Pengantin Pengganti Tersakiti

Pengantin Pengganti Tersakiti
66. Surat Cerai


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu setelah kepulangan oma Ayu ke Jerman. Kini kandungan Nari memasuki usia 8 bulan lebih, tinggal dua minggu lagi usia kandungannya 9 bulan. Bumil cantik yang tengah bersantai di halaman belakang tersenyum ketika mengingat sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.


"Bunda janji akan menjaga mu dengan baik sayang, ada atau tanpa papa mu. Bunda akan berusaha penuhin kebutuhan mu nanti jika papa mu benar-benar menceraikan bunda nak," ucap Nari tak sadar cairan bening telah jatuh dari pelupuk matanya.


"NARI DIMANA KAMU!!"


Nari terlonjak kaget mendengar suara Argian bergema dalam rumah.


"Apakah ini sudah saatnya kita pergi nak," gumam Nari sebelum beranjak dari tempat masuk ke dalam rumah menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu.


"Dari mana kamu, dipanggil-panggil gak dengar," ketus Argian marah.


"Aku tadi bersanti di halaman belakang mas," sahut Nari sembari ekor matanya melirik perempuan yang berada di samping suaminya.


"Kenapa kamu bawa wanita itu kesini lagi mas, apa kamu tidak memikirkan orang-orang yang melihat kalian di luar sana, akan menganggap kalian selingkuh. Meskipun perkataan mereka memanglah benar, tapi setidaknya pikirkan nama baik Bramantio," tukas Nari panjang lebar, entah dapat keberanian darimana dirinya bisa mengatakan kalimat panjang tersebut.


"Heh wanita miskin, sebelum kamu ceramah lebih dengarkan omongan Mas Argi," balas Ginara sengit.


"Tanda tangan surat cerai ini, semua sudah saya urus, kamu gak perlu pergi dari rumah ini. Karena rumah ini akan jadi milik mu. Saya juga sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening mu untuk menunjang kehidupan mu dan anak itu," jelas Argian menunjuk perut Nari.


"Kenapa harus secepat ini, apa gak ingin menunggu sampai anak kita lahir," kata Nari menatap wajah Argian.


"Anak kita? saya tidak pernah mengakui dia adalah anak ku, jadi jangan sembarangan kalau bicara," ketus Argian.


"Cepat tanda tangan wanita miskin, kami masih punya banyak urusan di luar," sambung Ginara meminta Nari agar segera menandatangani surat cerai.


"Oke baiklah." Nari akhirnya menandatangani surat cerai tersebut, meskipun hatinya sakit.


"Ambil dan pergilah dari rumah ini, ingat mas jangan menyesal suatu hari nanti. Karena aku gak akan pernah memaafkan mu, bukan tentang perceraian ini. Tetapi karena kamu tidak mau mengakui anak mu sendiri," ujar Nari.


"Itu gak akan pernah terjadi, sebab dia memang bukan anak ku," balas Argian tak ingin kalah.


Usai kepergian dua manusia tak punya hati, Nari melangkah menuju kamarnya. Nari mengeluarkan kopernya, lalu memasukan semua pakaian miliknya. Besok ia akan meninggalkan kota Jakarta dan pulang ke Bandung tempat kelahirannya.


"Aku merindukan kalian bapak Ibu, tolong bantu aku untuk menjadi wanita kuat demi anakku." Tangis Nari dalam diam.


***

__ADS_1


Nari pun tiba di depan rumah masa kecilnya, ia ke Bandung menggunakan mobil charter. Nari tampak tersenyum beberapa saat memandangi rumah masa kecilnya sebelum pundak disentuh orang, membuat wanita itu kaget.


"Kamu siapa? kenapa mandangi rumah itu senyum-senyum, rumah itu sudah lama gak ada orangnya. Anak dari yang punya rumah itu memutuskan tinggal di panti asuhan yang berada di Jakarta. Tapi Ibu lupa nama pantai asuhannya." Cerita seorang Ibu yang mengagetkan Nari.


Nari malah tersenyum, "Nama panti asuahan Cinta Kasih bukan bu?" Tanya Nari.


"Ah ya itu nama panti asuhannya," jawab Ibu Fitri.


"Ibu Fitri sudah lupa dengan Nari?" Nari malah bertanya membuat Ibu di depannya sedikit bingung, karena Nari mengenalnya sedangkan dia tidak mengenali Nari sama sekali.


"Kamu tau nama Ibu? Tadi kamu bilang Ibu lupa dengan Nari! Nari, Nari Lestari, jadi kamu..."


"Iya Ibu saya Nari, anaknya bapak Akbar dan Ibu Nur," ucap Nari yang langsung mendapatkan pelukan dari Ibu Fitri.


"Kenapa baru pulang sekarang nak, Ibu merindukan mu. Rumah kedua orang tua mu selalu Ibu bersihkan setiap minggu sekali," ujar Ibu Fitri melepaskan pelukannya, matanya melirik ke arah perut Nari yang buncit.


"Kamu sudah menikah nak?" Tanya Ibu Fitri, diangguki oleh Nari.


Ibu Fitri celingak-celinguk mencari keberadaan suami Nari, namun tidak ada satupun orang yang dia lihat bersama Nari.


Raut wajah Nari seketika berubah murung, hatinya masih sakit karena diceraikan suaminya, selain itu juga suaminya tidak mengakui anak dalam kandungannya adalah darah dagingnya.


"Kenapa nak, apa ada masalah dengan rumah tangga mu? Ayo kerumah Ibu dulu, cerita disana saja, Ibu akan dengarkan cerita mu," ucap Ibu Fitri menggandeng tangan Nari, berjalan ke arah rumahnya.


Sesampai dirumah Ibu Fitri, Nari duduk diruang tamu, semantar Ibu Fitri pergi ke dapur mengambilkan air untuknya.


"Minum dulu nak," suruh Ibu Fitri, Nari segera meraih gelas tersebut dan meneguk air putih sebelum memulai cerita.


"Kami sudah bercerai bu." Hanya itu jawaban yang Nari berikan pada Ibu Fitri. Ia tak ingin menceritakan kejelekan suaminya, maupun penyebab mengapa mereka bisa menikah.


"Jadi apa sekarang kamu memilih untuk menerap di bandung nak,"


"Iya bu, Nari akan menetap disini,"


"Ibu akan membantu mu nak,"


Nari tersenyum hangat pada Ibu Fitri. Sesudah mengobrol, Ibu Fitri mengantarkan Nari ke rumah.

__ADS_1


"Ibu pamit ya nak, kalau butuh bantuan. Panggil saja Ibu," ucap Ibu Fitri kemudian berlalu pergi meninggalkan Nari seorang diri.


"Huft! Akhirnya aku bisa kembali ke rumah ini lagi, Ibu bapak Nari rindu kalian."


Buliran bening membasahi pipi tembemnya, Nari memasuki kamar kedua orang tuanya, lalu setelah puas disana, kini berpindah ke kamarnya.


"Ah ternyata kasurnya sudah rapuh, sebaiknya aku renovasi rumah ini agar lebih kokoh lagi." Katanya.


Nari yang sudah sangat lelah sedari perjalanan memilih mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum nanti keluar berbelanja kebutuhan rumah.


****


Ditempat lainnya Farhan Bramantio mendatangi ruangan putra sulungnya.


Ceklek


"Apa yang kalian lakukan, bermesraan dikantor di jam kerja seperti ini. Apakah itu menjadi contoh yang baik hah!" Marah Farhan, sungguh putra sulungnya sudah sangat kerterlaluan.


"Ada apa pah? tumben sekali papa mendatangi ruangan ku, biasanya juga papa menelpon dulu sebelum kesini," kata Argian santai, tanpa merasa takut sedikitpun terhadap papanya.


"Papa sengaja tidak menelpon, untuk melihat langsung apa yang kau lakukan, dan papa sungguh dibuat terkejut dengan perbuatan mu ini."


Prok! Prok! Prok!


"Argian kamu ini begitu bodoh nak, sudah di campakan masih saja mau sama wanita gatel itu. Ayolah pintarlah sedikit, wanita itu cuma mengincar harta kita."


"Cukup pa, jangan menjelekan kekasih ku lagi. Gina tidak seperti itu pah," bela Argian tidak suka mendengar perkataan papa Farhan.


"Om percayalah, saya bukan wanita seperti yang om maksud. Saya sungguh benar-benar mencintai Argian dengan tulus," ungkap Ginara.


"Saya tidak akan pernah percaya pada wanita ular seperti mu. Sekarang keluar dari ruangan anak saya, saya ingin bicara berdua tanpa di dengar oleh mu," usir papa Farhan.


"Pa-


"Diam Argian jangan membantah papa."


Seketika Argian diam, tak ingin membantah papa Farhan. Sebab itu hanya membuang waktu saja. Sedangkan Ginara melangkah keluar dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2