
Seminggu sudah Nari tinggal di bandung, Nari memanfaatkan waktu kosong dengan menanam buah-buahan di dalam pot. Nari melakukan itu agar bisa melupakan perceraian yang tidak diharapkannya.
Namun Ia tak bisa menolak keinginan Argian. Percuma saja rasanya mempertahankan pernikahan yang di dalam rumah tangga hanya ada satu orang yang berjuang untuk tetap bersama. Jadi Ia lebih memilih untuk melepaskan lelaki itu untuk bahagia dengan yang lain. Daripada terus merasa tersiksa dalam pernikahan.
"Kamu gak capek nak? Ibu liat dari tadi kamu semangat banget, memang apa yang kamu tanam di dalam pot-pot itu," ujar Ibu Fitri bertanya sembari menyentuh pundak Nari dan melihat bumil sedang mengisi tanah dalam pot-pot berukuran sedang.
Nari menghentikan kegiatan mengisi tanah, wanita menoleh ke arah Ibu Fitri sembari menampilkan senyum indahnya.
"Ini buk Nari lagi nanam buah-buahan," kata Nari.
"Istirahat gih nak, kamu jangan sampe kelelahan loh. Ingat kandungan kamu, bentar lagi lahiran," ujar Ibu Fitri menyuruh Nari agar menghentikan kegiatannya itu.
"Bukan kalau mau lahiran harus banyak gerak ya buk," balas Nari mengingat artikel yang pernah dia baca di sebuah platform.
"Memang benar nak, tapi si ibu jangan kelewat aktif juga. Kalau udah ngerasa lelah ya rehat," kata Ibu Fitri.
"Baik bu, Nari ngerti. Oh iya ibu habis darimana?" Tanya Nari ketika melihat Ibu Fitri menenteng kantong plastik warna hitam yang Nari tidak tahu apa isi di dalamnya.
"Tadi Ibu habis dari pasar beli sayur-sayuran dan perdagingan," jawab Ibu Fitri.
"Yaampun Nari baru ingat persediaan sayuran aku habis buk," kata Nari menepuk jidatnya sebab baru mengingatnya sekarang.
"Mau Ibu temanin ke pasar," tawar Ibu Fitri.
"Engga usah buk, biar Nari pergi sendiri aja. Pasarnya juga dekat kok dari sini, lagian Ibu pasti capek pulang dari pasar masa mau ke pasar lagi," papar Nari.
"Gak masalah, Ibu gak capek kok. Malahan ya Ibu takut kalau kamu jalan sendirian bawa perut segede gini, takutnya di jalan lahiran," ujar Ibu Fitri yang malah mengundang gelak tawa Nari.
"Ibu ada-ada aja, orang HPL masih dua minggu lagi kok," ujar Nari.
"Mana tau bakal cepat nak," kata Ibu Fitri.
"Tapi benaran buk, aku sendiri aja yang pergi. Aku bawa ponsel kok, kalau ada apa-apa pasti aku telpon Ibu. Jadi jangan khawatir, aku pasti pulang dalam baik-baik aja," tutur Nari mengusap bahu Ibu Fitri agar wanita paru baya yang baik sekali denganya itu tenang.
Ibu Fitri mengangguk, "Hati-hati ya, ingat cepat kabarin Ibu kalau sesuatu terjadi sama kamu." Peringatnya.
"Iya Ibu sayang," ucap Nari.
Setelah itu Nari masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap pergi ke pasar. Membeli kebutuhan dapurnya yang telah habis.
****
__ADS_1
Nari hampir tiba di area pasar, terpaksa menghentikan langkah ketika terdengar suara orang minta tolong. Nari menoleh ke seberang jalan ternyata ada seorang wanita paru baya berteriak.
Sebelum menyebrang jalan, Nari mencari sebuah balok sebagai senjata untuk memukul preman tersebut.
"Tolong! Tolong!"
Tas wanita paruh baya itu ditarik-tarik oleh preman. Sedangkan dibelakang preman ada Nari yang berjalan sangat pelan agar langkah kakinya tak didengar, Nari juga melepas sendalnya.
Bugh!
Bugh!
"Ayo Ibu lari," ajak Nari menarik tangan wanita paruh baya yang dia selamatkan.
"Sialan, jangan kabur kalian." Teriak dua preman yang dipukul Nari tadi. Ternyata keduanya masih sadar, lalu mengejar mereka berdua.
Nari yang seakan lupa bahwa dirinya sedang hamil besar tetap berlari dari kejaran preman. Saking kencang berlari, Nari terjatuh akibat ke sandung kaki sendiri,
Namun belum sampai tubuhnya mencium aspal, seseorang menahan tubuhnya.
"Sshhh perutt ku sakit sekali," ringis Nari memegangi perutnya yang kembali dirasa kontraksi.
"Azka cepat bawa masuk ke mobil mu, kita ke rumah sakit sekarang," ujar Yasna menyuruh cucu laki-laki segara memasukan wanita yang tadi menolongnya.
"Iya Jiddah," saut Azka bergegas membaringkan Nari dibelakang bersama Jiddah nya.
15 menit kemudian mobil tiba di sebuah rumah sakit. Azka kebingungan hendak menggendong Nari sebab ada Jiddah nya.
"Engga apa-apa Azka, ini gawat darurat jadi gendong lah dia. Tapi lepas jas mu, gunakan itu sebagai alas tubuhnya agar kalian gak bersentuhan secara langsung," ujar Yasna melihat kebingungan dari wajah cucu nya.
Azka lantas menuruti perkataan Jiddah nya untuk melepas jas nya. Azka menggendong Nari dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
Perawat langsung mendorong berangkar untuk pasien. Azka lalu membaringkan Nari di berangkar dan ikut mendorongnya.
"Silahkan tunggu di luar saja ya pak, biar dokter yang menangani di dalam," kata perawat menghalangi Azka.
Azka duduk disamping Jiddah dalam keadaan gelisah. Azka takut melihat Nari yang tadi mengeluh sakit, dia takut terjadi sesuatu dengan kandungan wanita itu. Melihat Nari kembali membuat perasaan Azka gundah, rasa yang ingin dia lupakan sepertinya tidak bisa.
"Azka apa kamu mengenal wanita tadi?" Tanya Yasna memperhatikan raut wajah khawatir yang ditampilkan cucu nya itu.
"Iya Jiddah, dia mantan karyawan di toko kue bunda," jawab Azka.
__ADS_1
"Pantas saja Jiddah perhatikan kamu seperti kaget melihat wanita tadi," ujar Yasna.
"Apa yang terjadi Jiddah, Azka lihat Jiddah lari bersamanya. Siapa yang mengejar kalian?" Azka bertanya.
Yasna menceritakan awal mula mereka dikejar, dimana perempuan tadi menyelamatkan dari preman yang ingin merebut tas nya.
Dokter keluar dari ruang UGD bersama perawat yang tadi mencegah untuk masuk. Azka lantas berdiri untuk bertanya keadaan Nari.
"Dokter bagaiman keadaan pasien di dalam?" Tanya Azka.
Dokter mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Azka, "Ketuban istri anda pecah pak, kami harus lakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan Ibu dan bayi. Jadi bapak harus menandatangi surat ini."
"Maaf dokter, dia bukan istri saya," ujar Azka.
"Kalau anda bukan suaminya, bisa hubungi suaminya atau kerabat dekat untuk datang kesini agar operasi bisa dilakukan secepatnya."
Rasanya Azka enggan untuk menghubungi keluarga Argian. Ingin menghubungi saudara Nari yang dipanti juga tak mungkin mereka bisa sampai secepat itu ke bandung.
"Bisakah saya saja yang tanda tangani surat itu," ujar Azka.
"Baiklah anda yang bertanggung untuk biaya persalinan pasien di dalam,"
Azka mengangguk, "Tolong selamatkan mereka dokter, saya akan bayar berapapun biayanya."
Satu jam kemudian perawat keluar membawa bayi mungil yang telah dibersihkan untuk dibawa ke ruangan khusus bayi.
"Bapak bisa ikut saya untuk mengadzani bayi mungil ini," ujar perawat.
"Apakah ibu bayinya baik-baik saja dokter?" Tanya Azka yang terlihat khawatir akan terjadi sesuatu pada si Ibu bayi.
"Untuk itu biar dokter yang menjelaskan," kata perawat.
"Jiddah-..
"Pergilah Azka, biar Jiddah disini saja menunggu dokter keluar," kata Jiddah
Azka pun mengikuti perawat menuju ruangan bayi, saat bayi mungil berada dalam gendongannya, Azka rasanya telah sayang dengan bayi mungil dalam gendongan, dia merasa seperti sudah menjadi seorang ayah, padahal bayi tersebut bukanlah anaknya.
Usai mengumandangkan Adzan Azka menyerah kembali bayi mungil berjenis kelamin perempuan pada perawat dihadapannya.
...****************...
__ADS_1