oma Ayu penuh kerinduan.


"Oma juga merindukan cucu cantik oma yang nakal ini," ucap Oma Ayu menepuk pantat Argea.


Wajah Argea langsung cemberut, Oma Ayu mencubit pipi Argea.


"Mama sehatkan?" tanya Farhan memeluk Ibunya.


"Alhamdulillah mama sehat, kalian juga sehatkan?" ucap Oma Ayu balik bertanya.


Farhan mengangguk, "Alhamdulillah kamu juga sehat mah."


Sekarang giliran Felly memeluk Ibu mertuanya, "Aku senang mama balik ke Indonesia."


"Argian dan Nari, dimana mereka?" tanya Oma Ayu tak melihat keberadaan cucu dan cucu menantunya.


"Aku disini oma," seru Argian dibelakang Oma Ayu. Argian baru saja pulang dari kantor, Argian mengerjakan perkerjaan kantor dengan cepat. Karena tahu Oma nya akan datang.


"Oh cucu tampan oma." Oma Ayu merangkum wajah cucu tampannya Argian.


"Dimana istri mu?" tanya Oma Ayu.


"Nari lagi menghidangkan makanan spesial untuk oma. Sekarang mari ke meja makan." Felly merangkul oma Ayu membawa menuju meja makan, dimana disana terlihat Nari sangat sibuk menata makanan dan mengecek takut ada kekurangan dalam hidangan di meja makan.

__ADS_1


"Oma selamat datang," sambut Nari tersenyum manis dan penuh kerinduan pada Oma Ayu.


"Mendekatlah Nari, oma ingin memeluk mu," seru Oma Ayu.


Nari mendekat memeluk Oma Ayu dengan begitu erat, melepas kerinduan mendalam antara keduanya. Bagi Nari, oma Ayu sudah seperti Ibu baginya, karena diantara keluarga ini hanya oma Ayu yang menerima dengan tangan terbuka.


"Nari jangan memeluk oma terlalu erat, kasian bayi kita ke gencet nanti," ujar Argian pura-pura perhatian pada istrinya.


Seketika oma Ayu merenggangkan pelukan mereka, oma Ayu memegang bahu Nari.


"Apa oma gak salah dengar, kamu tadi bilang bayi," ucap oma Ayu menatap Argian dan Nari bergantian, kini tatapan oma Ayu mengarah turun ke perut besar Nari.


"Iya oma, aku hamil. Maafkan kamu tidak memberitahukan kabar bahagia ini, aku cuman takut oma akan pulang dan pengobatan berhenti di tengah jalan. Aku gak mau sampai itu terjadi, makanya kami sepakat menyembunyikan kehamilan ku," jelas Nari.


"Harusnyq kalian mengabari oma, tidak merahasiakan semua ini. Kalau saja oma gak pulang ke Indonesia, mungkin oma gak akan pernah tahu kehamilan mu Nari," tukas oma Ayu menangis.


"Enggak papa, intinya oma senang akhirnya sebentar lagi oma punya cicit," ucap oma Ayu berhenti menangis dan tersenyum pada Nari.


"Berapa usia kandungan mu Nari?" tanya oma Ayu.


"Lima bulan lebih oma," jawab Nari.


"Sebelum kita melanjutkan obrolan ini, ada baiknya kita makan malam bersama dulu," ucap Farhan angkat bicara.


Mereka semua pun mengambil tempat masing-masing, Nari mengambilkan nasi untuk semua orang. Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang tamu, Nari membuatkan teh untuk di nikmati saat sedang mengobrol

__ADS_1


"Nari sini duduk dekat oma, oma masih pengen ngelus perut kamu," ujar oma Ayu.


Nari mendudukan pantatnya di sofa panjang samping oma Ayu. Tangan oma Ayu begerak memberikan elusan pada perut Nari.


"Semoga kandungan kamu sehat selalu, dan nanti saat lahiran berjalan dengan lancar."


"Sudah hampir mau jam 10 mah, apa enggak sebaiknya mama istirahat," ucap Felly.


"Ahh iya kamu benar Felly, mama capek sekali," balas oma Ayu.


"Sayang kamu antar oma ke kamar ya," ujar Argian meminta Nari mengantar oma Ayu ke kamarnya.


Nari mengangguk dan mengantar oma Ayu ke kamar.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasihđź’“


__ADS_2